
"Siap gak siap kita harus menikah jika sudah ditakdirkan menikah. Rejeki, jodoh dan maut sudah digariskan oleh Tuhan dan itu tidak akan pernah tertukar. Jadi kita harus ikhlas menjalani. Itu sih kata Pak Ustadz yang sering ceramah di yutup!" kata Tiara menasehati Rahma agar bisa menjalani pernikahannya dengan berlapang da da.
"Tumben kata-katamu kek emak-emak yang akan menikahkan anaknya. Sok bijak!" ejek Rahma, sepertinya kata-kata Tiara tidak masuk ke hati.
"Dibilang kok nggak percaya. Itu sebenarnya nasehat buat Gue, yang pada awalnya menolak menikah karena masih pengen happy. Nggak tahunya tetep aja nikah ma Bang Dolly. Lo apa yang Gue dapat dari penolakan Gue? Gue dapat malu karena Gue bunting sebelum nikah!" cerita Tiara dengan berapi-api karena melihat respon Rahma yang tidak tertarik dengan nasehatnya.
"Iya deh, iya! Bumil mah selalu benar." ucap Rahma sambil meninggalkan Tiara sendirian di dapur, lebih tepatnya meja makan karena Tiara duduk-duduk sambil menunggu Rahma selesai mencuci piring. Letak dapur dan ruang makan menyatu sehingga mereka bisa bebas mengobrol.
"Lo mau kemana? Gue belum selesai ngomong, woiy!" teriak Tiara bangkit dari duduknya mengikuti langkah kaki Rahma.
"Aku ada kelas pagi ini, dosennya sedang ada seminar di kampus lain. Jadi aku gantikan beliau mengajar. Kamu ngobrol aja sama Ibu!" jawab Rahma sambil memakai bedak bayi dan lipbalm.
"Lo setiap hari cuma pakai ginian? Emang Frans gak ada beliin Lo make up?" celetuk Tiara saat melihat kosmetik yang ada di meja rias Rahma.
"Aku tidak biasa menggunakan make up lengkap seperti kamu. Bagiku seperti ini saja sudah cukup. Ini nggak ada hubungannya sama Frans. Jangan bahas dia lagi, ok!" jelas Rahma kesal.
Tiara yang mendengar jawaban dari Rahma terkejut, ternyata sampai sekarang Rahma masih menutup pintu hatinya untuk Frans. Mereka sudah lama saling mengenal dan akrab, akan tetapi Rahma tidak tertarik pada Frans. Padahal dulu sewaktu masih SMA saja, Tiara begitu tergila-gila pada Frans. Hanya saja jodoh dia kakak Frans.
"Hmm, Ma! Boleh tanya gak? Lo sudah tahu siap pengagum rahasia Lo sewaktu SMA?" tanya Tiara hati-hati mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Entah, mana kutahu! Kado itu kuterima saat masih SMA saja. Setelah kuliah dua tahun hampir tiga tahun, nggak ada tuh kado dari dia lagi." jawab Rahma cuek sambil mengambil tas dan buku diktat kuliah.
"Aku buru-buru, nanti lagi disambung! Aku belum siapkan materi." lanjut Rahma sambil berjalan cepat meninggalkan Tiara di kamarnya.
Tiara yang melihat betapa gesitnya gerakan Rahma hanya bisa terbengong diam di tempat.
*
*
*
Frans langsung bekerja begitu akan menikah. Dia tidak ingin berpangku tangan pada ayahnya. Baginya menafkahi Rahma adalah kewajibannya.
"Frans, kamu dipanggil bos! Bawa sekalian laporan yang kemarin kamu buat." ucap salah seorang karyawan di tempatnya bekerja.
Frans kuliah sambil bekerja, walaupun tidak full jam kerjanya. Dikarenakan ayahnya juga memiliki saham di perusahaan tersebut, Frans cukup disegani oleh karyawan lain.
"Ok, siap!" jawab Frans sambil menyiapkan berkas pekerjaannya, kemudian dia pun berjalan menuju ruangan manajer yang menaunginya.
__ADS_1
Frans mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan tersebut.
"Permisi, Pak. Ini laporan yang Bapak minta," ucap Frans seraya mengangsurkan map berisi laporan yang diminta oleh manajernya.
"Kamu duduk dulu, biar aku cek sebentar!" perintah manager.
Manajer tersebut menerima dan mulai memeriksa laporan yang dibuat Frans. Cukup lama waktu yang digunakan untuk meriksa laporan itu. Kadang kala dahi manajer itu mengerut saat membaca, kadang juga tersenyum tipis. Semua itu tidak luput dari perhatian Frans. Frans pun menunggu sampai was-was takut membuat kesalahan yang fatal.
"Cukup bagus untuk pemula seperti kamu!" kata manajer itu tiba-tiba, sehingga membuat Frans terjengit kaget.
"Terima kasih, Pak," sahut Frans sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil laporan yang telah diperiksa oleh manajer itu.
"Kamu harus lebih banyak belajar lagi, agar laporan yang kamu susun menjadi lebih sempurna. Di sini sudah ada beberapa coretan yang harus kamu perbaiki. Aku tunggu kamu perbaiki laporan ini. Satu jam dari sekarang, jika lebih aku akan minta orang lain mengerjakannya. Kamu tahu 'kan maksudnya?" jelas pak manajer panjang lebar, akan tetapi hanya diangguki oleh Frans.
Sudah Senin aja nih, othor mau malak boleh? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini ya, berupa Like, komen dan vote/gift tentunya!
Secangkir dua cangkir boleh kok, untuk menemani othor menulis biar tambah semangat. Atau seikat mawar juga mau.
Terima kasih atas dukungan kalian 🤗🤗🤗😘😘😘😘
__ADS_1