
Chico terbangun dengan nafas memburu dan keringat dingin membasahi badannya.
"Hah... hah...hah... kenapa setiap hari aku bermimpi dikejar anak kecil terus. Anehnya dia nangis minta kugendong. Siapa anak kecil itu?" monolog Chico masih dengan nafas memburu.
Mimpi itu terasa nyata sekali, walaupun dia menganggap mimpi hanya bunga tidur. Akan tetapi cukup mengganggu konsentrasi Chico.
Chico beranjak dari tempat tidurnya, dia berjalan menuju kulkas yang berada di sudut kamarnya. Mengambil air mineral dan menenggaknya hingga tersisa separuh.
"Aku harus segera menemui Sheila dan gadis itu. Aku tidak ingin dihantui rasa bersalah terus. Pasti mimpi itu untuk menunjukkan kesalahanku. Semoga bisa secepatnya bertemu dan masalah selesai. Huftt!"
Chico kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata, berharap dapat tidur nyenyak tanpa gangguan mimpi itu lagi.
*
*
*
Frans disambut dengan wajah cemberut Rahma. Frans pulang tanpa membawa satu buku pun, padahal tadi dia berkata hendak membeli buku diktat kuliah. Ternyata pulang sudah malam ditambah lagi pulang dengan tangan kosong.
"Mana bukunya, Kak? Rahma pinjam, siapa tahu pernah baca." todong Rahma begitu Frans melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
Rahma terus membuntuti Frans kemanapun melangkah. Sejak masuk rumah menuju dapur untuk mengambil minum, hingga akhirnya masuk ke kamar. Rahma melupakan rasa traumanya, demi mendapatkan bukti kecurigaannya.
Rahma curiga Frans kembali ke club bersama teman-temannya. Dia mencoba mengendus bau mulut Frans. Akan tetapi dia tidak mendapati bau alkohol ataupun asap rokok.
"Kamu mau tidur di sini?" ledek Frans karena Rahma mengikuti kemanapun dia melangkah.
"Kamu sudah kangen? Bentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Setelah itu nanti aku peluk kamu sampai puas!" imbuhnya dengan senyum jahil.
"Ih, apaan sih! Orang cuma mau lihat bukunya kek mana, tadi 'kan Kakak pamit beli buku. Kakak bohong ya?" ucap Rahma kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Kakak nggak jadi beli buku, besok aja dikerjakan di perpustakaan. Tadi ketemu temen ngajak ngopi, makanya nggak jadi beli buku. Puas?" jelas Frans dengan lembut.
"Kirain habis dari club!" gumam Rahma pelan tapi masih dapat didengar oleh Frans.
__ADS_1
Frans terkejut mendengar gumaman yang keluar dari mulut istrinya itu. Dia merasa heran kenapa Rahma sampai berpikir ke sana. Padahal dia sudah tidak pernah ke sana lagi sejak kejadian malam itu.
"Kakak tidak ke sana dan tidak akan pernah. Cukup malam itu yang terakhir kalinya Kakak pergi ke club terkutuk itu. Percaya sama Kakak, hmm!" janji Frans pada Rahma.
"Rahma pegang janji Kakak, sekali Kakak ingkar. Sulit bagi Rahma untuk percaya lagi pada Kakak," jawab Rahma.
"Kamu bisa pegang janji Kakak. Sekarang kita tidur, sudah malam. Besok jadwalku padat, ke kampus dan ke kantor. Mau tidur di sini atau di depan?"
Kamar Rahma berada tepat di depan kamar Frans, oleh karena itu Frans bertanya pada istrinya itu mau tidur dimana.
"Ishh, Rahma balik ke kamar aja! Met malam, met istirahat, Kak," kata Rahma sambil mengambil langkah seribu meninggalkan kamar suaminya.
"Dia masih saja takut, huftt! Sabar Frans, Sabar!" batin Frans sambil mengelus da danya.
Frans pun masuk ke kamar mandi untuk cuci tangan, muka dan kaki. Tidak lupa dia menggosok gigi. Semua itu Frans lakukan sebelum tidur untuk menjaga kebersihan diri. Selain itu juga membuat tidur lebih nyenyak.
*
*
*
Agatha begitu menyayangi Christie melebihi Dennis. Hal ini dikarenakan ayah Christie adalah cinta pertamanya. Mereka melakukan hubungan suami istri juga karena berdasarkan suka sama suka. Akan tetapi karena mengalami kecelakaan, ayah Christie meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setiap melihat Dennis, Agatha selalu teringat suaminya yang selalu datar dan dingin. Sehingga Dennis pun tidak merasakan kasih sayang yang meluap dari seorang ibu.
Agatha pun beranjak dari duduknya karena adanya penggilan alam. Dia berlari ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Saat Agatha berada di kamar mandi, tangan Christie mulai bergerak pelan. Sepertinya kesadaran Christie sudah mulai kembali. Bukan hanya itu saja, detak jantungnya pun mulai normal dan bergerak cepat.
Agatha keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru, karena mendengar perubahan suara pada mesin monitor jantung Christie. Agatha langsung memencet tombol yang ada di dekat ranjang Christie.
Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Christie.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Agatha begitu dokter selesai memeriksa Christie.
__ADS_1
"Sudah ada kemajuan. Ibu sekarang lebih baik mengurus administrasi agar pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat inap." jawab dokter tersebut.
"Terima kasih, Dok."
Agatha langsung mengurus administrasi agar Christie bisa segera dipindahkan.
Beberapa jam kemudian...
Christie tampak kembali menggerakkan tangannya, tidak hanya itu saja. Matanya pun juga menunjukkan pergerakan. Tak lama kemudian mata Christie mulai sedikit terbuka.
Agatha yang merasakan adanya pergerakan langsung berbinar.
"Christie, kamu sudah bangun, Nak?" ucap Agatha dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Ada rasa bahagia dan haru datang secara bersama.
"Mom..." panggil Christie lirih.
"Iya, Sayang. Kamu haus? Mau minum? Tunggu sebentar, Mommy ambilkan minum!" cerca Agatha dengan tubuh bergetar.
"Ha... us..." ucap Christie lirih hampir tidak terdengar.
Agatha meletakkan pipet pada gelas yang berisi air putih, kemudian mendekatkan pada anaknya.
Christie hanya menyesap sedikit air yang disodorkan padanya. Badannya benar-benar lemas tanpa tenaga.
"Lagi, Nak! Sedikit lagi, biar tenggorokanmu basah." bujuk Agatha, akan tetapi hanya dijawab dengan gelengan kepala yang sangat lemah.
"Mana yang sakit, Sayang? Bilang sama Mommy, Nak," Agatha kembali berucap.
Pertanyaan Agatha hanya dijawab dengan gelengan kepala saja oleh Christie. Tak lama kemudian Christie pun kembali terlelap.
Agatha merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa anak perempuan kesayangannya. Dia yang merasa sakit hati karena diabaikan oleh suaminya, sehingga membuatnya melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.
Dewa yang selalu datar dan dingin padanya, membuat Agatha frustasi. Pada awal pernikahan dia sangat bahagia karena Dewa sangat perhatian padanya. Akan tetapi setelah perusahaan ayahnya dilimpahkan pada Dewa. Dewa lebih memilih perusahaan dari pada keluarganya.
Agatha sempat membayar orang untuk mengikuti dan menyelidiki apa saja yang dilakukan oleh Dewa. Ternyata Dewa tipe laki-laki yang setia dan workaholic. Dewa memang tidak pernah selingkuh, akan tetapi sikap datar dan dinginnya sangat menyiksa Agatha.
__ADS_1
Sampai di kemudian hari, orang suruhannya melihat Dewa sedang makan siang bersama Rahma. Sejak saat itu, Agatha merasa hancur. Apalagi setelah itu, Dewa lebih sering meninggalkan rumah utama.