Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 117


__ADS_3

Acara syukuran yang digelar di rumah Frahma berjalan lancar. Baby twins Arka dan Arsha pun tidak rewel selama prosesi acara aqiqah hingga selesai. Tamu sudah banyak yang pamit pulang, kini hanya tinggal beberapa orang saja. Vani dan Rio masih asik bermain dengan baby twins.


"Kalian berdua sudah cocok jadi orang tua, lebih baik segera menyusul dari buat dosa!" kelakar Frans yang tiba-tiba muncul di belakang Rio dan Vani.


"Enak aja! Kita masih muda, masih pengen bebas. Iya nggak, Yo?" sahut Vani meminta persetujuan Rio.


"Nyenengin emak sendiri aja belum, gimana mau nyenengin anak orang coba?" ujar Rio seraya berbalik menghadap ke Frans.


"Maksudnya?" tanya Frans cengo.


"Kalau kita nikah 'kan otomatis nyenengin anak orang. Semuanya kita masih tergantung sama orang tua, kuliah belum kelar, biaya semua kebutuhan kita masih ditanggung orang tua. Tiba-tiba kita menikah, kerja uang dikasih ke bini. Kapan kita mau nyenengin hati orang tua? Belum bisa balas budi malah tambah merepoti." Rio mengungkapkan apa yang menjadi pendapatnya tentang pernikahan dini.


"Lo nyindir Gue? Anjir!" dengkus Frans kesal.


"Gue nggak nyindir Lo, Bray! Gue cuma bicara dari sudut pandang Gue pribadi. Dalam kamus hidup Gue, membalas budi pada orang tua itu paling penting. Terutama pada nyokap! Gue nggak akan nikah sebelum Gue bisa membahagiakan nyokap. Sorry kalau Lo merasa!" jawab Rio panjang lebar.


"Gue setuju sama Lo. Pacaran bisa dilakukan setelah menikah, menikah pun bisa nanti setelah kewajiban kita sebagai anak telah ditunaikan. Kecuali, Tuhan membuat garis kehidupan untuk cepat ketemu jodoh. Karena semua yang kita lakukan atas campur tangan Tuhan," Vani menimpali pernyataan Rio.


"Nah, Vani betul. Kalau kejadiannya kek Lo berdua, memang kalian harus segera menikah. Kalian dipertemukan dengan jodoh saat usia masih sangat muda. Gue sih berharap kejadian kalian tidak menimpa Gue," sahut Rio.


"Kalian berdua kompak banget! Kalian memang jodoh. Saling membela, saling menguatkan, saling melindungi... Pokoknya semua kata saling untuk menggambarkan kalian berdua.


"Ngaco!" Vani langsung melempar bantal kecil Frans.


Frans terkekeh melihat kekesalan di wajah temannya itu. Lama kelamaan kekehan Frans menjadi gelak tawa karena sekarang tidak hanya Vani aja yang bisa menunjukkan wajah kesal. Rio pun tampak kesal mendengar candaan Frans.


"Gue pulang! Jangan harap Gue mau bantu Lo lagi!" sentak Rio sambil berdiri dan melenggang pergi.


"Lah, ambekan! Sudah tuwir woiy. Kagak ada pantes-pantesnya Lo merajuk kek bocah!" ejek Frans lagi, dia berteriak agar Rio mendengarnya.

__ADS_1


"Emang Lo! Makin tua, sudah punya anak dua kelakuan Lo makin gesrek. Kena baby blue, Om?" gerutu Vani seraya meletakkan baby Arsha ke dalam box-nya.


"Kemana sih bini Lo? Sedari tadi ngilang nggak balik-balik." lanjut Vani setelah meletakkan baby Arsha dengan wajah ditekuk karena kesal.


Tak lama kemudian, Rahma datang membawa sepiring kue basah dan beberapa gelas berisi air sirup.


"Lho, mana si Rio?" tanya Rahma begitu meletakkan nampan yang dibawanya tadi.


"Ngambek dia!" jawab Frans langsung mengambil segelas es sirup yang baru saja diletakkan oleh Rahma.


"Kok ngambek, kenapa?"


"Laki Lo reseh! Sedari tadi ledekin kami mulu. Lo 'kan tahu sendiri, dia itu nggak bisa disinggung soal pasangan. Tapi laki Lo jodoh-jodohin Gue ma dia terus. Ngambek deh!'' ungkap Vani sambil mengangkat kedua tangannya.


"Sejak kami menikah dia memang berubah. Dia selalu menyindir, katanya, kalau belum bisa membuat ibu kita bahagia paling tidak jangan buat dia kecewa. Padahal kalau bisa memilih, aku pun akan memilih membahagiakan ibu terlebih dahulu. Menjadi orang sukses seperti keinginan beliau. Akan tetapi kita tidak bisa memilih garis hidup yang akan kita lalui."


"Ibarat nasi sudah menjadi bubur, sekarang adalah bagaimana cara kita membuat bubur itu bisa dinikmati dengan rasa yang enak dan istimewa tentunya. Bukan malah membuang bubur tersebut." Rahma akhirnya mengeluarkan semua ganjalan di hatinya.


"Maaf, Sayang. Semua ini salahku," ucap Frans sendu setelah melihat raut wajah penuh sesal istrinya.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Tidak usah diingat lagi. Sekarang makan apa yang ada di depan mata saja." sahut Rahma mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


Dua tahun kemudian...


"Arsha, Arka! Ayo bobok, main-mainnya nanti lagi ya." ajak Rahma pada kedua anaknya yang sedang menyusun lego.


"Bental, Mama. Bang Alka belum ngantuk," sahut Arka masih tetap menekuni mainannya.


"Adik Cha juga masih ingin main-main, Mama," jawab Arsha sembari mengucek matanya sebelah, sedang tangan satunya lagi memegang boneka gajah.

__ADS_1


Rahma tahu anak-anaknya sudah mengantuk karena jam tidur siang mereka sudah terlewat setengah jam. Rahma terlalu asik membuat program keuangan untuk perusahaan sang suami.


Frans sengaja meminta bantuan pada istrinya itu, untuk membuat beberapa program untuk perusahaan tempatnya bekerja. Rahma menyanggupi karena pekerjaan itu boleh dikerjakan di rumah. Walaupun Rahma sibuk berkarir, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu muda.


Rio dan Vani juga bekerja di perusahaan tersebut setelah wisuda setahun yang lalu. Sedangkan Frans wisuda sarjana baru setengah tahun. Rahma baru sebulan meraih gelar magisternya.


Rio tidak pernah lagi menyindir ataupun membahas tentang pernikahan dini yang dilakukan oleh teman-temannya. Dia sebenarnya tidak iri melihat teman-temannya menikah muda. Dia hanya teringat wajah kecewa ibunya jika dia menikah di usia dan belum memiliki pekerjaan yang pasti.


"Kalau Abang dan Adik tidak mau bobok siang, kalian berdua tidak boleh keluar rumah sampai besok sore. Mau?" ancam Rahma secara halus.


Arka dan Arsha paling tidak suka jika seharian dikurung di dalam rumah. Mereka lebih senang bermain di halaman rumah, memainkan kran air hingga halaman banjir dibuat mereka.


"Iyaa, iya... Bang Alka bobok!" teriak Arka kesal.


Saat abangnya marah karena harus berhenti bermain, beda halnya dengan sang adik Arsha. Arsha langsung menggendong bonekanya sambil berlari menuju ibunya.


"Ingat, bereskan mainannya sebelum ditinggalkan!" bujuk Rahma agar anaknya terbiasa membereskan barang-barang yang telah mereka serak.


"Aciaaapp, Mama!"


"Mama, adik Cha ndak celak mainan. Adik Cha cuma gendong Pipi sejak tadi!" elak Arsha seraya berlari ke pelukan ibunya.


"Adik bantu Abang kalau begitu," ucap Rahma lembut.


"Nti Cha capek, Mama!" Bocah usia dua tahun itu pandai sekali menjawab setiap pernyataan ibunya.


"Kalau capek itu bobok, bukan main-main terus!" Rahma gemas sendiri melihat kepandaian kedua anaknya.


"Iya, Ma. Ayok bobok!" Arsha menarik tangan ibunya karena rasa kantuk yang menderanya. Sedangkan wajah Arka semakin cemberut karena tidak dibantu membereskan mainan.

__ADS_1


Maaf baru bisa up, di sekitar rumah ada kemalangan. Kemarin anak kecil berusia enam tahun meninggal karena DBD, tadi pagi ada lagi yang meninggal. Selain itu, othor kecapekan hingga kambuh lagi. Jadi untuk beberapa hari ini slow up dulu🙏🙏🙏🙏


__ADS_2