Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 113


__ADS_3

"Ibu? Beneran Ayah dan Ibu mau nikah ulang?" tanya Rahma setelah melihat penampilan ibunya, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh bu Sarifah.


"Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa merasakan memiliki keluarga yang utuh." ucap Rahma terisak seraya memeluk ibunya.


"Rahma bahagia, Bu! Rahma bahagia. Terima kasih sudah mengabulkan permintaan anakmu ini." lanjutnya lagi dengan air mata mengalir deras.


"Bahagia kok nangis? Anak Ibu bukan lagi anak kecil, jadi jangan menangis lagi!" sahut bu Sarifah melepas pelukannya kemudian mencubit hidung Rahma.


"Penghulu sudah datang! Acara tangis-tangisannya ditunda dulu." kata mama Ratna dengan kepala menyembul di pintu.


"Baiklah, kami akan bersiap-siap." jawab dukun pengantin yang merias bu Sarifah.


"Untung Rahma tadi mandi di rest area, jadi sekarang tinggal berganti pakaian. Tunggu Rahma ya, Bu!" ujar Rahma hendak mengeluarkan bajunya dari dalam tas, akan tetapi dicegah oleh bu Sarifah.


"Baju kamu sudah disiapkan oleh Ayahmu. Lihat itu!" kata bu Sarifah sambil menunjuk ke arah dinding dimana sebuah gaun tergantung.


"Cantik sekali bajunya, Bu. Rahma suka!" teriak Rahma girang. Rahma mengambil baju tersebut dan mengepasnya ke badan.


"Cepat pakai! Kasihan Ayah kelamaan menunggu kita." perintah bu Sarifah yang langsung dikerjakan oleh anaknya.


Selesai berganti pakaian, wajah Rahma yang polos dipoles sedikit make up. Tak membutuhkan waktu yang lama karena wajah Rahma sudah cantik hanya dengan sentuhan make up tipis.


Belum selesai dengan dandanan Rahma, terdengar suara sayup-sayup pak Dewa mengucap janji suci. Tak lama kemudian terdengar suara para tamu undangan.


"Sah!"


"Sah!"

__ADS_1


Mama Ratna dan Saroh menjemput bu Sarifah di kamarnya.


"Bi, ayo keluar! Paman sudah menunggu di luar." teriak Saroh seraya membuka pintu kamar dengan senyum mengembang.


Saroh ikut bahagia karena paman dan bibinya kembali bersatu. Tidak ada yang tahu jika sebenarnya ibu Saroh adalah kakak pak Dewa. Hanya Arya Dewanto dan keluarga Saroh saja yang tahu. Walaupun mereka saudara, ibu Saroh tidak tahu kabar adiknya itu hingga akhirnya adiknya datang meminta bantuan.


"Bibi cantik sekali, pasti Paman makin cinta deh!" kelakar Saroh masih dengan senyumannya yang mengembang.


Bu Sarifah hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari keponakannya itu.


Bu Sarifah keluar dari kamar digandeng oleh mama Ratna dan Saroh, sedangkan Rahma mengikuti dari belakang mereka.


*


*


*


Rumah sepi tamu ketika malam telah menyapa. Bahkan jam tujuh malam, masih ada beberapa orang yang datang mengucapkan selamat pada ibu dan anak itu.


Tepat jam sembilan malam, rumah itu sudah sepi. Tamu sudah habis, bahkan tetangga yang membantu sudah selesai membereskan segala kekacauan akibat pesta sederhana versi pak Dewa.


"Akhirnya kelar juga acaranya." ucap Rahma lemas karena kecapekan.


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar." sahut Frans yang duduk di samping Rahma.


"Kenapa sih kita juga ikut duduk di pelaminan? Padahal sudah lama nikahnya." protes Rahma dengan bibir cemberut.

__ADS_1


"Tidak usah protes, ini semua keinginan ayah. Dia ingin semua orang tahu jika anaknya sudah menikah. Agar tidak menimbulkan omongan orang, makanya kita juga ikut duduk di pelaminan."


"Iya juga sih, nanti orang mikir kita pacarannya kebablasan dan terlalu bebas. Padahal kita pacaran setelah menikah. Iya 'kan?"


"Sudah malam, kita tidur! Abaikan jika ada suara horor yang terdengar nanti." perintah Frans sambil berbisik.


"Suara horor apa?" Rahma ikut berbisik.


"Suara dari kamar sebelah. Nanti setelah mendengar suara itu, kalau kamu pengen bilang aja. Nggak usah malu-malu!" bisik Frans jahil.


"Kakak ishh!" sahut Rahma dengan wajah memerah karena malu.


"Ayah dan Ibu sedang MP, kita kapan?" tanya Frans seraya memeluk pinggang istrinya.


Sebagai laki-laki normal, dia pun menginginkan hal itu. Apalagi Dolly sering mengejeknya tidak mampu, padahal bukan karena tidak mampu. Semua itu dia lakukan karena ingin mendapatkan cinta Rahma terlebih dahulu, sebelum melakukan hubungan suami istri.


Frans ingin mereka melakukannya atas dasar cinta bukan nafsu belaka. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersabar mendapatkan cinta Rahma. Baru kemudian ia akan meminta haknya sebagai seorang suami.


Tak lama mereka memejamkan mata menuju ke alam mimpi. Seperti ucapan Frans sebelum tidur. Terdengar suara de sahan dan erang@n dari kamar sebelah. Pengantin baru itu memadu kasih hingga membuat adik kecil Frans terbangun.


"Sayang..." Frans pun membangunkan istrinya yang telah tidur.


Rahma tetap pulas, sehingga tangan Frans yang menjelajahi bagian atas tubuhnya tidak terusik.


Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1443 H


Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2