
Pak Dewa sengaja datang ke rumah Bu Sarifah ketika makan malam. Beliau ingin sekali bisa makan malam bersama anak istrinya setiap hari. Akan tetapi, keadaan tidak mengijinkan.
Sudah dua hari Christie dibawa berobat ke Singapura, sudah seminggu Christie koma sehingga Agatha membawanya berobat ke Singapura. Semenjak Christie masuk rumah sakit, Agatha tidak pernah pulang ke rumah. Dennis, adik Christie yang masih duduk di bangku SMA tidak pernah diurus lagi.
Selama Christie sakit juga, pak Dewa jarang pulang ke rumah yang ditempatinya bersama Agatha dan anak-anaknya. Dia lebih memilih untuk tinggal di apartemen miliknya. Walaupun sebenarnya ingin pulang ke rumah Sarifah, hal itu diurungkan mengingat Sarifah yang kekeuh bercerai.
"Ayah? Ayo masuk, Yah! Kebetulan kami sedang makan malam." ajak Rahma pada pak Dewa ketika baru tiba.
"Kebetulan sekali! Ayah juga belum makan malam," jawab pak Dewa sumringah sambil mengikuti langkah anaknya yang terus menuju belakang.
"Bu, Ayah datang! Rahma ajak makan aja sekalian, soalnya Ayah juga belum makan," ujar Rahma begitu mereka sampai di ruang makan.
Bu Sarifah mengalihkan pandangannya dari piring ke arah anaknya dan mengangguk.
"Iya, tidak apa-apa. Ibu tadi masak lumayan banyak. Masih cukup kok kalau cuma tambah satu atau dua orang." sahut bu Sarifah.
"Ayo, Yah! Ayah duduk aja di sebelah Ibu. Biar Rahma yang sendokkan nasi Ayah," ucap Rahma pada pak Dewa, tangannya dengan cekatan langsung menyendokkan nasi beserta sayur dan lauk pauknya.
"Terima kasih, Sayang!" kata pak Dewa pada anaknya.
Mereka berempat melanjutkan makan malam dalam keheningan. Tiara sudah diajak pulang oleh Dolly, sehari setelah Dolly datang. Walaupun dengan drama terlebih dahulu, akhirnya Tiara mau diajak pulang ke kota tempat tinggal suaminya.
__ADS_1
Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga, bercengkrama bersama. Akan tetapi, belum lama mereka ngobrol ponsel pak Dewa berdering.
Pak Dewa melihat nama kontak yang muncul di layar ponselnya. Tertera nama My Son, itu berarti anak laki-lakinya sedang mencari teman ngobrol.
Pak Dewa meninggalkan ruang makan agar lebih leluasa ngobrol dengan anak tersebut. Selain itu juga untuk menjaga perasaan Sarifah. Walaupun belum ada perubahan keputusan dari Sarifah, akan tetapi dia harus tetap menjaga perasaannya. Hal ini ditujukan untuk memikat hati wanitanya itu.
"Siapa yang menelepon Ayah, ya? Kenapa Ayah langsung pergi begitu melihat layar ponselnya?" tanya Rahma pada suami dan ibunya, akan tetapi keduanya hanya mengangkat kedua tangannya dan menggeleng tanda sama-sama tidak tahu.
"Kenapa sih main rahasia-rahasiaan? Padahal kita 'kan keluarga!" gerutu Rahma.
"Nggak boleh begitu, setiap orang butuh privasi. Jadi hargai mereka, jika kamu juga menginginkan privasi kamu tidak diganggu. Paham?" tutur bu Sarifah pada Rahma sambil mengelus rambutnya.
Rahma pun mengangguk tapi dengan bibir maju beberapa senti, menunjukkan kekesalannya.
"Bibirnya minta dicium nih?" ledek Frans sambil tersenyum.
"Enak aja! Siapa yang minta cium? Usah ngadi-adi kamu!" sahut Rahma dengan bibir lebih maju lagi
Frans yang melihat bibir Rahma pun akhirnya mencubit bibir itu saking gemasnya.
"Ibu..." adu Rahma manja sambil menggoyangkan lengan bu Sarifah.
__ADS_1
Tiba-tiba pak Dewa mendekati mereka dan pamit pulang. Padahal dia belum menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Akan tetapi saat ini Dennis lebih membutuhkan dirinya.
"Aku harus pulang, Dennis saat ini butuh teman. Dia ada sedikit masalah dan di rumah sendirian. Lain kali aku akan datang lagi dan menginap. Maaf..." jelas pak Dewa kemudian meninggalkan rumah itu sebelum mendapat jawaban dari bu Sarifah, hanya Rahma yang semakin kesal akhirnya menanggapi penjelasan pak Dewa.
"Nggak apa-apa, Yah. Toh kami ini bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Seingat dan seluangnya Ayah saja, tidak usah dipaksakan ke sini!" cibir Rahma yang langsung mendapat cubitan dari ibunya.
"Aww... sakit, Bu!" jerit Rahma sambil mengusap-usap lengannya yang terkena cubitan.
Lengan Rahma tampak memerah karena cubitan bu Sarifah yang spontanitas itu ternyata meninggalkan bekas.
Frans yang mendengar Rahma mengaduh pun langsung mengambil lengan istrinya itu. Diusapnya lengan itu sambil ditiup pelan, dengan maksud agar sakitnya berkurang.
"Sakit, ya? Sini Kakak obatin," ucapnya.
Bu Sarifah tampak kesal sekali dengan sikap Rahma baru saja.
"Mulut kamu kebiasaan!" omel bu Sarifah.
Rahma jika bersama ibunya bebas mengekspresikan perasaan. Frans menjadi banyak tahu sifat asli Rahma, setelah tinggal beberapa bulan menjadi suaminya. Selama mengenal Rahma, dia tidak mengetahui sisi manja wanita yang telah mengisi seluruh ruang hatinya.
"Mungkin Rahma masih ingin bersama Ayah, Bu. Sudah terlalu lama dia kehilangan ayahnya, wajar jika Rahma ingin diperhatikan juga oleh Ayah," Frans mencoba meredakan kekesalan ibu mertuanya, sekaligus memberikan pembelaan untuk Rahma.
__ADS_1