
Saat mereka asik ngobrol sambil makan, tanpa mereka sadari ada yang menguping pembicaraan mereka.
Tidak hanya itu saja, dia bahkan mengambil beberapa foto dengan angel yang menunjukkan kedekatan mereka. Foto diambil dari tempat yang bisa membuat Rahma dan pak Dewa terlihat seolah-olah seperti baby dan dady sugar.
Orang itu tampak tersenyum puas sudah mendapatkan gambar sesuai dengan yang diinginkan. Setelah itu dia mengirimkan beberapa foto itu pada seseorang. Setelah terkirim dia pun meninggalkan tempat itu.
"Nak Rahma asli orang sinikah?" tanya pak Dewa sambil mengelap mulutnya dengan tisu setelah makanan di piringnya habis.
"Bukan, Pak. Saya berasal dari kampung, jaraknya dengan sini sekitar tujuh jam perjalanan. Kurang lebih." jawab Rahma sebelum menenggak air putih.
"Bapak kira kamu asli orang sini. Bapak merasa sangat familier dengan wajahmu," ucap pak Dewa.
"Wajah saya hanyalah wajah orang dari kampung, Pak. Lagian kita juga baru bertemu tadi malam. Mana mungkin wajah saya sudah bapak kenali. Mungkin saja ada orang yang mirip dengan saya," terang Rahma merendah.
"Kamu berapa bersaudara?"
"Saya tidak tahu, Pak. Yang saya tahu, saya satu-satunya anak ibu," jawab Rahma sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa seperti itu?"
"Karena ayah saya meninggalkan kami berdua di kampung. Sudah belasan tahun dia tidak pernah menemui kami, jangankan menemui mengirimkan serupiah saja dia tidak sanggup," jawab Rahma dengan wajah sendu.
"Maaf, Bapak tidak bermaksud membuatmu bersedih. Maaf juga Bapak terlalu banyak ingin tahu," ujar pak Dewa.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah terbiasa dengan keadaan ini," kata Rahma sambil tersenyum lebar menutupi luka hatinya.
"Baiklah kalau begitu. Jika kamu butuh bantuan Bapak, kamu tahu 'kan harus menghubungi kemana?" pak Dewa pamit meninggalkan Rahma karena ada jadwal meeting setengah jam lagi.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Pak. Hati-hati di jalan!" jawab Rahma sambil berdiri melepaskan kepergian pria yang sangat mirip ayahnya tersebut.
"Ibu... sepertinya aku sudah menemukan ayah. Akan tetapi aku belum tahu kebenarannya," gumam Rahma lirih nyaris tidak ada yang mendengar kecuali Rahma sendiri.
Sebelum pergi meninggalkan kafe itu, pak Dewa sudah melunasi tagihan makanan mereka berdua.
*
*
*
Wajah pak Dewa tiba-tiba berubah, seperti terluka ketika mengingat cerita Rahma. Tadi malam dia bermimpi melihat seorang wanita yang menggendong bayi mendatanginya, dari siluet tubuhnya pak Dewa seperti mengenal tapi lupa.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" monolog pak Dewa.
"Aku harus menyelidikinya. Banyak masa laluku yang tidak aku ingat. Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku?"
*
*
*
Malam harinya, Frans mencoba duduk di lobi kampus bersama beberapa satpam yang bertugas jaga malam itu.
"Nunggu siapa kamu?" tanya salah seorang satpam yang berjaga.
__ADS_1
"Tidak ada yang pernah kutunggu, selama ini orang yang menunggu kedatanganku," jawab Frans jumawa.
Satpam itu hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Frans.
"Dasar songong!" ujar satpam itu sambil mengarahkan telunjuknya ke dahi membentuk garis melintang.
"Habis putus ma pacarnya kali!" sahut satpam satunya.
"Maklum anak jaman sekarang, baru putus cinta aja sudah stres. Bagaimana kalau sudah menikah dan memiliki anak tapi tidak punya pendapatan tetap?"
"Bunuh diri kali, tidak tahan dengan cobaan hidup."
"Kalau kita tidak salah bergaul pasti semua cobaan mudah dilalui."
Beberapa satpam itu saling bersahutan membicarakan Frans.
Frans yang mendengar akhirnya pun sadar dimana letak kesalahannya selama ini. Dia salah memilih teman sehingga sahabat rasa keluarganya meninggalkan dirinya.
Tak lama kemudian tampak olehnya Rahma berjalan dari tangga menuju lobi hendak keluar. Pulang. Ada banyak mahasiswa yang keluar bersama Rahma.
"Kami duluan, Bu," salah seorang mahasiswi mendahului Rahma keluar dari lobi.
"Sudah berapa kali dibilang, kalau di luar kelas jangan panggil ibu. Kita sama kok," ucap Rahma merendah.
"Ok!" jawab beberapa mahasiswa yang di sekitar Rahma secara bersamaan.
Rahma tersenyum mendengar jawaban para mahasiswa yang sekarang menjadi anak didiknya.
__ADS_1
Frans yang melihat sendiri dengan mata kepalanya, bagaimana seorang Rahma yang disukai oleh banyak mahasiswa, menjadi semakin kagum. Akhirnya Frans pun memberanikan diri mendekati Rahma.
"Rahma, bisa minta waktunya sebentar? Ada yang mau aku omongin ke kamu," ucap Frans begitu berada di dekat Rahma.