Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 70


__ADS_3

"Kalian mau pesan apa?" tanya Frans pada ketiga temannya.


"Dasar nggak ada akhlak Lo! Main selonong aja, kita ditinggal. Emang ya Lo gak peka sama sekali!" omel Vani dengan nafas terengah-engah karena tadi dia sedikit berlari mengejar Frans yang berjalan duluan.


Saat Vani asik mengomel, Rahma baru saja menginjakkan kakinya di kantin.


"Noh lihat, pujaan hati Lo berjalan paling belakang sendiri. Nanti kalau ada yang deketin dia Lo mabuk nggak jelas. Dasar!" Vani kembali mengomel karena Frans tidak peka sama sekali pada perempuan.


"Terus Gue harus bagaimana?" tanya Frans bingung.


"Ya, Lo deketin dia 'lah. Lo berjalan belakangan biar dia duluan. Ini ditinggal begitu saja. Akhirnya Rio yang selalu dengan setia menemani dia dan Lo cemburu. Ckckck!" jawab Vani berdecak kesal.


"Okelah, lain kali Gue begitu!" ucap Frans sambil mengangguk.


"Mo*nyet Lo! An*jeng! Ba*bi!" umpat Rio pada Frans karena telah meninggalkan Rahma bersamanya.


"Sorry Bro! Lain kali enggak lagi." jawab Frans sambil mengangkat kedua tangannya.


"Emang an*jeng Lo!" Rio kembali mengumpat sambil meninju lengan Frans.


"Penghuni kebun binatang hadir semua di sini." sahut Vani sambil nyengir menampakkan giginya.


"Kalian kenapa sih? Kok pada berantem." tanya Rahma bingung melihat tingkah kedua sahabat laki-lakinya.


"Biasa, Ma! Ada orang nggak peka tapi pe*kok." sindir Vani.

__ADS_1


Frans yang mendengar sindiran yang ditujukan padanya hanya meringis saja, tidak tahu harus menjawab apa.


Mereka berempat makan sambil bercanda setelah pesanan datang sesuai selera. Bahkan mereka saling merasai makanan milik teman karena beda pesanan.


*


*


*


Pak Dewa berencana untuk pulang ke kampung halaman istrinya. Sudah belasan tahun tidak bertemu membuat rasa rindunya membuncah. Pak Dewa pergi tanpa sepengetahuan istri, Agatha.


Saat sedang memeriksa berkas laporan, ponsel pak Dewa berdering. Pak Dewa segera melihat ponselnya, ternyata panggilan dari mantan orang kepercayaannya dulu.


"Ya, Ris. Ada apa?" ucap pak Dewa.


"Kapan kita bertemu?"


"Kalau bisa secepatnya, Pak. Ini menyangkut nama baik Bapak dan mahasiswi di kampus saya,"


"Baiklah, kita ketemu saat jam makan siang. Sekitar satu jam lagi. Di kafe biasanya, dekat kampus."


"Terima kasih, Pak," ucap Haris sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


Pak Dewa pun segera menyelesaikan pekerjaannya karena malam ini dia berencana akan berangkat ke kampung halaman istrinya.

__ADS_1


Setelah selesai, pak Dewa segera meninggalkan ruangannya.


"Din, nanti kalau ada yang cari bilang saja makan siang bersama klien!" ujar pak Dewa saat melewati sekretarisnya.


"Siap, Pak," jawab sang sekretaris sambil menunduk.


Haris dulu asisten pribadi pak Dewa, Haris mengundurkan diri karena merasa tidak suka dengan sikap Agatha yang selalu merendahkan dirinya. Awalnya Haris diam saja setiap kali dihina dan direndahkan oleh istri atasannya, akan tetapi akhirnya dia mengundurkan diri juga karena tidak tahan.


Sikap baik pak Dewa selalu diingat Haris, jadi jika ada yang berniat menghancurkan pak Dewa, Haris berada di barisan terdepan untuk membela.


Sesuai waktu yang dijanjikan oleh keduanya, akhirnya mereka bertemu di kafe. Kafe itu juga tempat di mana pak Dewa bertemu Rahma dan difoto oleh orang yang tidak bertanggungjawab.


"Sudah lama, Ris?" sapa pak Dewa ketika di depan Haris yang sudah duduk di pojokan.


"Baru Lima menit, Pak," jawab Haris sambil berdiri menyalami mantan bosnya itu.


"Apa penting sekali, kok kamu memintaku secara khusus untuk bertemu?" tanya pak Dewa sambil duduk di depan Haris.


"Bisa dibilang penting, bisa juga tidak. Akan tetapi, ini menyangkut nama baik Bapak. Selain itu saya juga sudah kangen ngobrol dengan Bapak," terang Haris.


"Kenapa? Apa Christie membuat masalah di kampus?" ujar pak Dewa menanyakan tentang anaknya, lebih tepatnya anak sambung karena mereka tidak memiliki hubungan darah.


"Tidak. Bukan Christie tapi anak Bapak yang satunya lagi," sahut Haris.


"Dennis? Kenapa dia, bukankah dia belum kuliah?"

__ADS_1


"Ini tidak ada hubungannya dengan anak Bapak dengan ibu Agatha. Akan tetapi anak kandung Bapak," jelas Haris.


"Apa yang kamu ketahui tentang anak kandungku? Ceritakan secara lengkap, aku sangat merindukan mereka," perintah pak Dewa dengan sendu, tampak jelas kerinduan di matanya.


__ADS_2