
Seorang pria sedang memegang ujung bibirnya yang terasa sangat sakit. Dia tidak habis pikir dengan sikap arogan lelaki ba jingan tersebut. Dia juga menyayangkan sikap perempuan yang masih mau bersama pria be jat itu. Dia rela dibentak dan didorong oleh lelaki yang sangat arogan yang sangat tidak pantas dicintai.
"Sama aja sama mantannya. Cinta yang gak pake logika," sungutnya. "Orang begitu masih dipertahanin. Mending buang ke laut."
Ketukan pintu terdengar dan dia terkejut ketika ayahnya sudah masuk ke dalam kamar. Pria tampan itu menatap ke arah Khairan dengan kedua alis yang menukik tajam. Khairan pun tak sempat menyembunyikan luka di sudut bibirnya yang mulai membiru.
"Kenapa dengan sudut bibir kamu?" Kekhawatiran Khrisna tunjukkan.
"Kamu berantem?" Khairan menggeleng dengan cepat
"Nolong an Jing kejepit. Makanya kayak gini."
Khrisna menggelengkan kepala mendengar ucapan dari sang putra. Dia mengambil kotak obat yang ada di kamar putranya. Mulai memeriksa luka lebam yang ada di sudut bibir Khairan dengan sangat serius. Tangannya sudah menyentuh sudut bibir Khairan dan sekuat tenaga Khairan tidak mengaduh. Padahal sakitnya sangat luar biasa.
"Jika, sakit bilang sakit. Jangan sok jadi jagoan." Sang ayah berkata dengan masih fokus mengobati luka sang putra
"Sakit, Yah." Sang ayah malah berdecak kesal.
"Katanya lelaki, begini doang juga cengeng."
Khairan menganga mendengar Omelan sang ayah. Dia menggelengkan kepala. Tadi disuruh untuk jujur Ketika jujur malah dibilang cengeng. Khairan tak mengerti dengan jalan pikiran sang ayah. Sedangkan Khrisna hanya tersenyum melihat wajah putranya yang menahan kesal. Sudah lama dia dan Khairan tidak berbincang dan bercanda dekat seperti ini.
"Masih sakit gak?" tanya Khrisna.
"Masih."
Dahi Khrisna kini mengkerut. Dia menatap ke arah sang putra yang tengah memeriksa luka di sudut bibirnya menggunakan kaca. Khrisna sudah selesai mengobati luka di sudut bibir Khairan.
"Apanya yang masih sakit?"
"Hati aku."
Plak!
Pukulan di bahu Khairan sang ayah berikan hingga Khairan mengaduh. Sang ayah sudah berdiri dan menatapnya malas.
"Ayah kira sakit apa."
"Lah, tadi 'kan Ayah nanya masih sakit gak? Jawaban aku gak salah 'kan."
"Sekarepmu!" omel Khrisna.
"Kalau pengen sembuh cari yang baru. Bukannya jadi sad boy."
__ADS_1
Khrisna pun melenggang pergi setelah mengatakan itu. Khairan malah tersenyum setelah ayahnya menutup pintu. Sang ayah bisa serius dan juga bercanda seperti ini. Itulah yang membuat Khairan sayang sekali kepada ayahnya.
Lelaki tampan itupun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langi kamar dengan pikiran yang melayang. Wajah Aleena sama sekali belum hilang dari ingatan. Kenangan bersama Aleena masih ada sampai saat ini.
"Apa aku bisa melupakan kamu, Na?" gumam Khairan dengan sangat lirih. Hembusan napas kasar pun keluar dari mulutnya.
"Harusnya aku tidak bertindak bodoh. Harusnya aku lebih sabar supaya aku bisa memenangkan hati kamu." Khairan pun memejamkan matanya. Menyesali satu perbuatan yang membuat semuanya hancur berantakan.
Baru saja menyelam ke dalam lautan penyesalan, suara sang ayah membuyarkan semuanya. Decakan kesal pun keluar dari mulut Khairan.
"*** cak cek cek kayak cicak aja kamu!" Lagi dan lagi Khrisna mengomel.
"Lagian Ayah ganggu aja." Kini, Khairan menjawab ucapan sang ayah dengan sedikit kesal.
"Keluar gih!" titah Khrisna. Dahi Khairan pun mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Ada perempuan cantik yang nyari kamu." Khairan berpikir keras mendengar ucapan dari sang ayah. Dia berpikir keras. Siapa wanita cantik yang mencarinya?
"Cepetan keluar!"
Khairan pun dengan malas beranjak dari tempat tidur. Dia menuju ruang tamu di mana si perempuan yang mencarinya itu ada di sana.
Langkah Khairan terhenti ketika melihat perempuan berperawakan bak model duduk di sofa ruang tamunya. Dia sangat asing dengan perawakan tersebut. Khairan pun berdehem dan membuat si perempuan itu menoleh.
"Kamu Khairan?" Si perempuan itu malah balik bertanya.
Melihat Khairan yang tidak merespon malah menatapnya dari atas hingga bawah. Si perempuan itupun mengulurkan tangan. Khairan belum mau menyambut uluran tangan tersebut. Namun, melihat kode dari si perempuan tersebut membuat Khairan akhirnya menyambut uluran tangannya.
"Jihan. Temannya Rangga."
Khairan hanya tersenyum tipis ketika mendengar ujung dari kalimat yang dikatakan oleh si perempuan tersebut.
"Dari mana Anda mengetahui alamat saya?" Khairan berkata dengan sangat formal.
"Apa sih yang tidak bisa saya retas?" Jihan menunjukkan kesombongannya kepada Khairan dan itu membuat Khairan berdecih kesal. Namun, Khairan bersikap lebih angkuh dari Jihan. Dia mulai melipat kedua tangannya di atas dada dan menatap Jihan dengan tatapan sangat tajam.
"Apa yang Anda inginkan dari saya, wahai WANITA SOMBONG?"
Khairan tidak berbasa-basi. Dia sudah hafal dengan manusia modelan seperti Jihan. Ada udang di balik batu. Sudah pasti itu.
"Maukah kita bekerja sama?" Senyum tipis terukir di wajah Khairan. Apa yang dia pikirkan ternyata tidak meleset.
"Apa untungnya buat saya jika mau bekerja sama dengan Anda?"
__ADS_1
Jihan tersenyum smirk ke arah Khairan. Dia sangat yakin Khairan itu sudah tahu apa keinginannya. Hanya saja, dia bersikap pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura BODOH, Khairan!" Jihan mulai sedikit terpancing emosi dengan perkataan dan sikap Khairan. Tawa Khairan pun menggema.
"Aku sangat yakin kamu masih mengharapkan Aleena 'kan." Jihan sudah mendekatkan wajahnya ke arah Khairan. Dia pun berkata dengan pelan agar tak ada orang yang dengar.
"Aku juga menginginkan Rangga. Jadi, kita bekerja sama untuk menghancurkan hubungan mereka berdua." Rencana jahat yang sudah Jihan susun. Tinggal mencari persetujuan dari orang yang akan bersekutu dengannya.
Jihan melihat Khairan terdiam. Dia juga melihat jika Khairan tengah berpikir. Dia sangat yakin jika Khairan akan menerima ajakan kerja sama tersebut.
"Jangan mikir lama-lama. Mumpung hubungan mereka masih seumur jagung. Jadi, masih mudah untuk kita memisahkannya."
Khairan masih terdiam. Terlihat dia masih menimbang-nimbang ajakan dari Jihan. Wanita yang sama sekali tidak dia ketahui dari mana asalnya.
"Sebelum saya menjawab, saya mau bertanya satu hal kepada Anda." Jihan pun mengangguk dan membolehkannya untuk bertanya.
"Ada hubungan apa Anda dengan si pilot itu?"
Khairan penasaran karena wajah wanita itu tidak pernah muncul ketika dia dekat dengan Aleena. Juga Axel maupun Reksa tidak pernah mengatakan apapun perihal wanita di depannya.
"Aku ini udah dilamar sama pihak keluarga Rangga. Ayahku pun sudah setuju, tapi Rangga malah lari dari lamaran itu dan lebih memilih Aleena. Aku gak terima, Khai!"
"Pihak keluarga? Tuan Aksara?" Jihan menggeleng.
"Paman kandung Rangga, Pak Alwi."
Khairan malah tertawa. Dia menggelengkan kepala tanda mengejek.
"Pak Alwi bilang jika orang tua angkat Rangga ingin memanfaatkan Rangga agar harta warisan tetap berputar di keluarga besar tersebut. Bukankah itu terlalu jahat?" Khairan masih mendengarkan.
"Makanya, aku ke sini untuk mengajak kamu bekerja sama dengan aku. Aku menyelamatkan Rangga dan kamu bisa bahagia dengan Aleena. Kamu mau 'kan." Jihan menunggu jawaban dari Khairan yang terlihat masih menimbang.
"Bagaimana, Khai?" tanyanya lagi
"Ya--"
Jihan sudah melengkungkan senyum yang begitu lebar. Dia sangat bahagia akhirnya dia memiliki sekutu juga. Dia gagal mengajak Axel, dan ternyata mengajak Khairan sangat mudah. Tentunya rencananya berhasil.
"Tentu saya tidak mau." Ternyata kata yang terucap dari mulut Khairan masih ada lanjutannya.
...***To Be Continue***...
.Komen dong ....
__ADS_1