Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Aku sayang Ibu


__ADS_3

Saat itu juga Ibu langsung pulang di bawa ambulance ke rumah dan akan langsung di kuburkan. Suasana sedih menyelimuti hati, aku mengantarkan Ibu sampai ke peristirahatan terakhir. Aku lihat Pak Jamal sudah tegar, mungkin dia sudah mengikhlaskan kepergian Ibu. Walaupun aku lihat dia masih tetap sedih, hingga kemudian kita kembali ke rumah.


"Bapak yang sabar ya, Ibu sudah tenang di alam sana"


"Iya nak, begitu cepat Ibu pergi tapi dia pergi dengan bahagia"


"Aku juga bermimpi tentang Ibu, Ibu tersenyum bahagia wajahnya sangat segar bercahaya"


"Allah lebih menyayangi Ibu, setidaknya sekarang ini Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi dia sudah bebas dan bahagia di sana"


"Benar Pak, mari Pak kita pulang !"


"Ayo nak"


Teman-teman ku dan para tetangga ikut mengantarkan Ibu, selama perjalanan aku terus membayangkan saat bersama Ibu. Aku ingat saat aku sedang sedih karna memikirkan keluargaku, beliau lah yang memberikan aku nasehat dan semangat. Bu Nana begitu perhatian dan sangat baik, aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikannya.


"Yas, aku pulang dulu ya !" ucap Adin


"Iya aku juga, yang sabar ya Yas yang ikhlas" ucap Dimas


"Nanti kita akan kesini lagi main" ucap Arya


"Tapi mungkin untuk sementara ini gak akan kerja dulu" jawabku


"Kita kesini bukan untuk kerja Yas tapi untuk main aja, menangnya kalau ke rumah untuk kerja aja ?" ucap Jefri


"Kita kan teman, teman lagi berduka harus kita hibur" ucap Tomi


"Betul Yas, untuk saat ini kita istirahat dulu aja karna suasana lagi berkabung" ucap Arif


"Iya kalau itu, untuk sementara ini kerjanya istirahat dulu aja. Aku minta maaf ya sama kalian, aku benar-benar gak enak sama kalian"


"Tuh kan lagi-lagi kamu bahas itu, kalau kamu mikirin terus soal bayaran, berarti kamu tidak menganggap aku sebagai teman kamu" ucap Adin


"Betul Yas, kamu jangan mikirin soal itu terus ya nanti kita bikin kerajinan lagi bareng-bareng, kita bantuin tapi kita tidak mengharapkan pamrih kita ikhlas bantuin kamu" ucap Arif


"Makasih ya kalian memang teman terbaik, sahabat terbaikku"


"Sama-sama Yas" jawab Tomi


Untuk beberapa hari ini kita libur dulu dan tahlilan untuk Ibu, saat sedang berada di rumah sendirian, aku selalu teringat adanya Ibu. Dia selalu duduk di depan sambil menunggu warung, walaupun aku tidak boleh sedih tapi tetap saja aku merasa sedih. Rasanya langsung menusuk ke hati, Ibu Nana merupakan seorang wanita hebat dan luar biasa. Dia sangat rajin beribadah, sering mengikuti pengajian dia tidak pernah menggunjing orang seperti ibu-ibu lainnya yang suka ngegosip. Aku heran, kenapa anaknya tega meninggalkannya bahkan sampai beliau meninggal juga anaknya tidak datang.

__ADS_1


Kini sudah 7 hari kepergian Ibu, aku dan Pak Jamal tinggal berdua kadang saat kami lagi makan bersama, kita mendadak hening dan saling melamun. Biasanya Ibu yang selalu memberikan kita makan, dia yang selalu membuat suasana jadi hangat. Hingga kemudian ada orang yang bertamu saat kita selesai makan siang.


"Bentar, Bapak lihat dulu siapa yang datang !"


"Iya Pak"


Aku membereskan makannya, aku bersihkan meja makan dan piring-piringnya lalu langsung aku cuci.


"Yas, Ibu kamu mencari mu !" ucap Bapak membuatku kaget


"Apa Pak, Ibu ?"


"Iya, temuin dulu sana biar Bapak yang lanjutkan"


"Iya Pak"


Aku pergi ke depan, aku sudah tau maksud Ibu datang kesini.


"Eh Bu, senang Ibu kesini" ucapku sambil mencium tangannya Ibu


Tapi baru saja aku mau mencium tangannya, Ibu melepaskannya dan mendorong ku dengan kasar.


"Ah jangan banyak basa-basi, mana katanya mau ngirim duit ? Udah di tungguin gak masuk-masuk, berani ya bohong sama orang tua ?" bentak Ibu


"Wah bagus ya, malah di kasih sama orang lain. Kamu benar-benar anak durhaka, kamu lebih peduli sama orang lain dari pada orang tua kamu sendiri"


"Bukan begitu Bu, kasihan Pak Jamal karna Ilyas merasa bertanggung jawab"


"Oh jadi sama orang lain kasihan tapi sama Ibu sendiri gak kasihan ? Mana Pak Jamal nya ? Ibu mau ngomong sama dia"


Belum juga aku jawab, Pak Jamal datang


"Ada apa Bu ?"


"Ada apa, ada apa, enak banget ya kamu manfaatin anak saya. Dia yang kerja kamu yang enak dapat uang nya"


"Saya tidak pernah memanfaatkan anak Ibu, tapi...


"Ilyas sendiri Bu yang memberikan untuk Bapak, Pak Jamal sama sekali tidak memanfaatkan Ilyas. Beliau tidak bersalah, jangan salahkan dia !"


"Ow udah bisa belain ya, saya tidak terima ! Pokoknya saya minta ganti rugi, balikin uang nya !"

__ADS_1


"Bu, jangan minta sama Pak Jamal, nanti Ilyas ganti uangnya"


"Ganti kapan ? Kamu nya juga gak kerja kan ? mau ngasih uang dari mana ?"


"Ibu duduk dulu, bentar saya bawa dulu uangnya !" ucap Pak Jamal


"Tapi Pak, jangan Pak biar nanti Ilyas aja !"


"Gak apa-apa nak, Bapak punya uang dari gajih Bapak di sekolah"


"Tapi Pak"


Pak Jamal masuk ke dalam kamar nya, aku benar-benar malu dan gak enak sama Pak Jamal.


"Ini Bu uangnya ! Tapi maaf cuma ada segini" Pak Jamal memberikan uangnya pada Ibu dan Ibu langsung menarik uangnya dengan cepat


"Ini sih masih kurang, tapi gak apa-apa deh dari pada gak ada sama sekali. Nanti kalau sudah ada langsung kirim, kamu cepetan kerja lagi Yas jangan malas-malasan. Pak Jamal, jangan pernah minta uang dari anak saya lagi, dia sendiri punya tanggungan keluarga nya"


"Iya Bu, saya tidak akan minta apa-apa dari anak Ibu"


"Pak Jamal gak pernah minta Bu, disini Ilyas tinggal sama Pak Jamal justru beliau yang selalu memberi Ilyas. Dia memberikan makan, tempat tinggal dan masih banyak lagi secara cuma-cuma, beliau tidak pernah mengharapkan imbalan. Ibu jangan menyalahkan Pak Jamal, beliau tidak bersalah justru sebaliknya"


"Gak apa-apa Yas, Bapak tidak keberatan"


"Tuh Pak Jamal nya juga ngerti, yaudah deh mau pulang dulu !" Ibu langsung pulang begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih dan salam


Aku cuma bisa sabar dan mengurut dada melihat Ibu ku sendiri, aku benar-benar merasa bersalah sama Pak Jamal.


"Pak, maafin Ilyas uang Bapak jadi habis gara-gara Ilyas nanti akan Ilyas ganti"


"Gak perlu nak, kan kamu sendiri sudah memberikan uang pada Bapak untuk tahlilan Ibu"


"Tapi Pak, maafin Ilyas Pak atas kelakuan Ibu pada Bapak, Ilyas benar-benar malu dan bersalah sama Bapak"


"Gak apa-apa nak, Ibu mu wajar ko seperti itu kamu jangan pernah melawan atau membencinya tetap hormati dan sayangi Ibumu bagaimanapun dia"


"Iya Pak, aku tidak akan membencinya"


"Sekarang kamu belajar dulu sana !"


"Iya Pak, aku ke kamar dulu"

__ADS_1


Sebenarnya aku benar-benar kesal atas yang dilakukan oleh Ibu pada Pak Jamal, Aku berharap Ibu bisa berubah tapi aku akan tetap menyayanginya tidak akan pernah membencinya.


__ADS_2