
"Non, buat minuman anget buat Tuan Muda ya?" ucap mbok Darmi.
"Jahenya masih ada 'kan, Mbok?" tanya Rahma sambil berjalan menuju kitchen set.
"Masih keknya, Non. Coba dilihat dulu di rak bumbu, sepertinya kemarin Simbok beli tapi lupa disimpan dimana," jawab mbok Darmi sambil mengisi air dalam panci untuk merebus jahe.
Setelah menemukan jahe, Rahma mencuci bersih kemudian menggepreknya hingga pipih. Rahma merebus jahe dicampur dengan gula aren dan sebutir cengkih. Tidak lupa juga menambahkan sedikit gula batu agar wedang jahe buatannya tidak pahit. (Minuman kesukaan othor nih🙊)
Setelah mendidih, Rahma menuang air jahe tersebut ke gelas dan mengantarkan ke kamar Frans.
"Tuan, minum air jahe dulu biar nggak masuk angin," kata Rahma sambil meletakkan gelas berisi air jahe di atas nakas.
Frans yang mendengar kata tuan langsung marah dan menyentak tangan Rahma hingga terjatuh dalam pangkuan Frans. Untung saat Frans menarik tangan Rahma, gelas sudah berada di atas nakas dengan posisi yang benar.
"Kamu bilang apa tadi? Tuan? Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil Tuan. Atau kamu pengen aku hukum?" tanya Frans dengan sebelah mata menyipit.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda tersinggung. Akan tetapi, Anda yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Wajar jika saya memanggil anda Tuan, saya benar-benar tidak mengenali anda saat ini," jawab Rahma tidak takut sedikitpun jika memang dia harus dihukum.
Frans mendekap erat tubuh Rahma agar tidak beranjak dari pangkuannya. Sejak tadi Rahma bergerak gelisah di atas pangkuan Frans, hendak melepaskan diri.
"Apa maksudmu tidak mengenali aku lagi? Kenapa kamu selalu menggunakan bahasa formal sejak pengkhianat itu meninggalkan rumah ini?" cerca Frans menahan emosi ketika Rahma mengatakan tidak mengenalnya lagi.
"Anda yang sekarang berada jauh dari jangkauan kami. Dulu kita adalah sahabat, sekarang hanya hubungan majikan dan bawahan. Itu terlihat jelas dari sikap anda yang tidak pernah mau mendengarkan kami."
"Asal Anda tahu, Rio bukanlah seorang pengkhianat. Rahasia anda aman bersamanya, bahkan kejelekan anda pun dia tutupi, agar orang tua anda tetap menjadi kesayangan dan kebanggaan mereka. Akan tetapi, apa yang anda lakukan sungguh membuatnya kecewa."
"Tahukah Anda, untuk menjadi maestro musik yang terkenal tidak harus memiliki sebuah band. Anda cukup mahir memainkannya dengan sepenuh hati maka akan banyak orang akan menyukai permainan musik anda. Anda rela mengorbankan kuliah demi sebuah band yang bobrok," ujar Rahma berapi-api karena sudah terlalu lama dia memendam kekesalannya.
Frans terkejut mendengar perkataan Rahma. Dia pun mulai mengendurkan dekapannya sehingga dengan mudah Rahma berdiri dan berjalan meninggalkannya sendirian.
Frans mulai memikirkan kata-kata Rahma dan mencerna setiap patah kata yang telah diucapkan Rahma. Frans diam merenung, mengingat kesalahan apa saja yang telah dibuatnya sehingga Rahma begitu marah padanya.
__ADS_1
Rahma memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas pakaian. Semua bukunya juga dia masukkan ke dalam ranselnya. Setelah semua tas terisi penuh, ternyata masih ada barang yang tertinggal karena tidak muat. Barang itu berisi kado ulang tahun dari penggemar rahasianya.
Rahma mengeluarkan barang-barang itu dari kotak, mulai menyentuhnya. Awalnya Rahma berpikir kado itu dari Frans karena dilihat dari sikap Frans kepadanya selama ini. Akan tetapi, sejak Frans berubah Rahma berpikir ulang jika kado itu dari Frans.
"Mana mungkin dia, selama ini saja dia lebih mementingkan band-nya. Kado itu juga sudah tidak aku terima lagi. Ahh, aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak mungkin."
Rahma kembali menyimpan jaket itu. Dia akan meninggalkan barang itu untuk sementara karena tasnya sudah tidak muat lagi.
Setelah memasukkan kembali kotak ke dalam lemari, Rahma pun menggendong tas ranselnya dan menenteng tas pakaiannya keluar dari kamar. Dia pamitan pada mbok Darmi dan pak Sukri.
Di bawah guyuran hujan gerimis, Rahma berjalan meninggalkan rumah mewah yang selama ini ditempatinya.
Cuaca yang gelap karena gerimis dan bergantinya siang menjadi malam, tidak menyurutkan langkah Rahma meninggalkan rumah Frans. Akan tetapi, naas tidak dapat dihindarkan. Ada sebuah mobil mewah melintas dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba terdengar suara rem mobil berdecit karena dipijak terlalu kuat.
"Aaahhhh!" jerit Rahma.
__ADS_1