
Keriweuhan sudah terjadi di kediaman Aksara. Di mana calon pengantin pria sedang didandani juga dua wanita cantik sedang dirias agar semakin cantik.
Reksa dan Agha sudah memakai pakaian yang disiapkan. Begitu juga dengan Aksara yang sudah terlihat begitu gagah. Mereka bertiga sudah duduk santai di ruang keluarga dengan memegang gadget. Di depan mereka aneka seserahan sudah komplit.
"Itu Tante Riana sejak kapan masuk ruang rias?" Sedari bangun tidur Reksa tidak melihat Riana.
"Dari jam empat." Aksa menjawab santai. Reksa pun menggelengkan kepala tak percaya.
Dia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya. Sekarang sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Sudah dua setengah jam berlalu, tapi dua wanita itu belum keluar dari ruang rias.
"Perempuan itu ribet dan lelet." Agha berkata dengan sangat lancar.
Langkah kaki terdengar dan tiga lelaki berbeda usia itu kompak menoleh. Ternyata sang pengantin pria sudah tampan dengan balutan jas berwarna putih yang menempel di tubuhnya.
"Wih, ganteng sekali putra Daddy." Aksa memuji tanpa ada dusta sama sekali.
"Kakak gagah banget." Agha pun memuji sang kakak dengan begitu jujur.
Reksa hanya menggelengkan kepala tanpa ada satu patah kata pun yang terucap. Sungguh dia sangat terpesona akan ketampanan kakak dari sahabatnya tersebut.
"Mommy sama Adek belum selesai?"
Ayah dan adiknya kompak menjawab belum. Padahal akad nikah akan diselenggarkan pukul delapan tiga puluh. Rangga pun ikut duduk di sofa panjang. Mulai membuka ponselnya. Mencoba mengirim pesan kepada sang calon bidadari hatinya. Akan tetapi, hanya ceklis satu aja.
"Apa kamu juga sedang dirias?"
Rangga menghubungi Axel. Namun, Axel hanya menjawab tidak tahu. Itu membuat Rangga menghela napas kasar.
"Jangan penasaran sama calon istri kamu." Sang ayah seakan tahu apa yang tengah dia pikirkan.
"Nana itu mau pake make up atau enggak tetap aja cantik." Agha menimpali.
Suara langkah kaki terdengar. Empat lelaki yang tengah memegang ponsel menoleh. Sudah ada dua perempuan yang sangat cantik memakai baju yang sama tersenyum ke arah mereka. Aksa dan Reksa tak berkedip ketika melihat Riana dan Ghea di hadapan mereka.
"Liatin jangan gitu dong, Dad. Mommy malu." Walaupun sudah lebih dari lima belas tahun menikah, tapi rasa malu itu masih tetap ada di hati Riana.
"Mommy sangat cantik." Pujian yang begitu tulus yang keluar dari mulut Aksara.
Sedangkan Ghea, dia sudah salah tingkah karena sedari tadi Reksa menatapnya tanpa berkedip.
"Ngapain sih si jelangkung ngeliatinnya begitu banget," batinnya.
Dia pun terpana akan ketampanan Reksa dengan balutan jas yang sangat tampan dan sangat pas di tubuhnya. Sungguh sangat gagah Reksa di mata Ghea.
"Mata Belo lu biasa aja natap Adek guanya."
__ADS_1
Reksa akhirnya tersadar ketika mendengar celetukan dari Agha. Dia segera memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Kalau suka jujur aja," goda Rangga.
"Kakak!" Ghea mulai merengek dan itu mampu membuat Rangga tertawa.
Dia pun berdiri dan menghampiri Ghea dan memeluk tubuh Ghea dengan sangat erat.
"Kalau ada yang suka sama Adek, bilang ke Kakak. Biar Kakak ospek dulu." Ghea malah tertawa.
Tangan Ghea melingkar erat di pinggang sang kakak. Dia akan merindukan momen seperti ini ketika kakaknya sudah berstatus menjadi suami dari kakak sepupunya.
Mereka semua pun berangkat menuju kediaman Aleena. Satu buah mobil di belakang mereka khusus untuk membawa seserahan yang sudah Riana dan Aksa persiapkan. Barang-barang yang menjadi seserahan untuk Aleena pun barang mewah semua. Ghea mengatakan jika total seserahan untuk calon kakak iparnya itu bisa membeli dua sampai tiga mobil sport.
Tibanya di rumah Radit, Aksa dan rombongan disambut oleh tuan rumah dan juga adiknya, Askara. Aska bingung mau ikut rombongan mana. Sedangkan rumahnya dekat dengan sang kakak ipar. Alhasil, dia ikut menyambut sang Abang ipar saja. Keempat anaknya dia suruh untuk menunggu rombongan Aksa. Membantu Aksa membawa seserahan untuk Aleena.
"Bang Reksa!" Apang menyapa Reksa dengan bahagia. Dia cukup dekat dengan sahabat dari Agha tersebut.
Rangga sudah diapit oleh kedua adiknya. Dia berjalan dengan cukup gugup.
"Santai, Kak." Agha mencoba menenangkan.
"Anggap aja lagi di pantai, Kak." Ghea menambahkan. Sungguh kedua adik Rangga sangatlah laknat. Bisa-bisanya kedua adiknya bercanda dalam keadaan dirinya sedang gugup-gugupnya.
Radit sudah memeluk tubuh Aksa, begitu juga dengan Echa yang sudah memeluk tubuh Riana. Ketika Radit hendak memeluk tubuh Rangga suara Bocil kematisn terdengar.
Batita itu berlari menerobos kerumunan. Sang ayah kewalahan karena sang putra sangat aktif sekali. Semua mata para tamu pun kini tertuju pada Abang Er yang meminta digendong oleh Rangga.
"Abang, jangan ganggu Om dulu, ya."
"No, Bubu."
Anak itu tetap bersikukuh meminta digendong oleh Rangga. Rangga pun tak segan menggendong keponakan Aleena yang sangat tampan itu.
"Atuhlah, Kak!" keluh Ghea.
"Jatuhnya kayak duda anak satu."
Aksa dan Riana pun tertawa mendengar perkataan Ghea. Namun, melihat wajah lucu Abang Er membuat mereka tidak tega untuk melepaskan Abang Er dari gendongan Rangga. Mereka berdua sangatlah dekat.
"Enjan! Turun dulu!"
Bala-bala sudah memanggil Abang Er. Namun, batita itu malah menjulurkan lidah kepada putri bungsu dari Askara tersebut.
"Jangan berurusan sama Bocil kematian," ucap datar Dalla yang jarang bicara.
__ADS_1
Restu meminta maaf kepada Rangga karena sikap sang putra. Namun, Rangga mengatakan tidak apa-apa.
"Abang, dengerin Mami."
Aleesa sudah turun tangan sambil menggendong putrinya. Sang putra yang berada di gendongan Rangga pun menatap sang ibu dengan serius.
"Om dan Onty akan duduk di sana nanti." Aleesa menunjuk kursi yang ada tak jauh dari tempat mereka berada.
"Abang gak boleh minta gendong, gak boleh ganggu dulu. Kalau Abang udah dengar kata SAH baru Abang boleh mendekat ke arah Om dan Onty. Abang paham?"
Anak berusia lima belas bulan itupun mengangguk. Itu membuat Aleesa tersenyum.
"Good boy."
Rangga mencium pipi Abang Er Dangan sangat gemas. Sungguh calon keponakannya itu sangat pintar mampu mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Doain Om ya, supaya lancar ijab Kabulnya." Batita itupun mengangguk seperti mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rangga.
"Abang sama Papi dan Mami dulu, ya." Restu berkata sambil mengambil alih Abang Er dari gendongan Rangga.
"Om ke sana dulu, ya." Abang Er pun mengangguk.
Rangga mulai menuju dua kursi yang sudah tersedia di sana. Di depannya sudah ada penghulu dan juga Raditya Addhitama. Ketika berhadapan dengan ayah dari Aleena kali ini. Dadanya berdegup sangat kencang dan tangannya pun mulai dingin.
Sang ibu yang melihat wajah putranya sedikit memucat menghampiri Rangga. Acara pun belum dimulai karena Aleesa baru saja menjemput Aleena ke kamarnya.
Usapan lembut di pundak membuat Rangga menoleh. Senyum tulus Riana dapat Rangga lihat. Sang ibu menggenggam tangan Rangga dan itu tak luput dari pandangan semua tamu.
"Kamu hanya perlu menjabat tangan Bang Radit dan menjawab ijab yang Bang Radit katakan. Jangan menganggap itu sulit karena mendapatkan Aleena jauh lebih sulit." Rangga mengangguk.
Riana tak segan mencium kening sang putra dan itu membuat semua orang takjub. Hampir semua tamu undangan mengetahui jika Rangga bukanlah anak kandung dari Aksa dan Riana. Namun, kasih sayang yang mereka berikan sangatlah tulus.
"Bisa kita mulai sekarang?" Penghulu sudah membuka suara. Radit pun mengangguk. Begitu juga dengan Rangga.
Dia kira Aleena akan duduk di sampingnya ketika ijab kabul berlangsung. Ternyata tidak. Pengantin wanita akan keluar ketika kata sah sudah terucap.
Radit pun sudah menjabat tangan Rangga. Dia menatap Rangga dan anggukan kecil Rangga berikan. Radit merasakan telapak tangan Rangga mulai dingin.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, ananda Rangga Ardana Prayoga bin--"
"Tahh!! Oye!"
Suara tepuk tangan kecil pun terdengar dan semua tamu malah tergelak. Begitu juga dengan Radit dan Rangga yang tertawa mendengar ocehan cucu dan keponakan mereka.
"Ahjussi, lakban dulu deh tuh mulut si Enjan. Lagi tegang malah ngelawak."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...