
"Rahma, bisa minta waktunya sebentar? Ada yang mau aku omongin ke kamu," ucap Frans begitu berada di dekat Rahma.
"Hhhh..." Rahma membuang nafasnya dengan kasar untuk menghilangkan kekesalannya.
Frans masih menatap Rahma menantikan jawaban dari gadis pujaan hatinya. Rahma masih tetap diam hingga beberapa saat.
"Baiklah, sepuluh menit!" jawab Rahma akhirnya, sebenarnya dia tidak ingin kelewatan memperlakukan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Akan tetapi rasa kesalnya lebih mendominasi.
"Kita duduk di tangga itu saja!" ajak Frans seraya menunjuk ke arah tangga yang tidak jauh dari sana.
"Ok!" jawab Rahma sambil melangkah ke arah tangga.
Mereka berdua duduk berhadapan dengan Frans duduk undakan tangga yang lebih atas, kakinya sejajar dengan pan*tat Rahma.
"Anda mau ngomong apa? Sepuluh menit dari sekarang." ucap Rahma sambil melihat jam yang melingkar di tangannya, jam pemberian Frans saat ulang tahun ke delapan belas.
"Aku mau minta maaf," sahut Frans lirih sambil menunduk, dia tersenyum kecut mengingat kesalahannya selama ini.
"Kenapa minta maaf? Toh nggak ada yang salah selama ini. Anda memilih jalan hidup anda sendiri, sedangkan saya juga memilih jalan hidup sendiri," ujar Rahma dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena salah paham. Aku kira kamu dan Rio berpacaran. Jadi.."
"Hahaha! Anda lucu sekali," Rahma tergelak mendengar kata-kata Frans.
Frans menautkan kedua alisnya, heran kenapa tiba-tiba Rahma tergelak.
"A-aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Saat itu sedang ospek, kita kena hukuman berdiri menghormat bendera. Tidak tahu kenapa melihat senyummu, jantungku berdebar hatiku bergetar. Aku baru menyadari jika aku jatuh cinta beberapa bulan kemudian."
"Sampai saat ini rasa itu masih ada, bahkan tumbuh dengan suburnya. Rahma Dewanti, aku mencintaimu," jujur Frans akhirnya.
Dada Frans yang awalnya terasa begitu menyesakkan tiba-tiba merasa lega. Ganjalan di hatinya selama ini telah lepas, sehingga hatinya merasa luas.
"Kamu tidak harus menjawabnya. Aku hanya ingin mengeluarkan apa yang aku pendam selama ini. Aku tidak bisa berharap kamu mau membalas, aku cukup tahu diri. Kesalahanku yang tersesat dalam salah bergaul pasti tidak bisa dengan mudah dimaafkan."
"Aku sudah merasa lega karena tidak ada lagi ganjalan di hati ini. Aku pamit, mau pulang kampung malam ini juga. Jaga diri kamu baik-baik di sini, aku tidak bisa menjagamu!"
Frans berdiri kemudian melangkah kaki meninggalkan Rahma sendirian. Belum hilang rasa terkejutnya, Frans sudah meninggalkan tempat itu. Setelah dirasa tubuhnya sudah tidak gemetar lagi, Rahma pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kosnya.
*
__ADS_1
*
*
"Apa maksudnya ini, Dad?" tanya seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan pada suaminya.
"Daddy memiliki sugar baby? Apa belum cukup pelayanan mommy selama ini, sehingga Daddy mengkhianati mommy?" teriak Agatha, istri pak Dewa.
Ya, saat ini istri pak Dewa sedang mengamuk padanya karena foto yang dikirimkan oleh orang tidak dikenal.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Mom!"
"Halah alasan kamu saja! Maling mana ada yang ngaku!"
" Aku hanya membantunya saja. Kami baru saja bertemu sekali. Dia dari kampung sedang mencari kos-kosan yang dekat dengan kampusnya. Apa salah jika aku menolongnya?" balas pak Dewa.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Daddy pilih aku atau perempuan ja*Lang itu?" pungkas Agatha memberi pilihan.
Maafkan diriku yang sedang mood swing, semoga tidak berlangsung lama. Maaf jika tidak dapat feel-nya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Maaf juga hanya bisa up sedikit