Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Semoga Ibu berubah


__ADS_3

Mereka semua lari terbirit-birit saat aku bilang ada makhluk halus di belakang mereka, padahal tidak ada apa-apa.


"Haha aku cuma bercanda, gak ada apa-apa ko"


"Ah kamu Yas, ngagetin aja. Tapi beneran gak ada ?" ucap Arya


"Gak ada apa-apa ko"


"Tapi biasanya di setiap tempat itu ada penunggunya, kira-kira disini ada gak ?" ucap Tomi


"Ada, disini ada jin tapi dia baik gak jahat"


"Wah yang bener, dia ada dimana ?" ucap Jefri


"Ada di atas langit-langit sedang duduk" mereka langsung berlari ke lantai bawah


"Eh ko pada kabur, mereka gak akan menggangu kalau kita nya juga gak mengganggu"


"Kakak kenapa pada lari ? Tanya anak-anak


"Itu ada......


aku langsung memotong pembicaraan Adin


"Gak ada apa-apa, tadi kita cuma iseng-iseng saja"


"Hee iya dek, gak apa-apa lanjutin aja"


Kita semua menjauhi anak-anak dan kembali melanjutkan pekerjaan kita


"Anak-anak jangan sampai tau kalau disini ada penunggunya, nanti mereka pada ketakutan" ucapku


"Iya kasihan kan mereka" ucap Tomi


"Ayo ah kita kembali kerja !"


Seperti biasa kami bekerja sampai sore, setelah itu pulang. Esok harinya saat hari minggu, aku ingin menjenguk Ibu ingin melihat keadaannya.


"Aku mau pulang sebentar ya nanti balik lagi, kalian kerja aja aku gak bakal lama perginya"


"Iya tenang aja Yas, kamu kan bos nya jadi jangan merasa gak enak kan ini usaha kamu" ucap Arif


"Betul, kamu santai saja pasti keluarga kamu sangat menantikan kedatanganmu. Kasihan juga Ibu kamu" ucap Arya


"Tapi aku gak akan lama, kalau ada apa-apa hubungi aku aja"

__ADS_1


"Ok Yas hati-hati di jalannya !"


Akupun langsung pergi, sekarang saat aku pulang jadi lebih cepat karna aku sudah punya motor. Alhamdulillah aku sangat bersyukur, dengan apa yang telah aku miliki sekarang. Perjalanan menuju ke rumah sekitar setengah jam saja, saat tiba di rumah ada Agus yang sedang duduk di depan. Aku ingin mengobati Agus mudah-mudahan aja ada cara agar dia bisa sembuh walaupun memang ini semua dari lahir.


"Hei gus, kamu lagi ngapain ?"


Dia sangat senang saat aku pulang, dia mencium tangan ku dan mengantarkan aku kedalam. Aku lihat Ibu sedang berada di kamar lagi tidur, sementara Ayah sedang berada di toko aku ke toko menemui Ayah.


"Eh nak kapan kamu datang ?"


"Baru aja Yah, gimana Yah toko nya rame ?"


"Alhamdulillah nak, ada aja yang beli setiap hari. Kamu gimana di toko ?"


"Alhamdulillah kalau gitu, aku juga alhamdulilah Yah. Ibu gimana keadaannya Yah ?"


"Sekarang ini dia lebih banyak diam, mengurung diri terus di kamar gak mau kemana-mana. Ada tetangga yang lihat juga gak mau ketemu, dia sering ngamuk"


"Kasihan Ibu, dia pasti masih belum bisa menerima. Memang berat untuk bisa ikhlas, mudah-mudahan Ibu cepat membaik"


"Iya nak, mungkin ini semua ujian untuk Ibu karna sikap dia yang selama ini sudah banyak berbuat dosa. Ayah suruh Ibu untuk segera bertobat tapi dia tidak pernah mau mendengarkan Ayah. Yang dia katakan cuma uang dan uang, walaupun sudah kecelakaan tapi Ibu mu masih saja seperti itu gak mau berubah"


"Yang penting sudah menyadarkan Ibu Yah, mudah-mudahan ada hidayah dari Allah untuk Ibu"


"Kamu tau, kemarin setiap uang yang kamu kasih langsung di belanjakan oleh Ibu. Uang di toko juga di ambil semua untuk belanja, Ayah sudah bersabar tapi Ibu kamu semakin keterlaluan. Hutang sama tetangga juga belum di bayar, sekarang Allah telah menghukum Ibu agar sadar tapi dia masih saja gak mau sadar"


"Iya nak semoga saja, Ayah kira dengan adanya musibah ini Ibu bisa berubah ternyata sama saja. Entah apa yang harus Ayah lakukan, setiap Ayah masuk ke dalam kamar Ibu mu selalu marah tidak mau Ayah temui"


"Lalu gimana kalau Ibu ingin makan atau ke kamar mandi Yah ? kasihan kan Ibu gak bisa jalan"


"Kalau itu pakai kursi roda nak dan suka di bantu sama Agus, sama Ayah sama sekali gak mau di tolongin. Ibumu sangat marah sama Ayah, entah apa salah Ayah"


"Yang sabar ya Yah, kalau menurutku kasih perhatian terus sama Ibu. Mungkin lama-lama hatinya akan luluh, walaupun Ibu tetap marah biarkan saja mudah-mudahan suatu saat nanti bisa berubah"


"Iya nak aamiin, kamu sudah makan ? Di dapur ada makanan"


"Tidak Yah terima kasih, aku juga mau pulang lagi karna kasihan teman-teman ku masih banyak kerjaan juga. Aku cuma ingin lihat keadaan Ibu dan kabar Ayah semuanya. Tapi tadi Ibu lagi tidur, kalau keadaannya sehat aku sudah tenang"


"Yasudah kalau gitu kamu hati-hati ya, semoga usaha kamu tambah lancar"


"Aamiin, Ayah juga.


Agus, kakak pulang dulu ya kamu di rumah jaga diri baik-baik !" Agus cuma tersenyum


Aku langsung pergi, gak enak juga sama teman-teman ku karna sekarang ini kerjaan lagi banyak. Yang penting aku sudah tau kabar mereka, aku sudah merasa lega walaupun aku cuma bisa lihat Ibu saja yang sedang tidur. Semoga Ibu bisa berubah, untung nya ada Agus yang membantu Ayah sekaligus membantu Ibu. Kasihan juga kalau lihat Agus, apakah ada cara untuk menyembuhkan Agus ? Walaupun memang gak mungkin tapi aku merasa kasihan sama adik ku itu. Dia sangat baik berbeda dengan Yudi yang sampai sekarang masih berada di penjara. Sebelum pulang, aku mampir dulu ke rumah makan untuk membeli makan siang untuk mereka. Setelah sampai di ruko, aku di bantu oleh teman-teman membawakan nasi bungkus untuk mereka.

__ADS_1


"Waduh bos pake repot-repot segala, tau aja aku lagi lapar" ucap Jefri sambil nyengir


"Ah kamu, memang pengennya makan gratis" ucap Adin


"Ko perginya sebentar bos ?" tanya Jefri


"Bos-bos, jangan manggil bos panggilan nya biasa aja. Panggil anak-anak kita makan dulu !"


"Ok bos" sambil berlari dan tertawa


Dasar dia itu, kita pun makan siang bersama.


"Kalian pada makan dulu ya, nanti di lanjut kerja nya !"


"Iya Kak" anak-anak berebutan mengambil nasi bungkus


Semoga usahaku semakin lancar, aku ingin menyekolahkan mereka semua.


"Rumah untuk mereka sudah jadi Yas ?" tanya Arya


"Belum, mungkin sekitar 1 Minggu lagi"


"Hebat kamu Yas, pahalanya besar banget bisa bantu anak yatim" ucap Tomi


"Kebetulan ada rezeki aja, biar mereka gak tidur di jalanan. Maunya sih disini tapi disini penuh sama alat-alat, kasihan juga mereka"


"Anak-anak gimana rasanya bentar lagi kalian akan punya rumah sendiri" tanya Adin


"Seneng banget Kak serasa mimpi"


"Tapi apa mereka bisa saling merawat diri ? Masak, nyuci dan bersih-bersih nya gimana ? Ucap Arif


"Mereka itu bukan orang pemalas, mereka sudah mandiri. Iya kan anak-anak ?"


"Kecil Kak, kalau beres-beres rumah aku bisa"


"Aku juga bisa kalau masak"


"Tuh kan, mereka ini anak-anak hebat"


"Wah iya, kalah dah aku juga" ucap Dimas


"Udah ah makannya di lanjut dulu, kalau makan itu jangan sambil makan gak baik"


"Tuh denger kata Ilyas" ucap Arya

__ADS_1


Dan semuanya tertawa, kitapun lanjut makan. Semoga usahanya tambah rame dan lancar, ada banyak yang ingin aku gapai.


__ADS_2