
"Rahma ada sama Lo nggak? Tadi malam dia pergi dengan membawa semua pakaiannya," tanya Frans.
"Tidak. Dia tidak pernah datang lagi kesini sejak menjadi asisten dosen. Jam terbangnya tinggi makanya dia tidak bisa kemana-mana lagi. Ada apa?" sahut Vani.
"Dia pergi dari rumah tanpa pamit. Apa Lo tahu dia dimana sekarang?" tanya Frans lagi.
Vani melihat jam yang tergantung di dinding.
"Dia ada kelas mengajar pagi ini jam setengah delapan, setelah itu kami kelas bersama jam sembilan. Hari ini jadwal dia padat, sampai malam mungkin, karena dosennya sedang keluar kota. Kalau ingin berbicara dengannya, nanti malam saja Lo tunggu di lobi kampus sekitar jam tujuh malam," terang Vani.
"Gue sambil sarapan ya, sudah lapar!" lanjutnya.
"Iya, it's ok." jawab Frans sambil mengangkat jempol dan jari telunjuknya membentuk huruf o.
Vani menikmati sarapannya di depan Frans, tidak lupa dia juga menawarinya. Vani sarapan dengan setangkup roti tawar yang dioles selai coklat.
"Kalau menurut Lo, Rio sama Rahma ada hubungan apa?" tanya Frans setelah Vani mulai menggigit sandwich buatan sendiri.
"Saudara! Mereka seperti kakak beradik. Saling melindungi dan mendukung. Kenapa?" jawab Vani dengan mulut penuh.
Frans pun menganggukkan kepalanya saja mendengar jawaban Vani. Berarti dia salah paham terhadap mereka berdua.
"Bukannya mereka pacaran?" tanya Frans dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Mereka hanya drama saja di depan anak-anak, sebenarnya tujuan utama mereka biar tidak ada yang mengganggu. Jika kita sudah memiliki pasangan, otomatis tidak akan ada lawan jenis yang akan mendekati. Lebih tepatnya, orang akan mundur jika orang yang diincar sudah memiliki pasangan." jelas Vani sambil sesekali menggigit sarapannya hingga habis.
"Lo mau ke kampus sekarang?" tanya Frans ketika dilihatnya sarapan Vani sudah habis.
"Gue nanti, nunggu cowok Gue jemput," tolak Vani beralasan agar Frans tidak sakit hati atas penolakannya.
"Laku juga ya Lo ternyata!" ejek Frans sambil tersenyum.
"Emangnya Lo! Tampang keren, muka cakep tapi nggak pinter cari pasangan." balas Vani menyeringai.
"Sudah pinter ya sekarang!"
"Harus!" jawab Vani mantap.
"Gue cabut dulu, thanks ya!" kata Frans sambil meninggalkan kos-kosan Vani.
Flashback Off
Setelah selesai mengajar, Rahma hendak makan siang di kafe yang tidak jauh dari kampus. Sebenarnya dia ingin makan yang harganya murah tapi dia ingin makan sesuatu yang beda hari ini. Jadilah dia berjalan seorang diri menuju kafe tersebut.
Saat akan menyeberang Rahma tidak melihat kanan kiri, dia langsung melenggang begitu saja. Tanpa dia tahu ada yang berteriak memanggil namanya.
Sesampainya di depan kafe, Rahma langsung masuk dan memilih tempat duduk yang kosong. Siang ini kafe sangat ramai karena bertepatan dengan jam makan siang.
__ADS_1
"Sendirian, Nak?" sapa seorang pria paruh baya pada Rahma.
Rahma mendongakkan kepalanya melihat orang yang telah menyapanya. Tampak olehnya wajah berseri versi tua ayahnya.
"Pak Dewa? Iya, Pak. Saya sendiri, bapak?" sahut Rahma refleks begitu menyadari orang di depannya adalah orang yang tadi malam telah menolongnya.
"Saya sendiri, kebetulan saya melihat kamu tadi. Jadi tidak ada salahnya saya makan siang di sini sekalian. Boleh duduk di sini?" ucap pak Dewa.
"Silakan, Pak!" jawab Rahma sambil tersenyum ramah.
Pak Dewa pun duduk di depan Rahma. Sejak tadi malam, pikiran pak Dewa selalu tertuju pada Rahma. Beliau merasa seperti mengenal dekat, padahal seingatnya mereka baru saja bertemu.
Sambil menunggu pesanan mereka datang mereka pun mengobrol tanpa ada rasa canggung seperti anak dengan ayahnya.
"Rahma sudah bekerja?" tanya pak Dewa.
"Alhamdulillah, sudah. Walaupun hanya separuh waktu, yang penting halal dan bisa menambah uang jajan." jawab Rahma dengan wajah berseri, Rahma tidak tahu kenapa dia tiba-tiba begitu bahagia kala bertemu dengan pak Dewa.
"Masih kuliah?"
"Masih, Pak. Saya baru semester lima," sahut Rahma.
"Wah, hebat ya kamu. Kuliah sambil bekerja. Jarang lho anak kuliah sekarang sambil bekerja." puji pak Dewa.
__ADS_1
"Tidak juga, Pak. Di kampus kami banyak kok mahasiswa yang bekerja sambil kuliah," jawab Rahma merendah.
Saat mereka asik ngobrol sambil makan, tanpa mereka sadari ada yang menguping pembicaraan mereka.