
Rahma terus memikirkan kata-kata Frans tadi sesaat sebelum pulang dari kampus. Bahkan dia tidak bisa tidur hingga malam telah larut.
Tiba-tiba dia teringat dengan kado dari pengagum rahasianya. Kado yang berisi kotak musik, boneka dan jaket warna abu-abu yang bertuliskan Frahma. Semua itu Rahma tinggalkan di kamar yang ditempati selama tinggal di rumah Frans.
Rahma pun mulai menghubungkan namanya dan nama pengagum rahasianya.
"Ternyata kata Frahma yang tertulis itu gabungan dari namanya dan namaku. Setelah bertahun-tahun kenapa aku baru sadar sekarang?"
"Kenapa aku tidak pernah curiga atau mencoba mencari tahu siapa pengagum rahasia selama ini? Bodoh banget sih aku, hhhhh!"
Rahma masih bingung dengan perasaannya sendiri. Selama ini Rahma menganggap dirinya tidak pantas untuk dicintai. Oleh karena itu, dia selalu menutup hatinya untuk laki-laki manapun. Trauma pernikahan kedua orang tua, ayahnya pergi tanpa kabar hingga belasan tahun.
"Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya nanti. Jika aku tolak akankah dia mabuk-mabukan atau sebaliknya. Haishhhh, entahlah!"
Setelah lelah berperang dengan pikirannya sendiri, Rahma pun tertidur hingga pagi. Dia bergegas menuju kamar mandi karena pagi ini ada kelas mengajar menggantikan dosen.
__ADS_1
Selama sebulan ke depan Rahma harus mengajar menggantikan dosen yang sedang keluar kota. Oleh karena itu, jadwal dia sangat padat, kuliah dan mengajar.
Pagi ini Rahma mengenakan setelan kemeja batik lengan pendek dipadukan dengan rok span di bawah lutut, rambut dijepit bagian bawahnya agar tidak terbang saat berjalan. Perjalanan dari kos-kosan sekitar lima menit, cukup membuat rambut kusut jika berjalan diterpa angin atau ada kendaraan bermesin melintas.
Banyak mahasiswa berdiri di papan pengumuman, mereka berbisik sambil memandangi penampilan Rahma. Mereka sedang membicarakan foto Rahma bersama pria paruh baya.
Rahma pun merasa ada yang aneh, kenapa semua melihat dia dengan tatapan jijik. Rasa penasaran mendorongnya untuk melihat papan pengumuman. Betapa terkejutnya dia di papan pengumuman terpampang fotonya bersama pak Dewa.
Rahma langsung meninggalkan tempat itu menuju ruang administrasi, dia ingin tahu siapa yang telah memasang fotonya di papan pengumuman.
"Hah? Ada rupanya fotomu terpampang di sana? Hebat dong pasti sebentar lagi tenar namamu!" jawab pak Haris setengah meledek.
"Serius, Pak! Tolong segera lepas, nanti aku jelaskan semuanya. Please!" pinta Rahma sambil merapatkan kedua tangannya di depan da*da.
"Ok! Ok! Jangan nangis!" kata pak Haris sambil berlalu dari hadapan Rahma.
__ADS_1
Rahma berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Sebenarnya pagi ini belum banyak mahasiswa yang datang ke kampus, bahkan para petugas administrasi pun masih satu dua yang datang.
"Nih! Foto kek gini aja bikin heboh. Padahal biasa aja, makan siang bersama pria paruh baya. Tidak ada yang perlu dikomentari." ujar pak Haris sambil menyerahkan beberapa foto pada Rahma.
Rahma menyimpan foto itu di tasnya.
"Ada yang tidak suka melihat Rahma menjadi asdos kali, Pak. Makanya dia memasang foto ini di papan pengumuman. Kalau tahu siapa yang di foto ini pasti tanggapannya sama kek Pak Haris," terang Rahma sambil duduk di kursi yang ada di depan meja pak Haris.
"Kalau nama kamu tercemar hanya gara-gara foto kek gitu, aku siap membela kamu. Bahkan jika gara-gara itu juga kamu diputuskan pacarmu, aku siap menikahimu!" rayu petugas administrasi yang masih berusia dua puluh delapan tahun itu.
"Ishh, apaan sih Pak Haris ini? Ngaco lama-lama ngomongnya." sahut Rahma sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan itu menuju kelasnya.
"Aku ke kelas dulu, Pak!" teriak Rahma ketika sudah di gawang pintu, Haris menjawab hanya dengan mengacungkan jempolnya.
"Ada-ada saja anak-anak itu, menjatuhkan lawan dengan cara murahan. Kalau orang melihat dengan teliti pasti tahu langsung jika mereka hanyalah seorang bapak dan anak." gumam Haris sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1