
"Harap maklum, dia jatuh cinta pada Rahma sejak SMA. Jadi wajar jika bucin banget ke Rahma!" sahut Rio.
"Uhukk... uhukk..." Rahma tersedak ketika Rio mengatakan bahwa Frans mencintainya sejak SMA.
Rio yang melihat Rahma tersedak pun merasa tidak enak. Rio baru menyadari jika Frans belum membuka rahasianya di hadapan Rahma.
Vani langsung menepuk punggung Rahma pelan, kemudian mengusap-usapnya.
"Lo kenapa sih? Begitu aja tersedak." tanya Vani dengan polosnya.
"Nggak apa-apa, cuma kepedasan aja baksonya." bohong Rahma setelah selesai menenggak air putih.
Rahma terkejut mendengar pengakuan Rio, selama ini Frans tidak pernah bilang jika dia sudah mencintai Rahma sejak SMA. Memang Frans pernah mengutarakan isi hati padanya. Akan tetapi Rahma tidak tahu jika rasa cinta itu ada sudah sejak lama.
"Berarti benar dugaanku, kata Frahma berasal dari kata Frans dan Rahma. Kenapa dia tidak berterus terang saja?" .
"Ck, biarkanlah! Aku juga akan pura-pura tidak tahu saja. Aku ingin tahu sampai kapan dia akan merahasiakan semua ini." batin Rahma
"Ma, Rahma!" teriak Vani sambil menggerakkan tangannya di depan mata Rahma.
"Ma, Lo ngelamun ya?" ucapnya kemudian.
"Eng, enggak kok. Yuk, lanjut makan!" elak Rahma sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mereka bertiga melanjutkan makan dengan tenang
*
*
*
Dennis menceritakan pertemuannya dengan sang mommy pada daddy-nya.
"Apakah Daddy akan menceraikan Mommy?" tanya Dennis begitu selesai menceritakan kejadian tadi siang.
"Mungkin. Kenapa?" jawab pak Dewa singkat padat dan jelas.
"Apa hubungan Mommy dan Daddy tidak bisa diperbaiki lagi?"
"Tidak ada yang perlu diperbaiki. Hubungan kami sudah salah sejak awal. Daddy hanya tidak ingin menambah kesalahan dan selalu merasa bersalah sepanjang sisa umur Daddy."
"Hhh!"
Dennis menunjukkan raut wajah kecewa, walaupun ibunya salah. Akan tetapi dia menginginkan sebuah keluarga yang utuh. Dia ingin merasa dicintai dan disayangi kedua orang tuanya, seperti teman-temannya yang memiliki keluarga bahagia.
Sebagai seorang anak, dia juga tidak bisa memaksa kedua orang tuanya tetap bertahan dalam keadaan seperti ini. Hidup penuh sandiwara hanya untuk citra baik di mata umum. Bersandiwara seolah-olah pernikahannya baik-baik saja.
__ADS_1
"Terserah Daddy kalau begitu. Dennis hanya berharap memiliki sebuah keluarga utuh yang hangat. Tidak seperti saat ini, Daddy dan Mommy masih dalam ikatan pernikahan. Namun, seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap." ungkap Dennis seraya membuang nafas panjang.
Pak Dewa tahu bagaimana perasaan anaknya tapi dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi bersama Agatha.
"Maafkan Daddy! Daddy memilih mengakhiri sandiwara ini. Semoga nanti kita bisa menemukan kebahagiaan tanpa Mommy kamu," ucap pak Dewa.
"Sudah waktunya makan malam, kamu ingin makan di sini atau di luar?" sambung pak Dewa.
"Dennis sebenarnya ingin masakan rumahan tapi tidak ada asisten rumah tangga di sini." keluh Dennis.
"Kita bisa makan masakan rumahan kalau kamu mau. Bagaimana, kita pergi sekarang?" jawab pak Dewa.
"Boleh!" jawab Dennis antusias.
Mereka berdua pun meninggalkan apartemen itu untuk mencari makan di luar.
Pak Dewa duduk di belakang kemudi sedangkan Dennis duduk di kursi penumpang, di sebelah ayahnya.
Pak Dewa melajukan mobil menuju rumah yang dibelinya atas nama Rahma. Dia ingin mengenalkan Dennis pada anak dan istri pertamanya.
"Kenapa ke sini, Dad? Ini 'kan tempat tinggal bukan rumah makan." tanya Dennis heran ketika mobil yang mereka naiki berhenti di halaman sebuah rumah.
"Ayo, masuk! Nanti kamu akan tahu," ucap pak Dewa seraya melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Pak Dewa mengetuk pintu rumah itu, tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.
Rahma pun membuka pintu lebar-lebar agar ayahnya masuk. Namun dia hanya mematung, saat melihat anak laki-laki remaja berwajah mirip sekali dengan ayahnya.
"Ayo, masuk! Ibu ada di belakang," ajak Rahma setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
Pak Dewa mengikuti langkah anak perempuannya, sebelumnya dia menarik tangan Dennis untuk ikut serta.
"Ibu, Ayah datang!" teriak Rahma pada bu Sarifah.
"Oh." ucap bu Sarifah datar.
"Apa ibunya tidak marah kamu membawanya ke sini?'' tanya bu Sarifah setelah melihat pak Dewa membawa anak laki-laki ke rumah ini.
"Dennis! Kenalkan dia adalah istri pertama Daddy," ucap pak Dewa sambil menatap Dennis dan bu Sarifah bergantian.
"Dennis, Aunty!" kata Dennis seraya mengulurkan tangan pada bu Sarifah.
"Panggil Ibu, Nak!" perintah bu Sarifah menerima uluran tangan dari Dennis.
"Oh, oke. Ibu," jawab Dennis dengan senyum dipaksakan karena canggung.
"Ini kakakmu! Rahma," sambung pak Dewa sambil menunjuk arah Rahma.
__ADS_1
"Di sebelahnya itu suaminya!" tunjuk pak Dewa pada Frans.
Dennis pun menyalami tangan Rahma dan Frans bergantian.
"Mas! Aku tanya, istrimu tidak marah kamu bawa anaknya ke sini. Kenapa nggak dijawab?" ujar bu Sarifah kesal.
Pak Dewa tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.
"Istriku itu kamu, kamu tanya dirimu sendiri. Kamu marah nggak aku bawa anak ke sini?" jawab pak Dewa tersenyum smirk.
"Nak Dennis tumben mau main ke sini?" tanya bu Sarifah mengalihkan pandangannya dari pak Dewa ke Dennis.
"Daddy mengajak makan malam di luar. Kebetulan Dennis ingin makan masakan rumahan, jadi Daddy mengajak Dennis ke sini," jelas Dennis kaku.
"Bu, Rahma sudah lapar. Kapan kita makannya?" potong Rahma.
Rahma tahu ibunya itu suka sekali menjadi wartawan dadakan jika bertemu orang baru.
"Iya, kita makan sekarang!" jawab bu Sarifah.
Rahma mulai mengambilkan nasi untuk suami, ayah, ibu dan adik tirinya, terakhir mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan tenang dengan pikiran masing-masing.
*
*
*
Sheila tidak sengaja bertemu Chico di sebuah mall, saat jalan-jalan bersama Jojo. Sheila dan Jojo akhirnya menjadi sepasang kekasih setelah band dibubarkan.
"Beb, itu Chico, bukan?" tanya Jojo pada Sheila.
Sheila langsung mencari Chico sesuai arahan tangan Jojo.
"Kita ikuti aja, yuk!" ajak Sheila.
"Yuk, agak cepat jalannya! Nanti kehilangan jejak dia." sahut Jojo seraya menarik tangan Sheila.
Jojo adalah saksi mata saat Chico mengantarkan Christie pulang beberapa bulan yang lalu.
Sheila sudah menceritakan semuanya pada Jojo, dengan maksud meminta bantuan. Setelah bercerita, Jojo pun sering mengajak Sheila mencari keberadaan Chico.
"Chico!" panggil Jojo ketika mereka sudah dekat.
Chico yang merasa ada yang memanggil namanya pun menoleh ke arah suara yang memanggil. Chico langsung mengambil langkah seribu ketika dilihatnya ada Sheila tidak jauh dari sana.
"Yah, dia malah lari! Bagaimana ini?" ucap Sheila.
__ADS_1
"Ayo, kita kejar dia! Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." ajak Jojo sambil mempercepat langkahnya.