
Aku terbangun aku duduk dulu sejenak, kita tidur di lantai ada juga yang lainnya yang sedang menunggu pasien. Setelah itu aku langsung segera pergi ke kamar mandi, kemudian aku mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Aku berdo'a kepada Allah agar di berikan jalan dan kemudahan, setelah itu aku berdzikir hingga tak terasa sampai adzan subuh tiba. Setelah itu aku langsung melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama Pak Jamal, entah kenapa saat ini rasanya kepalaku ringan setelah mengerjakan sholat aku mengaji sebentar.
"Pak, aku mau pulang dulu sebentar mau mengganti pakaian dulu !"
"Iya nak silahkan, kamu pergi sekolah saja biar Bapak yang nunggu Ibu"
"Iya Pak, Bapak tunggu dulu sebentar, sekalian nanti aku bawakan sarapan"
"Gak usah nak, kamu langsung pergi ke sekolah aja nanti Bapak bisa beli di luar"
"Aku bakal kesini lagi ko, nanti kita sarapan nya bersama Pak, aku mau langsung pulang !"
"Yaudah nak hati-hati"
Aku berlari dalam beberapa detik saja hingga aku sampai di rumah, aku langsung mandi dan memakai seragam sekolah ku. Hari ini sebenarnya aku ingin izin gak masuk sekolah, gak mungkin meninggalkan Bapak menunggu sendirian di rumah sakit. Aku mau ke sekolah sebentar untuk meminta izin, tapi sebelumnya aku pergi ke rumah sakit. Aku kasihan sama Bapak pasti belum sarapan. Setelah berada di rumah sakit, aku beli dulu sarapan dan kemudian kita sarapan bersama. Aku sengaja pakai pakaian sekolah, memang aku sendiri mau pergi ke sekolah tapi cuma izin. jika nanti tau Bapak aku ternyata izin pasti dia tidak akan mengizinkan aku untuk ikut menunggu Ibu di rumah sakit.
"Padahal kamu langsung ke sekolah aja nak jangan ke rumah sakit duku, nanti sekolahnya kesiangan"
"Gak apa-apa ko Pak masih lama masuknya juga, Bapak sebaiknya sarapan dulu !"
"Bapak gak nafsu makan nak, Bapak bingung memikirkan biaya operasi untuk Ibu"
"Bapak tenang aja, aku ada ko nanti akan langsung aku bayar agar Ibu langsung di operasi"
"Jangan nak, memangnya kamu punya uang sebanyak itu ?"
"Dari hasil nabung Pak, jadi ada yang borong hasil karya aku dan uangnya ada nanti pulang sekolah akan aku bawa uangnya" ucapku bohong
"Benarkah itu nak ? Tapi Bapak jadi benar-benar merasa tidak enak dan terus merepotkan kamu, padahal kamu sendiri sangat membutuhkan uang itu"
"Bukannya rezeki itu sudah ada yang mengatur Pak, ini mungkin jalan dari Allah untuk Ibu. Aku ikhlas ko Pak, aku ingin melihat Ibu kembali sehat"
Mata Pak Jamal sampai berkaca-kaca, dia tertunduk
"Semoga Allah membalas semua kebaikan kamu nak, rezeki kamu semakin di lancarkan"
"Aamiin, makanya Bapak makan dulu ya jangan mikirin biaya operasi Ibu, tenang aja sudah ada ko"
"Iya nak, sekarang Bapak bisa tenang. Terima kasih banyak ya nak, kamu lebih baik dari pada anak Bapak sendiri padahal kamu bukan siapa-siapa Bapak"
"Siapa bilang aku bukan siapa-siapa Bapak, bukannya kita ini sama-sama orang muslim dan cucu nya nabi Adam ? berarti kita masih sodara dong Pak" Pak Jamal mulai tersenyum
Aku bahagia melihat Pak Jamal tersenyum, maafkan aku Pak telah berbohong, aku sendiri tidak tau nyari uang kemana. Aku tidak ingin melihat Pak Jamal terus sedih dan terus memikirkan Ibu, aku takut beliau sendiri sakit. Aku mau pergi ke jalan mawar gak tau ada apa, kata kakek aku harus pergi ke sana.
"Kamu bisa saja nak, yaudah kita sarapan dulu kamu sendiri harus cepat-cepat pergi ke sekolah"
"Iya Pak, Bapak yang banyak ya makannya !"
"Iya, enak banget nasi kuning nya nak. kamu beli dimana ?"
"Aku beli di dekat rumah sakit Pak"
Pak Jamal makan dengan lahapnya, aku merasa lega melihat Bapak kembali tersenyum. Setelah selesai makan, aku langsung segera pamit untuk pergi ke sekolah.
"Pak, kalau begitu aku sekolah dulu !"
__ADS_1
"Iya nak, belajar yang rajin ya hati-hati !"
"Iya Pak, Bapak juga di sini hati-hati aku akan langsung kembali"
"Iya nak"
Aku pergi ke sekolah secepat mungkin, setelah hampir tiba aku mulai jalan kaki. Kalau dari dulu aku punya kekuatan bisa lari secepat ini, mungkin dari rumah ke sekolah juga akan cepat tidak perlu mencari tempat tinggal yang dekat. Tapi rencana Allah sangat indah, ada kalanya aku berjuang dulu merasakan pedihnya hidup. Aku sudah makan asam garam, sampai sekarang juga masih terus berjuang. Kehidupan itu tidak akan selalu manis dan mulus, akan ada banyak bumbu kehidupan yang beraneka rasa. Aku harus bisa merasakan pahit, asin dan semua rasa agar suatu saat nanti jika aku sudah menemukan rasa manis, akan bisa menikmatinya dengan bahagia. Semua keberhasilan yang di mulai dari kejujuran, perjuangan dan kegagalan, akan jauh terasa indah. Berbeda jika kita mengambil cara licik atau jalan pintas, keberhasilan itu tidak akan berkah dan bertahan lama, akan terus di hantui rasa bersalah.
Aku sudah meminta izin pada guru kelas ku, aku mengatakan sejujurnya kalau aku menunggu Ibu yang sedang sakit. Sebenarnya bisa saja jika Bapak sendiri yang menunggu Ibu tapi pasti Bapak akan kerepotan jika dia sendiri, terlebih Bapak pasti bingung jika nanti di minta pihak rumah sakit untuk mengurusi Ibu. Dari sekolah, aku langsung pergi ke jalan mawar di depan bank. Aku gak tau mau ngapain, apa iya kakek menyuruhku untuk merampok bank ? Karna gak mungkin dapat uang banyak dalam waktu singkat. Astaghfirullah pikiran ku sudah aneh-aneh, aku berdiri di sini sambil melihat bank di depan sana. Hingga kemudian aku melihat ada orang yang keluar dari bank dengan membawa koper. Sepertinya itu isinya uang semua, hingga tiba-tiba ada orang yang merampas kopernya.
"Maliiiiiiiiiiiiiing........ Maliiiiiiiiiiiiing..... Tolooooooooong..... !"
Kebetulan di sini sepi karna masih jam 9 pagi orang-orang sedang beraktivitas semua. Aku langsung berlari dan mengejar orang itu, dia memakai tergos pakaiannya serba tertutup. Setelah dekat, aku menendang orang itu sampai dia tersungkur jatuh.
"Berikan koper nya !"
"Enak aja, anak kecil jangan ikut campur"
"Berikan cepat ! Kamu tidak berhak mengambil milik orang lain"
"Alah kecil-kecil sudah berdakwah, sekolah aja yang pinter jangan nasehatin orang"
Aku langsung menghajar orang itu, kita saling berkelahi hingga kemudian aku melumpuhkannya dengan membuat dia tidak bisa berkutik. Aku tarik kedua tangannya ke belakang, aku dorong orang itu. Hingga kemudian datanglah polisi dan pemiliknya, aku serahkan koper nya sama Bapak itu.
"Terima kasih banyak Dek, kamu sangat pemberani sekali untung aja copet nya berhasil kamu tangkap kalau enggak Bapak gak tau bagaimana"
"Sama-sama Pak, itu sudah kewajiban sebagai sesama manusia harus tolong menolong"
"Dek terima kasih banyak, adek ini bukannya Ilyas ya ?" ucap Pak Polisi aku ingat waktu itu saat aku di sekap, waktu perdagangan organ tubuh.
"Pasti tau dong, kamu kan pahlawan hebat bisa melumpuhkan bisnis organ tubuh waktu itu. Terima kasih banyak ya, kamu memang hebat"
"Sama-sama Pak, says tadi kebetulan lewat"
"Kalau begitu Bapak permisi dulu orangnya akan segera di hukum"
"Iya Pak"
Pak Polisi membawa copet itu pergi untuk di bawa ke kantor polisi
"Ayo Dek ikut Bapak dulu !"
"Tapi Pak, aku sedang buru-buru"
"Sebentar aja yu !"
"Yaudah Pak"
Bapak itu membawaku ke bank dan kita masuk ke dalam, aku bingung kenapa di bawa kesini. Kita masuk ke dalam ruangan, saat aku lihat di dalam ruangan itu ada tulisan direktur.
"Silahkan Dek duduk ! Mau minum apa ?"
"Gak usah repot-repot Pak terima kasih"
"Cuma minuman, ini ada susu Bapak buatkan ya ?"
__ADS_1
"Aduh Pak aku jadi gak enak"
"Rezeki jangan di tolak, kamu sangat baik dan jujur, Bapak polisi tadi juga mengatakan kalau adek ini hebat"
"Terima kasih banyak Pak, saya biasa saja saya sekedar membantu"
"Tapi membantu itu sangat mulia, Adek ini tadi kata Pak polisi namanya Ilyas ya ?"
"Iya Pak saya Ilyas" Mukaku gelisah karna memikirkan kondisi Ibu
"Sepertinya Adek ini ada yang di pikirkan ? Coba cerita barang kali Bapak bisa bantu"
"Ibu ku lagi sakit Pak, lagi di rawat dan harus segera di operasi tapi...."
"Astaghfirullah, sakit apa dek ?"
"Jantung Pak"
"Bapak ingin lihat Ibu kamu, yu ikut Bapak !"
"Tapi...."
"Sudah, ayo !"
Aku dan Bapak itu naik mobil nya dan kita pergi ke rumah sakit.
"Pak, aku sampai lupa nama Bapak ini siapa ?"
"Nama saya Ardi, adek gak sekolah ?"
"Aku lagi izin Pak, soalnya mau nemenin Bapak untuk jagain Ibu"
"Oh di rumah sakit ada Bapak kamu, kerabat yang lain memang gak ada yang menjenguk ?"
"Gak ada Pak, sebenarnya mereka itu bukan orang tua ku tapi mereka sudah aku anggap seperti orangtuaku sendiri. Orangtuaku sendiri ada di kampung, sekarang aku tinggal di rumah mereka karna jarak ke sekolah dari rumah jauh, makanya aku tinggal di rumah mereka. Anaknya sendiri katanya sedang ada di kota tapi sudah lama tidak pulang-pulang. Kerabatnya sendiri aku belum tau ada dimana-mana nya"
"Oh gitu, jadi kamu sangat menyayangi Ibu yang sekarang tinggal sama kamu ?"
"Iya, beliau seperti Ibuku sendiri begitu baik dan tulus padaku"
"Kamu ini memang anak baik, padahal mereka orang lain sama sekali gak ada hubungan darah sama kamu tapi kamu begitu menyayangi mereka. Orang tua kamu pasti bangga punya anak seperti kamu, pasti mereka sangat menyayangi kamu"
Tapi cuma Ayah saja yang peduli, Ibuku sendiri tidak pernah baik padaku, aku di perlakukannya seperti anak tiri tapi walau bagaimanapun aku akan tetap menyayanginya.
"Alhamdulillah Pak, orang tua ku juga sangat baik mereka sangat menyayangiku"
Hingga kemudian kita sudah sampai di rumah sakit, aku mengajarkan Pak Ardi ke ruangan Ibu. Di sana aku lihat ada Pak Jamal yang sedang duduk. Saat sedang berjalan, aku mendengar suara hati nya Pak Ardi "Ternyata anak ini jujur, Ibunya benar-benar di rawat di rumah sakit. bukannya aku suudzon tapi banyak yang berpura-pura dan ujungnya menipu. Aku kagum sama anak ini, tenyata benar-benar anak baik"
"Pak perkenalkan ini Pak Ardi !" mereka bersalaman
"Gimana kondisi Ibu, Pak ?"
"Masih kritis Pak, harus segera di operasi"
"Kalau gitu antarkan aku menemui dokter nya !"
__ADS_1
Aku dan Pak Jamal mengantarkan Pak Ardi untuk menemui dokternya, hingga kemudian dokter menjelaskan kondisi Ibu dan semuanya. Setelah itu dokter memanggil suster dan mengantarkan kita ke ruangan administrasi. Aku sudah tau apa yang Pak Ardi lakukan, hatiku langsung bergetar dan air mataku menetes. Allah benar-benar membantu, tenyata ini yang di maksud kakek aku harus pergi ke jalan mawar. Ya Allah Engkau begitu baik dan pemurah, terima kasih banyak atas segala pertolongangan yang Engkau berikan kepada kami.