MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
95. Nasihat Di Atas Pelaminan


__ADS_3

Yanuar dan Mirza bersungut kompak. Namun, Mas Agung menginjak kaki mereka berdua karena bapak dari si Bocil kematian sudah ada di sana. Bahaya jika pria itu mengamuk.


"Abang," panggil sang ayah.


"O-o ini dandu O-pap." Abang Er mulai mengadu kepada sang ayah.


Mas Agung sangat salut kepada Bocil kematian tersebut. Masih kecil sudah memasang badan untuk keluarga. Dia tidak terima jika sang paman menjadi bahan candaan dari Yanuar dan Mirza. Sungguh darah Restu mengalir pada tubuh Abang Er.


Restu menatap ke arah Yanuar dan Mirza. Lirikan matanya sangat tajam dan membuat dua sahabat Rangga itu mengangguk. Dikirim seperti itu saja mampu membuat nyalinya ciut.


"Om minta maaf." Mirza sudah mensejajarkan tubuhnya dan diikuti Yanuar.


Bocil kematian itu llmalah melipat kedua tangannya dan masih dengan tatapan tak bersahabat.


"Abang, kalau ada yang minta maaf harus dimaafkan." Sang ayah mengajarkan hal yang baik.


"Aban mapin, tapi--" Kalimat bocah itu itupun terjeda. Kedua sahabat Rangga menunggu kalimat lanjutan dari Abang Er.


Batita itu menembakkan kembali pistol air dan tepat ke wajah Mirza dan Yanuar. Tawa keras pun keluar dari mulut Abang Er.


Sang kakek yang sudah berada di sana hanya menggelengkan kepala. Sungguh itu titisan Restu dan Aksara. Jahilnya mirip Askara. Karakter dari golden Lion Family ada pada diri Abang Er.


.


Bridesmaid sudah membawa Aleena menuju pelaminan. Semua mata terpana melihat kecantikan para bridesmaid. Mereka juga tak menyangka jika yang menggandeng tangan Aleena di sebelah kiri sudah memiliki dua anak. Tubuh dan wajahnya masih seperti perempuan lajang.


Mirza terpana ketika melihat adik dari Aleena yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Cantik dan terlihat begitu alim.


"Ar, itu adiknya Aleena?" tunjuknya pada Aleeya.


"Kayaknya." Yanuar pun tidak tahu. Dia hanya tahu jika Radit memiliki tiga anak perempuan kembar.


"Itu anak bungsu, Pak Radit. Sedang magang di rumah sakit yang ada di Jogja."


Mas Agung lebih tahu akan hal itu. Mirza semakin penasaran. Apalagi melihat wajah Aleeya yang begitu manis. Beda halnya dengan Yanuar yang sedari tadi tertarik pada adik bungsu Rangga, Ghea. Ketika dipoles make up Wajahnya sangat amat berubah dan terlihat sangat cantik.


"Ghea cantik banget."


Yanuar tak sadar jika dia berbicara menggunakan micropohone di tangannya. Sontak tamu undangan dan keluarga pengantin menoleh ke arah panggung. Begitu juga dengan Ghea yang menukikkan kedua alisnya.


"CK, udah berumur suka sama Bocil. Jatuhnya pedofil."


Reksa bersungut ketika mendengar ucapan dari Yanuar. Agha yang berada di samping Reksa menatap sahabatnya itu sampai memiringkan kepala.


"Lu marah denger tuh om-om bilang Adek gua cantik."

__ADS_1


Reksa pun salah tingkah dan mulai serba salah ketika Agha menghardiknya seperti itu. Apalagi kedua alis Agha sudah terangkat.


"Apa sih? Bolot lu mah! Gua gak bilang kayak begitu." Reksa mencoba untuk berdusta.


"Udah ah! Gua lapar."


Ketika dia hendak ke arah tempat makanan, dia melihat Ghea sedang tertawa dengan Rio yang tak lain adalah adik dari Restu. Mereka terlihat sangat akrab dan Rio terlihat sangat menyayangi Ghea.


"Foto berdua dulu, Kak."


Tak segan Ghea melingkarkan tangannya di pinggang Rio. Reksa hanya tersenyum kecut. Dia pun melanjutkan langkahnya.


Di sana dia bertemu dengan Khairan yang sedang mengambil minum. Reksa tersenyum tipis.


"Di hari bahagia malah sedih aja." Bukan Reksa jika tidak selalu menabuhkan genderang perang bersama Khairan. Untung saja Khairan berada di mode waras.


"Biar seimbang 'kan." Khairan menjawabnya dengan sangat singkat dan jelas.


Ketika dia membalikkan tubuh dia melihat pria tampan menghampiri Aleeya. Pria yang memiliki senyuman manis yang dia tahu jika itu adalah sahabat dari suami Aleena.



Khairan masih menatapnya. Dia melihat Aleeya pun mencoba untuk tersenyum kepada Mirza. Khairan pergi ke tempat yang tak banyak dilalui oleh orang, tapi masih bisa melihat Aleeya bersama Mirza. Ketika Aleeya tersenyum, hatinya sakit. Dia sangat melihat jika senyum itu bukanlah senyum kebahagiaan. Hanya sebuah senyum keterpaksaan.


"Kenapa hanya memandang dari jauh? Kenapa gak mendekat aja."


"Aku hanya kasihan melihatnya."


Khrisna hanya memukul pundak sang putra dan meninggalkannya begitu saja. Khairan masih betah berada di sana.


Tamu undangan sangat menikmati pesta yang tidak monoton. Biduan yang dipilih Rangga pun multitalenta. Bisa ngelawak, suara bagus, jadi MC pun bisa. Sedangkan pengantin sedari tadi belum duduk karena tamu undangan yang sungguh banyak.


"Mas, pegel," bisik Aleena kepada Rangga.


"Sabar ya." Rangga merengkuh pinggang sang istri. Tak segan dia mengecup kening Aleena untuk mengurangi rasa pegalnya.


Dua jam berlalu, mereka berdua sudah sangat lelah. Aleena ingin menyerah. Kakinya sungguh sudah baal karena berdiri terus. Rangga memberikan kode kepada ketiga sahabatnya agar menghentikan sejenak sesi salam-salaman dengan pengantin. Mereka pun mengerti dan mengubah acara menjadi lebih santai dan khusyuk. Di mana mereka memiliki ide untuk memberikan kesempatan kepada orang tua mempelai dan pengantin untuk mengungkapkan kepada anak dan pasangan mereka.


"Mumpung masih berada di acara bahagia, kami persilahkan Bapak Raditya Addhitama untuk memberikan satu atau banyak nasihat kepada pria yang sudah menjadi menantu Anda." Senyum jahil Mirza sudah terukir. Untung saja Bocil kematian tidak ada di sana.


Radit pun menuju panggung. Yanuar memberikan microphone kepada Radit. Sebelum berbicara Radit tersenyum kepada semuanya yang hadir. Terutama kepada pengantin baru yang sudah menatap ke arahnya.


"Teruntuk menantuku, Rangga Ardana Prayoga."


Rangga menoleh ke arah Aleena. Kemudian, menatap ke arah sang ayah mertua yang sudah tersenyum penuh makna kepada dirinya.

__ADS_1


"Hari ini kamu sudah sah menjadi suami dari putri saya yang bernama Aleena Addhitama. Tugas saya menjaga putri saya kini sudah selesai. Kini, tugas untuk menjaga dan mendidik putri saya saya serahkan kepada kamu."


Aleena menggenggam tangan Rangga. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir ayahnya sudah mengandung bawang yang sangat banyak. Rangga mengusap lembut punggung tangan istrinya.


"Silahkan bawa putri saya. Mau kamu kasih makan putrl saya sehari tiga kali, silahkan. Mau kamu kasih makan sehari sekali, silahkan. Mau kamu bawa putri saya ke gunung ataupun ke pesisir pantai, silahkan. Saya tidak akan mempermasalahkan."


Bukan hanya Aleena yang matanya berair. Aleesa dan Aleeya pun ikut terharu dengan perkataan sang ayah. Kalimat demi kalimat yang ayah mereka katakan datang dari lubuk hati ayahnya terdalam.


"Istri saya melahirkan putri cantik bak bidadari ke dunia. Saya mendidik dia, menjaga dia hingga usianya dua puluh tiga tahun. Saya menjaga makannya, pendidikannya dan juga tingkah lakunya. Hari ini, saya serahkan putri saya kepada kamu dan bawa dia selamat ke hadapan Allah. Jika, tidak saya yang akan meminta pertanggung jawaban kepada kamu di akhirat kelak."


Anak mana yang tidak menangis mendengar kalimat yang sangat menusuk itu. Ujung mata Aleena sudah meneteskan bulir bening. Tidak pernah dia mendengar kalimat itu dari mulut sang ayah sebelumnya.


"Satu hal lagi yang harus kamu dan Restu Ranendra ingat." Kini, nama Restu disebut.


"Jika, kalian sudah tidak cinta lagi kepada putri saya. Tolong jangan katakan apapun pada mereka. Datanglah kepada saya dan jelaskan semuanya kepada saya sebelum kalian menyakiti kedua putri saya. Saya lebih menghargai sebuah kejujuran walaupun menyakitkan."


Restu dan Rangga menggeleng dengan kompak. Walaupun mereka berada di tempat yang berbeda. Restu menggenggam tangan Aleesa dan menatapnya dengan begitu dalam. Manik mata sang istri sudah memerah menahan tangis.


"Antarkan Aleena maupun Aleesa kepada saya jika nanti rasa bosan dan rasa sudah tak cinta menghampiri kalian. Jangan berikan mereka sebuah kedustaan yang pada akhirnya akan menimbulkan luka yang amat menyakitkan."


Air mata Aleena menetes begitu saja mendengar ungkapan hati seorang ayah. Radit tidak ingin perbuatan yang pernah dia lakukan di masa lalu menjadi karma untuk anak-anaknya.


"Ketika aku mencintai seseorang, selamanya aku akan mencintai dia, Ba." Rangga menjawab ucapan sang ayah mertua dengan begitu lantang.


Mirza berlari ke arah Rangga untuk memberikan microphone kepada sahabatnya itu. Rangga sudah berdiri dan menatap ke arah ayah mertuanya yang masih berada di atas panggung.


"Ba," ucap Rangga.


"Hari ini aku berjanji kepada Baba dan semua orang yang hadir di sini jika aku tidak akan pernah menyakiti istri aku yang tak lain adalah anak Baba."


Rangga menatap ke arah sampingnya di mana Aleena pun sudah menatap ke arah Rangga sembari duduk di pelaminan.


"Tapi, jika suatu hari nanti aku mulai mengingkari janjiku dan sedikit berbelok arah, tolong tegur aku, Ba. Bahkan Baba boleh menghajar aku jika aku masih tak mau jalan di jalan yang seharusnya. Arahkan aku supaya aku tetap berada di jalan yang benar untuk membahagiakan istriku sampai akhirat kelak."


Tangis Aleena pun pecah. Sungguh dua lelaki yang dia cintai membuat matanya sangat perih dan dadanya sangat sesak.


"Bimbing aku, Ba. Supaya bisa menjadi suami juga kepala keluarga yang hebat seperti Baba."


Radit tersenyum dengan menahan air mata di matanya. Sungguh dia beruntung sekali mendapatkan menantu yang luar biasa seperti Rangga dan juga Restu. Dia memiliki dua menantu yang berbeda sifat. Namun, keduanya sangat menyayangi kedua putrinya. Restu cenderung tidak banyak bicara, tapi selalu memperhatikan gerak-gerik keluarga dan akan bergerak cepat jika terjadi sesuatu hal kepada anggota keluarga. Beda halnya dengan Rangga yang memang memiliki sikap sangat hangat. Dia juga selalu membawa vibes positif. Apa yang dikatakan Rangga pun selalu dia tepati.


Restu menghampiri sang mertua. Dia berjalan dengan begitu gagah menuju panggung. Tiga biduan pria yang berada di panggung pun mulai mundur. Mas Agung sudah memberikan microphone kepada Restu. Sudah pasti akan ada speech mengharukan lagi dari menantu pertama dari Raditya.


"Ba." Suara Restu sudah terdengar. Semua mata pun kini tertuju pada lelaki yang masih sangat berkharisma tersebut.


"Ayo kita turun! Malu nangis di depan umum. Diliatin cucu."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2