Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 118


__ADS_3

Vani mengantarkan undangan pernikahannya pada Rahma.


"Kirain kamu nikah sama Rio. Ternyata sama orang lain." ucap Rahma dengan mata berkaca-kaca setelah membaca surat undangan yang diberikan oleh Vani. Dia tampak kecewa karena kedua sahabatnya tidak bisa bersatu.


"Kami tidak berjodoh, Ma. Jangan nangis, ya! Do'akan pernikahanku langgeng dan bahagia." hibur Vani seraya memeluk sahabat terbaiknya.


"Siapa yang mau nikah, siapa yang nangis? Gue aja yang menjalani santai aja, kenapa jadi dia yang melo?"


"Kamu dijodohkan oleh orang tua kamu?" tanya Rahma kepo.


"Awalnya dijodohkan, setelah saling mengenal, kami berdua merasa cocok. Dari pada menambah dosa lebih baik segera menikah agar tidak terjadi fitnah." jelas Vani dengan wajah berbinar.


"Apa kamu sudah bisa membuang namanya dari hati kamu?"


Vani hanya menggeleng mendengar pertanyaan dari sahabatnya.


"Aku yakin setelah menikah nanti, namanya dengan perlahan akan tergantikan oleh nama suamiku. Semoga saja aku berjodoh dunia akhirat dengan suamiku."


"Aamiin." ucap mereka serentak.


"Dia laki-laki baik dan soleh. Aku percaya kedua orang tuaku pasti memilihkan jodoh yang baik untukku. Aku hanya minta do'a kalian untuk rumah tanggaku nanti. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." ungkap Vani sendu.


*


*


*


Hari pernikahan Vani pun tiba.


"Sayang, kenapa lama sekali dandannya? Kasihan duo Ar sedari tadi merengek terus." tanya Frans di gawang pintu kamarnya.


Frans menggunakan kemeja batik dan celana bahan warna hitam. Hari ini mereka menggunakan baju couple batik. Twins juga menggunakan baju yang sama dengan kedua orang tuanya.


"Ini sudah kelar kok. Sudah yuk, berangkat!" ucap Rahma seraya mengambil tas selempangnya.


Mereka berangkat ke hotel tempat resepsi pernikahan Vani diadakan.


Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Banyak sekali tamu yang diundang oleh kedua mempelai. Apalagi mempelai pria seorang pengusaha sekaligus pemilik sebuah yayasan pendidikan. Sehingga banyak orang yang diundang.


"Selamat ya, Van! Samawa buat kalian," ucap Rahma seraya memeluk sahabatnya.

__ADS_1


"Makasih sudah mau datang dan do'ain kami," sahut Vani tersenyum melihat kedatangan Rahma bersama keluarga kecilnya.


"Selamat ya! Semoga cepat dapat momongan. Ingat dua belas anak cukup!" kelakar Frans dengan satu tangan memegang Arka, sedang satunya menyalami mempelai.


"Mak... Apa Lo bilang dua belas? Rahma, kata laki Lo dia pengen punya anak dua belas!" teriak Vani tanpa sadar, jika tidak dire mas tangannya oleh sang suami.


Vani langsung menutup mulutnya dengan tangan karena malu telah berteriak di atas pelaminan.


Tamu yang mendengar teriakan Vani hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Sheila dan Jojo juga datang, mereka sudah menikah dan memiliki anak berusia satu tahun. Sedangkan Christie dan Chico sudah memiliki anak seumuran dengan baby twins dan satu lagi berumur tujuh bulan. Hanya Rio yang datang seorang diri tanpa pendamping.


*


*


*


"Sayang, kamu ada temen nggak cewek yang single gitu?" tanya Frans ketika mereka sudah berbaring di peraduan.


"Buat apa cewek single? Buat jadiin bini kedua?" jawab Rahma jutek.


"Bukan! Aku cukup kamu seorang saja tidak akan habis hingga di akhirat nanti. Cewek itu buat sekretarisnya Rio. Aku ada rencana mau cariin dia jodoh. Kasihan tinggal dia sendiri yang masih jomblo!" jelas Frans agar istrinya tidak cemburu.


"Ngapain sih, repot-repot cariin dia pasangan? Dia sendiri tidak pernah ada niat buat cari pasangan. Nggak usah terlalu ikut campur urusan pribadi orang, Yank!" Rahma mengingatkan suaminya agar tidak terlewat batas sehingga menghancurkan persahabatan mereka nantinya.


"Kita bahas nanti aja 'lah. Capek, ngantuk, mau tidur! Met malam Kak." sahut Rahma menghindar.


"Ya udah kalau begitu, Kakak saja yang cari buat Rio!"


"Halah, paling cuma alasan kamu aja!'


"Bukan cari alasan, Sayang! Beneran niat hati cuma mau nolongin si Rio aja. Sumpah!"


Rahma tidak menanggapi suaminya, dia pura-pura tidur agar pembahasan mencari jodoh untuk Rio tidak berlarut-larut. Rahma paling tidak suka jika urusannya dicampuri orang lain, oleh karena itu dia tidak mau ikut campur dalam urusan orang lain juga.


Pagi harinya, Rahma masih kesal pada suaminya. Saking kesalnya dia pun memasak dengan wajah cemberut.


"Mama kenapa cembeyut aja sejak tadi?' tanya Bocah berusia dua tahun itu.


"Mama tidak apa-apa, Sayang. Selesai masak kita mandi, ya?" ujar bu Sarifah.


"Oo..." bibir Arsha membulat seperti huruf O.

__ADS_1


"Masak apa pagi ini, Sayang?" tanya Frans sambil mendekati anak istrinya yang berdiri di dapur depan kompor.


Rahma masih kesal pada suaminya itu yang selalu ingin ikut campur urusan Rio. Dia diam tak mau menjawab pertanyaan suaminya. Bocah berusia dua tahun itu heran dengan kelakuan ayah dan ibunya.


"Ma, Papa tanya Mama kenapa diam saja?" tanya gadis kecil itu.


"Eh, iya, Sayang!" jawab Rahma tergagap karena tadi sempat melamun memikirkan nasibnya.


"Masih marah? Aku minta maaf!" tanya Frans memeluk istrinya dari belakang.


"Aku tidak marah, hanya saja kesal dengan Kakak. Jangan terlalu ikut campur urusan orang lain walaupun itu tujuannya baik!" tutur Rahma kesal.


"Kalau kamu tidak ingin orang menyenggolmu, sebaiknya Anda jangan pernah menyenggol orang lain. Mengerti? Jika belum mengerti juga, aku tidur bersama twins!" ancam Rahma karena Frans hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaannya.


Frans pun mulai berpikir kembali untuk mencarikan jodoh untuk Rio.


"Apa aku terlalu ikut campur urusan pribadi Rio? Mungkin aku terlalu jauh mencampuri urusan Rio, sehingga dia semakin membenciku."


"Baiklah aku janji tidak akan ikut campur urusan Rio lagi. Asal kamu tidak lagi mendiamkan aku. Aku tidak sanggup kehilangan kamu," ucap Frans sendu.


Rahma pura-pura tidak mendengar janji Frans. Dia takut jika nanti Frans kembali mencampuri urusan orang lain yang nasibnya mengiba. Frans terlalu baik sehingga tidak pernah tega melihat orang lain dalam kesusahan.


"Mama, Cha mau mandi sama Mama! Cha nggak mau sama mbak." rengek Arsha seraya menarik rok ibunya.


Saat Arsha bergelayut manja pada ibunya, Arka datang ke ruang makan dengan penampilan yang sempurna.


"Mama, Abang sudah wangi!" teriak Arka seraya berlari mendekati sang ibu.


"Gantengnya anak Mama! Tadi mandi sama siapa, hmm?" tanya Rahma langsung merentangkan kedua tangannya agar anaknya bisa langsung memeluknya.


"Cama Mbak."


"Ma, aku janji. Aku tidak akan mencampuri urusan orang lain lagi. Please, maafin aku!" janji Frans sambil memeluk istrinya.


"Iyaa!" jawab Rahma sambil mengangguk.


***TAMAT***


Sampai disini kebersamaan kita bersama Frahma. Jika ada kesempatan nanti, author akan menulis kisah Rio. Terima kasih atas dukungannya selama ini, mohon maaf jika ceritanya terlalu biasa sehingga tidak menarik. Author masih dalam tahap belajar karena terus terang Author tidak pinter pelajaran bahasa Indonesia. Sehingga hanya bisa menyajikan cerita yang sangat datar dan biasa.


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN PARA READER, TANPA KALIAN SAYA BUKAN APA-APA. LOVE YOU ALL MY READERS😘😘😘

__ADS_1


JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR AGAR BISA MENGIKUTI SEMUA KARYA RECEH AUTHOR πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2