Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 90


__ADS_3

"Kok Gue? Gue 'kan nggak ngapa-ngapain, kenapa disalahin?" tanya Tiara pura-pura polos.


"Gara-gara kamu tadi, masih subuh sudah ribut merintih nggak berhenti! Padahal hanya kontraksi palsu kek biasanya..."


"Sudah nggak usah ribut lagi. Berisik!" potong bu Sarifah menengahi.


Tiara dan Rahma langsung terdiam sambil memainkan mata dan bibir untuk melanjutkan perdebatan.


"Frans, kamu hubungi Dolly! Suruh dia jemput istrinya, bilang tempat Tiara bukan di sini tapi di mana suaminya tinggal." kata bu Sarifah meminta bantuan Frans untuk menghubungi Dolly.


"Baik, Bu. Nanti Frans hubungi dia, setelah sampai di kantor," jawab Frans patuh.


Sementara itu perdebatan antara Tiara dan Rahma masih terus berlanjut walaupun menggunakan bahasa isyarat.


"Kalian berdua sudah besar, sudah tahu rasanya nikmat dunia. Akan tetapi sikap kalian seperti anak kecil yang berebut mainan." ucap bu Sarifah tanpa melihat Tiara ataupun Rahma.


"Nyah, sarapannya sudah siap. Mau dihidangkan sekarang atau nanti?" tanya asisten rumah tangga yang bertugas memasak.


"Sekarang saja! Biar mereka semua diam. Sibuk dengan makanan lupa untuk berantem." jawab bu Sarifah menyindir Tiara dan Rahma yang sedang berantem.


*


*


*

__ADS_1


Perut Christie kembali seperti diaduk-aduk. Christie hanya memuntahkan cairan saja sejak tadi karena perutnya belum terisi makanan.


Agatha yang mendengar suara orang muntah dari kamar anaknya pun mendekat. Dia penasaran dengan suara yang mirip seseorang sedang mengalami morning sickness.


Agatha menemukan Christie duduk di lantai menghadap ke kloset. Wajah Christie pucat karena kekurangan cairan. Sudah beberapa hari ini Christie kehilangan nafsu makannya. Sehingga badannya lemas tak bertenaga, apalagi dia setiap saat memuntahkan cairan dalam perutnya karena rasa mual yang begitu hebat.


"Kamu kenapa lagi, Christie?" tanya Agatha panik.


Agatha mendekati anaknya kemudian membantu berdiri dan menyuruh Christie untuk rebahan saja di kamar.


"Mom, minum," pinta Christie lemas.


"Iya, sebentar. Biar diambil Bik Nah!" jawab Agatha sambil memencet interkom yang ada di kamar itu.


Tak berselang lama, seorang asisten rumah tangga datang membawa segelas air jahe untuk Christie.


"Tidur aja, Mom!" jawab Christie lesu sambil menyurukkan kepalanya ke bantal. Christie menarik selimutnya hingga menutupi lehernya, dia tidur dengan posisi meringkuk memeluk guling.


Satu jam kemudian dokter keluarga yang dipanggil untuk memeriksa Christie datang. Bik Nah yang dipercaya di keluarga itu mendampingi dokter tersebut memeriksa Christie.


"Bagaimana keadaan Non Christie, Dok?" tanya bik Nah setelah dokter selesai memeriksa.


"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja. Di sana alatnya lebih lengkap. Saya tidak bisa memberi kepastian tentang penyakit Nona Christie," jelas dokter yang sudah berumur setengah abad itu.


"Begitu ya, Dok? Nyonya dan Tuan tidak ada di rumah, mana saya berani membawa Non Christie ke rumah sakit tanpa persetujuan dari mereka." terang bik Nah dengan jujur.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kamu tebus saja obat ini di apotik. Obat ini untuk mengurangi rasa mual pada Nona Christie," saran dokter pada bik Nah.


"Baik, Dok. Terima kasih." jawab bik Nah sambil mengikuti dokter itu keluar dari kamar nonanya.


"Huftt! Dokter tidak mau menjelaskan sakit gue, berarti masih aman. Semoga aja masih aman sampai besok!" gumam Christie pelan.


*


*


*


"Mas, bisa minta tanda tangannya?" ucap bu Sarifah ketika pak Dewa datang berkunjung saat jam makan siang.


"Tanda tangan buat apa?" tanya pak Dewa sambil memegang cangkir berisi teh hijau buatan istri tercinta.


"Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Selama menjadi istrimu banyak salah dan khilafku," ujar bu Sarifah sambil duduk di dekat pak Dewa dengan memegang selembar kertas dan bolpoin.


"Kamu ngomong apaan sih? Terus ini apa?" tanya pak Dewa meletakkan cangkirnya kembali setelah menyesap minumnya sedikit.


Bu Sarifah menyodorkan kertas dan bolpoin yang dipegangnya pada pak Dewa.


"Apa maksudnya ini?" teriak pak Dewa saking terkejutnya saat membaca isi tulisan dalam kertas tersebut.


"Aku menunggu waktu yang pas untuk menikah ulang agar halal menyentuhmu. Kamu malah mengajukan gugatan cerai! Apa sebegitu bencinya kamu padaku?" jujur pak Dewa, padahal dia ingin memberi kejutan nikah ulang. Ternyata dia yang terkejut terlebih dahulu karena gugatan cerai dari istrinya, bu Sarifah.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak mau merusak rumah tangga Mas dengan istri Mas yang sekarang. Aku dan Rahma sudah terbiasa hidup berdua, sedangkan Mas dan istri Mas yang sekarang selalu bersama belasan tahun. Akan susah melupakan orang yang mendampingi kita selama belasan tahun. Jadi aku mohon, Mas setujui permintaanku!" kata bu Sarifah panjang lebar.


__ADS_2