Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 111


__ADS_3

Pak Dewa pergi ke kampung halaman bu Sarifah keesokan harinya, setelah acara pertunangan Christie. Pak Dewa memang mempersiapkan acara pertunangan Christie dengan baik. Dia tidak ingin orang lain tahu jika Christie bukan anak kandungnya.


Agatha dan Dewa sepakat berpisah dan menutup rapat informasi, tentang keadaan rumah tangga mereka selama ini. Walau bagaimanapun juga, nama baiknya harus tetap dijaga agar perusahaan tetap bertahan. Selain itu juga, Dewa ingin membuka usaha sendiri. Jika terdengar rumor yang buruk, takutnya akan menghambat usahanya.


"Akhirnya sampai juga! Capek juga ternyata, bawa mobil dari ibu kota ke sini." batin pak Dewa begitu memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


Matahari masih malu-malu di peraduannya karena pagi baru saja menyambut. Pak Dewa sampai di rumah ini jam enam pagi. Lampu rumah para warga masih ada yang menyala.


Pak Dewa mengetuk pintu berulang kali, hingga tak lama kemudian terdengar suara seseorang menarik gerendel pintu. Pintu pun terbuka.


"Mas Arya?"


Bu Sarifah terkejut mendapati suaminya berada di depan pintu rumahnya di pagi buta.


"Sari... aku minta maaf!" ucap pak Dewa begitu pintu terbuka.


"Masuk dulu, Mas!" perintah bu Sarifah seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Pak Dewa masuk kemudian duduk tanpa disuruh.


"Aku ke sini karena ingin menjemput kamu. Kita menikah lagi dan tinggal di kota. Aku mohon!"


Tiba-tiba pak Dewa bersujud di kaki bu Sarifah sambil memohon.


"Mas Arya kenapa? Datang tiba-tiba, terus sekarang memohon seperti ini. Mas Arya sakit?" cerca bu Sarifah keheranan.


"Aku tidak mau mau kita bercerai. Mari menikah lagi agar kita tetap sah secara agama dan negara." pak Dewa kembali mengajak bu Sarifah menikah ulang.


"Kalau kita menikah, bagaimana dengan istrimu yang di sana?" jawab bu Sarifah datar dengan pandangan mata kosong.


"Kami sudah bercerai. Kami sama-sama tidak ingin hidup dalam sandiwara lagi. Oleh karena itu, aku mohon sama kamu. Kita menikah ulang dan tinggal di ibu kota." jelas pak Dewa kembali memohon pada bu Sarifah.

__ADS_1


"Demi janda sepertiku kamu tega menjandakan istrimu!" ejek bu Sarifah tersenyum miring.


"Aku tidak pernah menceraikan kamu. Kita pisah karena aku amnesia. Berarti kita tidak pernah bercerai. Kita menikah ulang agar kembali sah. Karena sakitku jadi mengabaikan dirimu dan Rahma. Kita menikah secara siri karena pernikahan kita masih terdaftar di negara." pak Dewa kembali menjelaskan agar Sarifah mau diajak menikah ulang.


"Aku pikirkan nanti! Aku mau masak dan mencuci pakaian dahulu." jawab bu Sarifah datar.


Bu Sarifah pun meninggalkan pak Dewa sendiri di ruang tamu. Seraya menunggu istrinya membuatkan minum, pak Dewa berselancar dengan ponselnya. Dia menghubungi anak-anak jika dia sudah sampai di kampung halaman bu Sarifah. Dia juga menyampaikan jika akan menikah ulang dengan Sarifah.


Pak Dewa yang kelelahan membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di ruang tamu. Pak Dewa tertidur pulas hingga bu Sarifah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah.


"Aku pikir tadi dia pergi, ternyata tidur di sini. Pantas saja sedari tadi sunyi." gumam bu Sarifah lirih.


Bu Sarifah pun membangunkan pak Dewa untuk makan, tadi saat baru datang Bu Sarifah lupa menawarkan makan. Hanya membuatkan segelas teh manis ditemani roti kering.


"Mas, bangun sudah jam sepuluh. Mas Arya makan dulu, tadi pasti belum makan 'kan?" ucap bu Sarifah seraya mengguncang tubuh pak Dewa agar segera bangun.


Pak Dewa yang merasa ada yang mengguncang tubuhnya pun terbangun. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian duduk sambil menguap.


"Iya, lurus aja ke belakang. Pintu terakhir itu menuju kamar mandi." jawab bu Sarifah sambil menata makanan di atas meja.


Pak Dewa langsung keluar, untuk mengambil tas pakaian miliknya yang masih berada di dalam mobil. Setelah itu beliau mengambil baju ganti.


"Bisa pinjam kamar?" tanya pak Dewa lagi setelah masuk ke rumah.


"Pakai saja kamar Rahma, tidak ada yang menempati!" jawab bu Sarifah.


Saat pak Dewa ke kamar mandi, ponsel milik bu Sarifah berbunyi.


"Bu, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Rahma setelah mengucapkan salam.


"Ibu baik-baik saja. Kalian bagaimana di situ?"

__ADS_1


"Bu, Rahma ingin meminta sesuatu pada Ibu. Boleh?"


"Mau minta apa? Kamu sendiri 'kan tahu, Ibumu ini tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu. Selain kasih sayang tentunya."


"Ayah sudah bercerai dari istri keduanya. Maukah Ibu menikah ulang dengan Ayah? Rahma ingin sekali Ayah dan Ibu bersatu seperti dulu lagi. Kesalahan bukan sepenuhnya dilakukan oleh Ayah. Ayah hanya korban penipuan saja. Ibu mau ya, menikah ulang dengan Ayah? Ya? Ya?" ucap Rahma panjang sehingga ibunya pun merasa bosan mendengarnya.


"Ibu belum tahu, Ma. Ibu masih bingung. Tidak tahu harus bagaimana. Ayahmu meminta menginap di rumah ini, warga pasti akan menggrebek kami. Mereka pasti berpikir jika Ibu menjadi seorang simpanan. Padahal dia suami Ibu walaupun hanya secara negara bukan agama." jawab bu Sarifah.


"Makanya Ibu dan Ayah nikah ulang saja. Tidak perlu ada pesta ataupun pergi ke KUA. Yang penting memanggil penghulu dan beberapa saksi. Ibu nikah siri aja, toh pernikahan kalian masih terdaftar."


"Nanti malam Ibu akan memberikan keputusan. Apapun itu, Ibu harap kamu tidak kecewa!" ujar sang Ibu.


"Baik, Bu. Rahma sayang Ibu. Muuaachhh!" kata Rahma sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.


Bu Sarifah pun menjadi bimbang. Antara menerima dan menolak. Pak Dewa pergi meninggalkan dirinya dan Rahma dalam kemiskinan. Masih ada rasa sakit hati yang membekas. Walaupun dia sudah tahu apa yang terjadi, namun dia belum bisa menerima dengan lapang.


Bu Sarifah melamun memikirkan permintaan anak dan suaminya. Dia tidak menyadari jika suaminya sudah selesai mandi dan berpakaian, bahkan sudah duduk di depannya hendak makan.


"Ekhemm... masih pagi untuk melamun. Memikirkan apa?" tegur pak Dewa seraya mengambil piring dan mengisi piring tersebut dengan nasi beserta sayur dan lauk pauknya.


Bu Sarifah pun terkejut karena tiba-tiba suaminya sudah berada di depannya. Bahkan sudah duduk dan mengambil makan untuk dirinya sendiri.


"Maaf! Mas Arya jadi mengambil makan sendiri," kata bu Sarifah begitu tersadar dari lamunannya.


"Aku sadar, begitu besar salah dan dosaku padamu. Namun, apakah salah jika aku ingin memperbaiki semuanya? Aku hanya ingin membina rumah tangga kita lagi. Kita memulai semuanya dari awal. Sama seperti dulu." ucap pak Dewa lirih kemudian menyendok nasi dan memasukkan ke mulutnya.


Taqaballahu Minna wa Minkum


Taqobal ya Karim


Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT dan bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan tahun depan.

__ADS_1


Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf 🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2