Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Harus bersyukur


__ADS_3

Pulang sekolah, kita langsung berkumpul dan akan pergi ke rumah ku. kita semua jalan kaki menuju ke rumahku, saat sedang berjalan aku melihat ada seorang anak yang menggendong karung, dia sedang mencari barang bekas. Setiap ada tong sampah dia mencari barang untuk bisa dia jual. Hingga kemudian, anak itu menemukan makanan sisa dan langsung dia makan.


"Tunggu dek ! Kenapa kamu makan dari tempat sampah ?"


"Saya lapar Kak, saya sudah biasa makan dari tempat sampah"


Seketika aku merasa kaget, melihatnya sangat menyayat hati, aku benar-benar kasihan sama adek ini.


"Jangan Dek, makanan itu kotor. Kalau mau makan ikut Kakak yu !"


Teman-teman ku hanya diam melihat yang telah aku lakukan.


"Kemana Kak ?"


"Ke rumah Kakak, gak jauh ko dari sini !"


"Tapi Kak, aku harus kerja lagi"


"Gini deh, itu barang-barang yang kamu bawa sudah cukup banyak kalau Kakak yang beli gimana ?"


"Boleh Kak" anak itu langsung tersenyum


"Ayo ikut Kakak ! Nama kamu siapa ?"


"Saya Dian Kak"


Kita berjalan menuju ke rumah, rasanya aku melupakan teman-teman ku yang berada di belakang mengikutiku.


"Oh Dian, Dian ini kenapa malah kerja ? Harusnya Dian ini sekolah"


"Aku gak punya uang untuk biaya sekolah nya Kak"


Teman-teman ku mengejar kami dan mereka ikut gabung bersama kita.


"Adek sini karungnya biar Kakak yang bawa !"ucap Arya sambil mengambil karung yang di bawa adek itu.


"Adek memang rumahnya dimana ? Orangtuanya memang mengizinkan adek kerja ?" tanyaku


"Aku gak punya rumah Kak, aku juga gak punya orang tua mereka sudah meninggal. Aku tinggal bersama anak-anak yang lain di kolong jembatan"


Kita semua terdiam dan saling melihat, masih banyak di luar sana yang serba kekurangan. Aku harusnya bersyukur, aku masih punya kedua orangtua yang masih utuh dah sehat, aku punya tempat tinggal dan masih bisa sekolah. Banyak di luar sana yang seperti adek ini, andaikan aku punya banyak uang dan punya kekuasaan, aku ingin seluruh anak-anak jalanan, pengemis dan orang-orang yang kekurangan di luar sana mendapatkan tempat yang layak. Andai aja aku bisa membangunkan rumah untuk mereka, membuat lapangan pekerjaan pasti angka kemiskinan di negeri ini berkurang. Cita-cita ku ingin, adek ini tidak lagi bekerja seperti ini tidak seharusnya dia bekerja harusnya dia belajar, bermain bersama temannya, mendapatkan perhatian dari orang tua dan menikmati masa kanak-kanaknya. Aku ingin negeri ini adil, jujur, makmur dan sejahtera. Yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin tercekik, uang yang harusnya untuk rakyat tapi di pergunakan untuk kepentingan pribadi demi kepuasan dan ego semata. Tidaklah kita melihat kebawah ! banyak orang-orang kelaparan dan tidak mempunyai tempat tinggal. Sungguh miris negeri ini, keadilan sudah tidak ada lagi mungkin masih ada beberapa orang yang peduli tapi semuanya terhalang oleh kepemerintahan dan adanya siapa yang berkuasa. Hingga kitapun sudah sampai di rumah, aku bawa masuk anak itu ke dalam rumah.


"Sini Dek, masuk aja ke rumah !"


"Tapi Kak, pakaian ku kotor"


"Gak apa-apa, eh Ya karungnya taro di depan aja ! Eh kalian mau pada makan ?"


"Enggak Yas makasih, kita nanti aja"


"Oh iya kalau gitu itu bentar ya !"

__ADS_1


Kemudian ada Pak Jamal datang dari dalam rumah.


"Eh Pak ini tadi Ilyas ketemu adek ini di jalan, kasihan Pak dia belum makan"


"Oh mari-mari masuk !" dengan ramahnya Pak Jamal mengajak Dian masuk ke dalam


Kita langsung pergi ke dapur dan dia aku suruh untuk cuci tangan dulu dan membersihkan kaki nya.


"Dek, kamu cuci kaki dan tangan dulu ya biar bersih !"


"Iya Kak"


"Ayo Kakak antar !" aku mengantar Dian ke kamar mandi


Aku membantunya untuk membersihkan kakinya yang kotor, rasanya seperti pada adik ku sendiri.


"Nih keringkan pakai handuk !" aku memberikan handuk


Adek ini melihat sekeliling rumah, kasihan banget dia pasti ingin tinggal di rumah juga.


"Ayo Dek langsung makan !"


"Iya Kak"


Aku lihat Pak Jamal sedang menunggu warung di depan bersama teman-teman ku. Aku membawakan dia nasi dan lauknya.


"Maaf ya makannya cuma ada tempe dan telor dadar aja"


"Baca do'a dulu dek !"


"Eh iya lupa kak" ternyata dia bisa membaca do'a mau makan


"Tenyata adek bisa juga ya bacaan mau makan.


"Bisa Kak, dulu saat Ibu masih ada aku di ajarin Ibu"


"Oh kamu anak pintar ya, silahkan makan !"


"Kakak gak makan ?"


"Kakak nanti aja masih kenyang tadi, Adek aja makan yang banyak !"


Dia langsung makan dengan cepat, ya Allah kasihan banget adek ini. Dia terlihat kelaparan, aku langsung meneteskan air mata melihat adek ini. Kasihan masih kecil sudah kehilangan kedua orangtuanya dan dia sudah harus mencari kerja untuk dia makan. Dia juga gak punya rumah, semoga adek ini sehat selalu dan suatu saat ini dia akan lebih baik.


"Tambah lagi Dek ?" saat melihat nasinya habis, dia hanya mengangguk karna mulutnya penuh nasi


Dia kembali makan dengan lahapnya, Adek ini terlihat sangat kelaparan. Setelah hampir habis, aku kembali bertanya


"Adek, sekarang umurnya berapa ?"


"8 tahun Kak"

__ADS_1


"Oh kalau sekolah mungkin kelas 2 SD ya, adek nanti kalau bawa botol atau barang bekas seperti tadi kasih sama kakak aja ya ?"


"Iya Kak, memangnya Kakak untuk apa ?"


"Mau di bikin kerajinan Dek, oh iya teman-teman adek ada berapa orang yang tinggal sama Adek ?"


"Ada 15 orang Kak"


"Wah banyak juga ya, adek mau gak kerja sama Kakak ? Kerjanya nyari barang-barang bekas aja tapi Kakak lebih nyari botol plastik minuman dan kardus. Adek ajak juga teman-teman yang lain nanti bawa kesini !"


"Iya Kak, terus nanti gimana lagi ?"


"Nanti bantuin bikin kerajinannya, Adek gak usah panas-panasan lagi kerjanya disini bantuin Kakak. Oh iya gini deh, nanti kita nyari barang bekasnya sama-sama"


"Iya Kak, Dian seneng banget nanti akan kasih tau teman-teman Dian"


"Iya biar mereka juga gak harus panas-panasan, mau tambah lagi gak makannya ?"


"Sudah Kak, kenyang"


"Alhamdulillah kalau gitu, sana cuci tangan dulu !"


"Iya Kak"


Aku ingin memperkerjakan mereka tapi aku sendiri belum tau usahaku akan gimana. Pokoknya lahaula aja, aku gak tega melihat mereka tidak punya tempat tinggal. Aku ingin membicarakannya dulu sama Pak Jamal karna beliau yang punya rumah. Setelah selesai makan, Adek ini ingin kembali pada teman-temannya.


"Mending di sini dulu dek jangan dulu pulang !"


"Temanku tadi lagi nungguin aku Kak"


"Yasudah kalau gitu, adek pulangnya hati-hati tapi tau jalannya kan ?"


"Tau dong kak, kan sering lewat sini"


"Oh iya ya, eh ini uangnya !" Aku berikan uang ku pada adek ini


"Uangnya besar banget Kak, gak apa-apa nanti bagi-bagi; aja sama teman-teman adek !"


"Asiiiiiikk, makasih ya Kak !"


"Iya sama-sama, ayo kakak antar sampai kedepan !


Aku mengantar Adek ini kedepan, ternyata di depan sudah ada Pak Ardi.


"Eh Pak sudah lama ?"


"Enggak ko baru aja, kamu mau kemana ?"


"Ini mau antar adek ini dulu !"


Adek ini saat mau pulang salaman dulu pada semua orang, aku kagum dengan perlakuan Adek ini yang santun. Biasanya jaman sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya sopan santun terhadap orang lain. Aku akan lebih bersemangat lagi untuk bekerja, Adek ini aja masih kecil sangat bersemangat sekali masa iya aku kalah. Banyak sekali yang ingin aku impikan, semoga aku bisa membuat mereka tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2