MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
104. Penghuni Baru


__ADS_3

Rangga sudah menjadi penghuni baru rumah besar Raditya Addhitama. Kedatangan mereka disambut oleh sang keponakan.


"O-pap! Onty-Mam!"


Batita itu berlari menuju sang Tante dan juga sang om. ALeena merentangkan tangannya sembari berjongkok.


"Gantengnya Onty."


Restu dan Aleesa menggelengkan kepala melihat sang putra dengan Aleena. Sungguh anak itu sangat dekat dengan sang kakak.


Ketika malam tiba, Rangga memeluk tubuh sang istri yang tengah memainkan ponselnya. Sang keponakan baru saja terlelap dan diantarkan ke kamarnya oleh mereka berdua.


"Sayang, malam pertama kita jangan dilakukan di sini, ya."


Aleena menatap ke arah Rangga yang sudah menelusupkan wajahnya di dada Aleena.


"Kenapa emangnya, Mas?"


"Mas gak mau keganggu apapun. Di sini 'kan ada Abang Er, takutnya Mas harus nyicil lagi. Mas gak mau, Sayang."


Aleena pun tertawa mendengar keluhan sang suami. Tangannya mengusap lembut rambut Rangga yang hitam. Tangan Rangga sudah menurunkan tali baju tidur yang ada di pundak ALeena hingga terlihat kacamata kuda berwarna hitam menempel di dada sang istri.


"Mau, ya?" Rangga mendongak layaknya anak kecil yang tengah meminta sesuatu kepada ibunya. ALeena mengangguk.

__ADS_1


Cicilan Rangga belum selesai sampai hari keempat dia berstatus suami dari Aleena. Pagi ini, Aleena sudah memasangkan dasi di leher sang suami. Rangga tak mau diam dan terus mengecup bibir Aleena yang pink alami. Istrinya masih dalam keadaan bare face. Belum mandi dan tidak memakai make up.


"Mas," keluh Aleena. Rangga malah tertawa.


Dia merengkuh pinggang sang istri dan mendekatkan tubuh Aleena kepada tubuhnya.


"Kiss me, Sayang."


"Jangan lama-lama, ya."


Rangga mengangguk. Aleena berjinjit dan memulai kiss terlebih dahulu. Tangannya sudah melingkar di leher Rangga. Sedangkan tangan Rangga sudah berada di rahang Aleena. Mereka melakukannya dengan penuh cinta juga penuh gairah. Sepuluh menit berselang, Aleena sudah kehabisan napas dan memundurkan wajahnya. Dia menatap ke arah bibir Rangga yang sudah sangat basah.


ALeena mengusapkan bibir sang suami dengan ibu jarinya. Rangga tersenyum dan mencium kening Aleena dengan sangat dalam.


"Maaf ya. Mas, harus masuk kerja."


"Jangan ngomong gitu, Sayang."


Aleena melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Meletakkan wajahnya di dada Rangga. Tangan Rangga mengusap lembut bagian belakang rambut istrinya.


.


Setelah ditinggal sang suami ke kantor, Aleena dan Aleesa bermain bersama Abang Er dan kedua adiknya. Aleena sangat bangga kepada sang keponakan yang menjaga sekali kedua adiknya. Dia tidak akan berisik ketika si kembar tengah tertidur. Hingga suara Aleeya membuat Aleena dan Aleesa menoleh.

__ADS_1


"Adek mau kembali ke Jogja."


Aleeya seperti orang asing ketika berhadapan dengan kedua kakaknya. Dia juga sangat tak nyaman berbicara dengan Aleena dan Aleesa. Padahal kedua kakaknya bersikap biasa.


"Kenapa buru-buru?" tanya Aleesa.


"Adek ngambil libur cuma seminggu. Pasien di rumah sakit lagi banyak. Jadi, Adek dapat telepon disuruh cepat masuk."


Aleena hanya menghela napas kasar. Ada rasa kasihan ketika dia melihat adiknya itu. Aleena yang sudah jarang berbicara kepada Aleeya kini membuka suaranya.


"Jangan buat Bubu dan Baba kecewa lebih dalam lagi."


Aleeya hanya tersenyum. Dia mengangguk pelan seperti tengah berjanji kepada kakaknya itu.


"Adek janji, Kak. Adek juga sudah berjanji kepada diri Adek sendiri untuk tidak mengecewakan siapapun." Aleeya berkata dengan mata yang berair.


"Semoga kamu bisa bahagia dengan orang yang tepat, orang yang bisa--"


"Enggak, Kak. Adek tidak akan menikah."


Aleena dan Aleesa terkejut mendengar keputusan sang adik. Mereka menatap Aleeya tak percaya.


"Biarkan Adek menikmati karma Adek. Tanpa pendamping, Adek yakin Adek masih bisa bahagia."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2