
Frans sampai rumah di kota kecil kampung halamannya pagi hari. Dia pulang karena akan diadakan acara pernikahan Dolly. Akhirnya Dolly dan Tiara menikah secara tertutup karena Tiara belum ingin menikah.
Dolly menghamili Tiara sehingga mau tidak mau mereka harus segera menikah. Tiara berulang kali menolak sehingga Dolly nekat memberi DP terlebih dahulu.
Acara pernikahan Dolly dan Tiara digelar di rumah Tiara, dengan dihadiri oleh keluarga terdekat dan kolega bisnis. Tiara dan Dolly tidak ada mengundang teman-teman mereka. Rencananya setelah Tiara wisuda nanti baru akan diadakan resepsi pernikahan.
Frans datang ke pernikahan abangnya menggunakan kemeja berwarna gelap. Walaupun dia merasa lega karena sudah mengutarakan isi hatinya tapi pikirannya masih tertuju pada Rahma.
Frans dan kedua orang tuanya langsung pulang saat acara sudah selesai. Malam ini, Dolly akan menginap di rumah orang tua Tiara.
"Kamu jangan seperti abangmu itu, bikin malu keluarga saja. Untung yang dibuntingi tunangannya. Kalau sempet cewek lain, entah bagaimana kecewanya kami."
"Ya, Ma. Frans janji untuk tidak merusak dia. Frans ingin mendapatkan wanita baik-baik jadi Frans pun harus berbuat baik," sahut Frans tersenyum.
"Dia? Kamu kuliah apa pacaran sih?" tanya mama Ratna.
"Kuliah 'lah, Ma! Dia belum mau menjawab, Ma. Do'akan anak mama ini tidak bertepuk sebelah tangan, ya," terang Frans sambil memeluk mamanya.
"Apa Mama kenal dia?"
"Mama inget nggak sama cewek yang waktu kami mau berangkat ke ibu kota pertama kali?" tanya Frans.
__ADS_1
"Yang mana?"
"Ck, Mama ini. Kami berangkat ke ibu kota 'kan bertiga eh berempat sama sopir. Ingat?"
"Oh iya, gadis manis dan pemalu itu?"
"Iya, Ma. Cantik nggak menurut Mama?" tanya Frans sambil mendekap lengan kanan mamanya.
"Ingat! Mama masih ingat. Kepribadiannya bagus keknya. Anak siapa itu, orang tuanya punya perusahaan apa?" cerca mama Ratna.
Bahu Frans yang tadinya tegap langsung merosot lemas. Pasti itu yang akan dibahas. Anak pengusaha apa.
"Apa sebegitu pentingnya harta di mata Mama? Apakah harus memiliki pasangan juga seorang anak pengusaha?" tanya Frans dengan hati yang hancur.
"Ini Pa, si Frans. Katanya dia sudah punya gebetan di ibu kota. Kuliah aja belum bener masak sudah berani pacaran." adu mama Ratna.
"Bohong Pa! Mama bohong, Frans belum punya pacar," sangkal Frans.
"Eh, tadi yang cerita punya gebetan siapa? Enak aja ngatain Mama pembohong!" ucap mama Ratna.
"Frans 'kan cuma cerita kalau naksir ma cewek, sudah nembak juga tapi belum dijawab. Bukan pacar Mama!" teriak Frans kesal.
__ADS_1
Pak Edward yang melihat perdebatan antara anak dan istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Anak sama istrinya seperti teman dekat saja. Bersendau gurau tanpa melihat usia, istrinya itu memang lain dari yang lain. Walaupun usia sudah kepala empat tapi masih berjiwa muda, mengikuti perkembangan anaknya.
"Pacaran boleh tapi ingat kewajiban utama kamu sebagai seorang mahasiswa. Jangan sampai nilai kamu turun karena hal itu. Papa malu jika anak Papa tidak bisa jadi orang sukses kek Papa," nasehat pak Edward.
"Iya Pa. Siap" jawab Frans dengan kemantapan hati.
Dalam hati kecil Frans merasa bersalah karena melanggar kepercayaan kedua orang tuanya. Nilainya turun padahal dia anak yang cerdas, nilai turun bukan karena berpacaran tapi karena salah pergaulan.
Frans berjanji dalam hati, setelah sampai di ibu kota nanti dia akan membubarkan band-nya. Dia akan fokus pada kuliah agar bisa mengejar ketinggalannya.
*
*
*
Sementara itu pak Dewa sedang menunggu orang kepercayaannya memberikan laporan tugas yang telah dia berikan.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, pak Dewa pun mempersilakan masuk orang tersebut.
"Ada perkembangan?" tanya pak Dewa begitu orang kepercayaannya berdiri di depannya.
"Semua sudah ada di dalam amplop ini, Tuan," jawab orang itu.
__ADS_1
"Baiklah, kamu boleh pergi!" usir pak Dewa.
Pikiran pak Dewa saat ini sedang kacau karena mimpi-mimpinya setiap malam, juga karena masalah foto dirinya bersama Rahma membuat istrinya murka. Pak Dewa memijit pelipisnya berulang kali berharap pening di kepalanya segera hilang.