
Bu Sarifah masih tetap pada keputusannya semula, membuat pak Dewa harus lebih keras lagi menaklukkan hati wanitanya itu.
Pak Dewa pun pamit kembali ke kantor, setelah menunggu beberapa saat tidak ada perubahan keputusan dari istrinya.
Pak Dewa memilih kembali ke kantornya dari pada memaksakan kehendak. Dia takut istrinya akan semakin membenci, jika terlalu memaksa.
"Aku kembali ke kantor. Semoga besok kamu bisa berubah pikiran dan membatalkan gugatan itu," pamit pak Dewa sambil berharap adanya perubahan keputusan yang akan diambil oleh Sarifah.
"Iya, Mas. Hati-hati!" jawab bu Sarifah lirih.
Bu Sarifah sebenarnya ingin mempertahankan pernikahannya, akan tetapi saat ini istri pak Dewa bukan hanya dirinya saja. Ada perasaan wanita lain yang harus ia jaga.
Selepas kepergian pak Dewa, kebetulan Rahma pulang kuliah lebih cepat dari biasanya. Dosen yang mengajar sedang berhalangan hadir.
"Kok Ibu di teras tengah hari begini? Barusan ada tamu, ya?" tanya Rahma saat didapatinya sang ibu masih berdiri di teras rumah.
"Ayahmu baru saja dari sini. Tumben jam segini sudah pulang?" balas bu Sarifah.
"Dosennya nggak datang. Jadi pada bubar, ada yang jalan-jalan, ada juga pulang. Ngapain ayah ke sini, nggak takut istri mudanya tahu?" jawab Rahma sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Oh, ya sudah. Kamu sudah makan?" ujar bu Sarifah pada anak gadisnya yang sudah tidak gadis lagi
__ADS_1
"Belum. Rahma laper banget. Ibu masak apa untuk makan siang?"
"Si Bibi yang masak. Tadi Ibu belum sempat masak ayahmu datang. Jadi Ibu hanya menyiapkan bahan yang mau dimasak saja. Kalau sudah laper buruan cuci tangan dan kaki lalu makan!" jelas bu Sarifah sambil mendorong Rahma ke kamar mandi yang ada di dapur.
*
*
*
Sheila datang ke rumah Christie yang juga rumah bibinya. Dia tadi mendapat paket yang berisi belanjaan Christie. Christie sering belanja dengan alamat rumah Sheila.
"Lo beli apaan sih? Ringan banget." tanya Sheila saat sudah berada di kamar Christie. Dia melemparkan kotak kecil yang dibawanya ke arah Christie.
Christie menangkap kotak kecil itu kemudian membukanya dengan terburu-buru. Betapa terkejutnya Sheila ketika ia melihat apa yang berada di dalam kotak kecil itu.
"Obat apaan itu? Jangan bilang kalau itu obat peluntur!" cerca Sheila dengan badan gemetar saking terkejutnya.
"Jangan nekat Lo, Chris!" lanjutnya.
"Ini jalan satu-satunya biar Gue tidak diusir bokap sama nyokap dari rumah. Lihat Gue mabuk aja, nyokap langsung menyita semua fasilitas Gue. Apalagi kalau ketahuan Gue hamil di luar nikah. Stress Gue!" jawab Christie dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Bukan seperti ini juga jalan keluarnya, Be*go!" jerit Sheila.
"Terus Gue mesti gimana, Shei? Gue harus bagaimana?" teriak Christie frustasi sambil mengguncang tubuh sepupunya itu.
"Lo ingat-ingat, siapa yang sudah buat Lo bunting! Kalau memang Chico, akan Gue pastikan dia nikahin Lo. Percaya sama Gue!" kata Sheila mencoba menenangkan Christie yang kalut.
Christie terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat kejadian dua bulan yang lalu. Lumayan lama waktu yang digunakan Christie, untuk mengingat kembali kejadian yang sudah berlangsung lama.
"Gue keluar dari Club bersama Chico. Katanya dia mau mengantar Gue. Gue masuk ke mobilnya, habis itu Gue lupa!" cerita Christie merasa kurang yakin dengan apa yang dialaminya.
Wajar jika Christie ragu-ragu, dia terbangun sudah dalam keadaan naked. Tidak hanya itu saja, dia tidak tidur di kamarnya. Dia merasakan inti tubuhnya sakit dan perih. Akan tetapi dia tidak mendapati seseorang yang bisa ditanya.
"Lo kenapa bisa melupakan kejadian penting kek gitu sih!" teriak Sheila ikut frustasi karena kecerobohan sepupunya.
Memiliki saudara sepupu yang seumuran, membuat Sheila dan Christie menjadi semakin lengket seperti saudara kandung.
"Sorry! Gue beneran nggak ingat," ucap Christie sambil meringis.
"Terserah Lo aja, deh!" sahut Sheila ketus sambil berbalik arah hendak pulang.
"Shei! Sheila! Lo jangan pergi dulu, temani Gue di sini!" panggil Christie dengan suara keras, berharap saudara sepupu yang merangkap teman itu mau berbalik lagi ke kamarnya.
__ADS_1
Sheila tetap berlalu meninggalkan kamar Christie tanpa menggubris panggilan Christie.
Setelah Sheila pergi, Christie langsung meminum semua pil yang baru diantarkan oleh Sheila tadi.