
Rangga memegang alat testpack kehamilan. Apa maksud dari testpack yang dimasukkan ke dalam resep obat?
"Mas," panggil ALeena.
Sedari tadi Rangga masih berdiri membelakanginya. Aleena takut jika sakit yang dia derita adalah salah satu penyakit yang terbilang parah hingga membuat Rangga belum juga memberikan obat kepadanya.
"Mas, obatnya mana?"
Rangga pun menoleh dengan tangan yang memegang alat testpack kehamilan. Dahi Aleena pun mengkerut. Perlahan dia menggelengkan kepala.
"Aku sudah berdamai dengan itu, Mas." Lemah sekali ucapan dari Aleena. Ada kesedihan di balik kalimat yang dia ucapkan.
"Dokter yang memberikan ini di dalam kantong obat."
Kedua alis Aleena pun menukik dengan tajam. Rangga sudah duduk di tepian tempat tidur. Memandang wajah istrinya yang masih pucat.
"Apa kamu terlambat datang bulan?" Aleena mengangguk.
"Sudah dua Minggu."
"Kenapa kamu gak bilang?" Rangga sedikit merasa bingung kepada istrinya sekarang. Biasanya hal sekecil apapun akan dia laporkan kepadanya.
"Aku sudah tidak ingin terlalu berharap. Selama dua tahun lebih ini, setiap kali aku telat datang bulan aku slalu bahagia. Aku selalu berharap dan berharap. Namun, harapanku selalu meleset hingga menimbulkan sedikit rasa kecewa. Sampai pada aku merasa lelah dan memilih untuk berdamai dengan keinginanku yang menggebu Perihal buah hati."
Rangga sedih mendengarkan penjelasan dari istrinya. Sungguh hatinya sangat sakit. Dia memeluk tubuh sang istri dan mengucapkan kata maaf.
"Kamu gak salah, Mas."
Aleena membalas pelukan suaminya. Rangga adalah suami yang sangat baik. Di mata Aleena, Rangga adalah sosok suami yang sangat sempurna.
"Apa kamu mau coba testpack ini? Ini dari dokter."
__ADS_1
"Kalau hasilnya--"
"Mas, gak masalah, Sayang."
Aleena masih ragu, tapi dia juga harus mengikuti anjuran dokter yang memeriksanya.
"Besok pagi aku akan coba, Mas."
.
Aleena masih berdiri di depan cermin di depan kamar mandi. Testpack sudah ada di atas wastafel.
"Ya Tuhan, untuk kali ini aku pasrahkan semuanya kepada-Mu. Jika, tidak sesuai dengan harapanku, jangan Engkau beri aku rasa kecewa."
Aleena menghembuskan napas kasar, dan akhirnya dia memutuskan untuk menampung air kemihnya. Dia pun sudah membuka alat testpack tersebut dan menyelupkannya ke dalam air kemih. Aleena meninggalkan tersebut karena itu akan menjadi hal tersulit untuknya jika harus menunggu hasilnya walaupun tidak sampai satu menit.
Rangga yang baru masuk ke kamar mandi, dan hendak membersihkan tubuh melihat testpack yang tergeletak di atas wastafel. Dahinya mengkerut ketika melihat garis berwarna merah di sana. Dia masih belum mengerti.
"Sayang!"
"Ini!"
Rangga meletakkan testpack tersebut di atas meja dan membuat mata Aleena memicing dengan sempurna. Tubuhnya menegang ketika melihat garis merah yang ada di sana.
Susu berukuran satu liter pun terjatuh begitu saja ketika Aleena melihat dengan jelas garis dua yang ada di testpack tersebut.
"Sayang--"
"Mas, garis dua, Mas."
Aleena menunjukkan testpack tersebut ke arah Rangga. Mata Aleena sudah berair.
__ADS_1
"Aku hamil, Mas." Tangis Aleena pun pecah dan Rangga membeku ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya.
"Ha-mil?" Aleena mengangguk. Rangga memeluk tubuh Aleena dengan begitu erat. Mereka berdua menangis bahagia.
.
Kabar kehamilan Aleena pun sudah sampai kepada keluarga besar. Mereka menangis bahagia karena di antara si triplets yang lama menanti momongan adalah Aleena.
"Terima kasih Ya Allah, Engkau sudah menjabah doaku." Begitulah kalimat syukur yang Radit ucapkan.
"Pokoknya kalian berdua harus kembali ke Jakarta. Daddy gak mau tahu."
"Pemilik kasta tertinggi di keluarga Daddy akan segera hadir," cibir Agha.
"Saingan tuh sama si Abang Er. Pemilik kasta tertinggi di keluarga Baba." Ghea pun menambahkan.
Kedua anak Aksa dan Riana mulai cemburu kepada calon keponakan mereka. Sudah pasti anak dari kakak mereka akan menjadi raja di rumah raja singa.
"Yang jelas mah tuh si Abang Er gak akan disayang lagi sama O-pap dan Onty mam."
Mata Abang Er memicing tajam ke arah Aska yang tengah menggodanya.
"Lah emang bener. Ketika anak Om dan Onty kamu lahir, mereka akan lebih sayang sama anak mereka. Kamu mah gak bakal dimanja lagi sama mereka berdua. Wong kamu anaknya Restu."
Wajah murka Abang Er sudah terlihat jelas. Semua orang pun tertawa.
"Baba! Abang minta karung."
"Buat apa, Bang?" Sang kakek nampak bingung.
"Buat Karungin Ayah Aska, terus buang ke laut biar dimakan ikan hiu."
__ADS_1
Mereka semua pun tertawa. Sungguh kebahagiaan keluarga Radit dan Echa sangat sempurna. Memiliki menantu yang luar biasa, dan juga cucu-cucu yang sangat lucu. Bukan hanya Radit dan Echa. Para mendiang para ayah mereka pun akan bahagia melihat anak-anak mereka bahagia seperti itu.
...SELESAI...