
Aku senang semuanya ikut membantu, sampai Pak Ardi juga ikut membantu. Hingga sore hari kami menyudahi semuanya, kasihan juga teman-teman ku sudah sore hari.
"Pak sudah sore hari, memangnya Bapak sedang tidak ada pekerjaan ? Tanyaku pada Pak Ardi
*Gak ada, hari ini gak ada kegiatan makanya tadi ngajak belanja. Eh ini katanya karya kamu ada teman Bapak yang tertarik dan besok ingin lihat"
"Silahkan Pak dengan senang hati"
"Mudah-mudahan karya kamu banyak diminati ya ?"
"Aamiin, iya Pak mudah-mudahan"
"Kalau gitu Bapak pulang dulu ya, besok di kabarin lagi !"
"Iya Pak hati-hati"
"Semuanya, saya pulang dulu !"
"Iya Pak terima kasih dan hati-hati di jalan !"
Hingga kemudian, teman-teman ku juga pada pulang. Aku sendiri langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk pergi ke mesjid bersama Pak Jamal untuk melaksanakan sholat maghrib. Semoga kali ini usahaku lancar tidak ada lagi hambatan. Setelah pulang dari mesjid, aku belajar untuk besok. Saat itu lagi-lagi ada telpon dari Ibu
"Assalamu'alaikum Bu !"
"Wa'alaikumsalam, gimana udah ada uangnya belum ?"
"Belum Bu, kerjanya baru aja mulai"
"Ah kamu pemalas, cepat dong ! Kalau bisa buat ngontrak aja, disini gak betah tinggal bareng sama paman kamu"
"Iya Bu, nanti aku usahakan"
"Jangan cuma ngomong doang, kamu harus dapat uang sesegera mungkin"
"Iya Bu, aku sedang berusaha sekarang ini lagi bikin karya baru bikin kerajinan dari batang pohon. Do'a in aku ya Bu semoga usahaku lancar !"
"Kalau masalah itu gak peduli mau uangnya dari hasil apa juga gak masalah yang penting dapat uang banyak. Pokoknya di tunggu, jangan lama-lama !"
"Iya Bu, aku ..... " telponnya langsung di tutup
Astaghfirullah sabarkanlah aku ya Allah, semoga rezeki ku lancar agar bisa ngirim uang sama Ibu. Setelah itu aku langsung tidur, seperti biasa malam hari aku bangun untuk melaksanakan sholat malam. Pagi harinya aku sekolah seperti biasa, saat masuk ke dalam kelas aku menemukan sesuatu di bangku sekolah ku. Ada sebuah kertas lalu aku baca "Jangan belagu jadi orang, jangan mentang-mentang lu terkenal dan berprestasi. Gua diam bukan karna gua kalah, sampai kapanpun gua akan terus menghancurkan lu tidak akan rela lu menang"
Sepertinya aku tau siapa yang mengirim pesan ini, aku tidak menghiraukannya. Aku gak pernah takut sama siapapun, aku punya Allah yang akan selalu melindungiku. Sepulang sekolah seperti biasanya kita langsung ke rumah ku, Setelah sampai di rumah, kita semua makan bersama yang telah di siapkan oleh Pak Jamal.
"Yas, kapan Pak Ardi datang ?" tanya Dimas
"Gak tau mungkin sebentar lagi"
"Mudah-mudahan ada yang membeli kerajinannya" ucap Adin
"Aamiin mudah-mudahan"
Hingga kemudian datanglah Dek Dian dan teman-temannya, mereka membawa barang-barang bekas.
"Eh Dek, sini kalian semua sudah pada makan belum ?" mereka hanya senyum-senyum
"Sini kalian makan dulu, kita makan bareng cuci tangan dulu sana !" ucap Pak Jamal
__ADS_1
Mereka langsung bersemangat ada sekitar 8 orang yang datang dan mereka masih pada bocah semua mungkin yang paling besar sekitar umur 11 tahun an.
"Sebagian lagi kemana, ko cuma segini ? tanyaku
"Yang lainnya lagi pada jalan kak" ucap Dian
"Oh masih pada ngider ya ? Kemarin kata kamu sekitar 15 orang. Oh ya yang paling besar umurnya berapa ?"
"14 tahun Kak, tapi ada juga orang dewasa"
"Wah masih pada kecil ya, jadi kalian semua tinggalnya bareng-bareng ?"
"Iya Kak"
"Kalau yang dewasa ada berapa orang ?"
"Banyak kak, ada yang satu keluarga juga kami semua tinggal di kolong jembatan"
"Oh iya, tapi dari dulu kalian tinggal di sana ?"
"Kita pindah-pindah kak, kadang suka ada satpol PP yang mengusir kami"
"hmmmm iya, yasudah sekarang kalian makan dulu aja !"
Mungkin kami (aku dan Pak Jamal) bukan orang berada yang bisa berbagi makanan untuk orang lain. Makanannya juga seadanya bukan makanan mewah, tapi kita tidak pernah merasa takut habis atau tidak cukup. Aku yakin rezeki sudah ada yang mengatur, aku suka berbagi walaupun keadaan ku sulit. Setelah selesai makan, kita istirahat dulu sebentar sambil memberitahu mereka tentang pekerjaan yang akan mereka lakukan. Untuk sekarang ini mereka membantu mencuci barang bekas agar bersih, kemudian setelah itu kita ajarin mereka untuk selanjutnya.
"Anak-anak, botolnya coba kalian gunting ya dan ikuti Kak Arya"
"Iya Kak"
"Anak-anak sama Kak Arya ya bikinnya, eh sudah pada kenal belum dengan Kakak-kakak ini ?" ucap Arya
"Nama kakak Arya ya yang itu Kak Adin, Kak Tomi, Kak, Dimas, Kak Jefri, dan itu Kak Arif. Yang tadi ngobrol sama kalian yang tinggi putih itu Kak Ilyas yang punya kerajinan ini" ucap Arya sambil memperkenalkan yang lainnya
"Iya Kak"
anak-anak ini ada laki-laki dan perempuan juga, mereka terlihat ceria sekali lagi masa-masanya bermain tapi mereka harus bekerja. Hingga setelah sekitar satu jam kita bekerja datanglah sebuah mobil dan itu mobilnya Pak Ardi. Saat turun dari mobil ada 2 orang lagi yang turun dari mobil, seorang pria dan wanita.
"Assalamu'alaikum !"
"Wa'alaikumsalam"
"Yas ini perkenalkan Pak Rudi dan ini Bu Silvi"
"Saya ingin melihat hiasan yang dari bambu itu dek" ucap Bu Silvi
"Iya Dek, Bapak penasaran seperti apa"
"Ayo Pak, Bu ikut Ilyas !"
"Dek Ilyas ini sekolah kelas berapa ? tanya Pak Rudi
"Saya kelas 1 SMA Pak"
"Sudah lama Dek, bikin kerajinan-kerajinan gini ?" tanya Bu Silvi
"Belum Bu, mungkin sekitar satu tahunan. Awalnya dulu bikin robot-robot dan benda-benda elektronik terus kemudian aku gabung dari kerajinan tangan dan elektronik. Dan yang ini masih baru, aku masih belajar" sambil memberikan kerajinan hiasan rumah-rumahan ku pada mereka
__ADS_1
"Waw bagus sekali dek, detail banget pahatannya. Ini benar-benar luar biasa" ucap Pak Rudi sambil memperhatikan kerajinan ku
"Bagus ya Pak, ini katanya bisa nyala di ruangan gelap ? tanya Bu Silvi
"Iya Bu, coba simpan di tempat gelap !" ucap Pak Ardi
hiasannya di simpan di bawah meja dan lampunya langsung menyala.
"Aduh bagus banget Dek, baru kali ini ada yang seperti ini. yang ini mau dijual berapa ?" ucap Bu Silvi
"Hee aku gak tau Bu"
"Kalau Ibu beli 100 gimana ?"
"100 ribu Bu, iya silahkan saja"
"Bukan 100 ribu dek, masa karya sebagus ini di bayar murah. Maksud Ibu 100 juta, gimana mau gak ?"
"Apa Bu, 100 juta ?" mendadak kakiku lemas
"Iya pengen Ibu beli, ingin di simpan di kantor Ibu buat hiasan. Gimana mau gak ?"
"Ya Allah terima kasih banyak, itu besar sekali Bu iya Bu saya mau"
"Deal ya, sekarang sudah Ibu beli ?$ sambil bersalaman dengan ku
"Iya Bu, terima kasih banyak Bu"
"Sama-sama, uangnya mau di kirim lewat rekening atau tunai ?"
"Rekening aja Bu, sekali lagi terima kasih banyak Bu. Aku gak nyangka bisa setinggi itu"
"Karya jerih payah sendiri itu harus mahal, membayar bakat dan ide harus sesuai dengan yang kamu lakukan. Jarang ada orang kreatif dan pintar seperti kamu, punya bakat yang luar biasa*
"Alhamdulillah Pak, semua ini atas izin dan kuasa dari Allah"
"Kamu benar Dek, ini cuma ada satu ya hiasannya ?" ucap Pak Rudi
"Hee iya Pak, soalnya baru bikin kerajinannya"
"Aku juga pesan ingin bikin denah bank" ucap Pak Ardi
"Kalau gitu Bapak ingin gedung bertingkat, bisa ? Soalnya untuk di simpan di tempat kerja juga"
"Pak Rudi ini CEO di perusahaan salah satu properti di kota ini dek" ucap Pak Ardi
"Ah enggak Dek biasa saja, gimana bisa gak tapi ukurannya ingin lebih besar dari ini nanti di kirim gambarannya seperti apa"
"Iya Pak baik, saya bisa Pak"
"Ok nanti di kirim seperti apa, kalau bisa ukuran 1x1,5 meter. Nanti kalau hasilnya memuaskan akan Bapak beli 500 gimana ?"
"Juta Pak ?" aku kembali menanyakan seakan tak percaya
"Iya 500 juta akan Bapak bayar, gimana ?"
"A-aku iya Pak aku setuju"
__ADS_1
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi, Allah memberikan kuasanya. Aku berdo'a ingin diberi 100 tapi Allah memberinya 1 juta. Begitulah kira-kira misalnya, rezeki sungguh tak terduga.