
Axel yang tengah berdiri di samping pusara kedua orang tuanya dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering. Dahinya mengkerut ketika melihat wajah wanita yang tengah dia jaga sangat sembab.
"Pa, Ma, aku tinggal dulu sebentar, ya."
Dia segera menghubungi orang yang memberitahunya melalui pesan singkat. Matanya yang seperti tengah berpikir dan mencari tahu sangat jelas terlihat.
"Saya tidak perlu penjelasan. Kirimkan saja apa yang akan menjadi bukti."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Axel. Pikirannya kini tertuju pada sosok perempuan yang tak lain cucu dari sahabat ayahnya. Perempuan yang harus dia jaga.
.
Feeling Rangga selama mengudara pun sangat tidak enak. Nama Aleena masih memutari kepalanya sekarang. Dia.hanya bisa menghembuskan napas kasar. Sang kapten yang menyadari kegelisahan Rangga tersenyum.
"Ketika kita transit, hubungi dia."
Rangga menoleh ke arah sang kapten yang berada di sampingnya. Pandangannya masih lurus ke depan. Namun, ucapannya tertuju pada Rangga.
"Saya pernah muda. Walaupun kamu tidak terbuka kepada saya, tapi saya tahu akan hal itu. Kamu adalah anak saya ketika mengudara."
Senyum tulus terukir dari bibir sang kapten dan itu membuat Rangga ikut melengkungkan senyum. Dia sangat bersyukur karena selalu dikelilingi orang-orang baik.
Ketika transit, Rangga segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Aleena. Cukup lama dia menunggu jawaban dari Aleena hingga wajah Aleena mulai muncul di layar ponselnya. Senyum Rangga yang mengembang kini hilang ketika melihat wajah sendu kekasihnya dengan mata yang sembab.
"Sayang, kamu kenapa?"
Aleena menggeleng dengan senyum yang dia paksa. Dia tidak berkata, hanya tatapan matanya yang tengah mengadu.
"Sayang," panggil Rangga lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu mencintai wanita bodoh dan go blok kayak aku?" Suara Aleena bergetar. Seketika kedua alis Rangga menukik dengan tajam.
"Hey, kenapa kamu bicara seperti itu? Kenapa, Sayang?" Tutur kata Rangga begitu lembut.
"Jawab aku, Mas!"
Mas, Panggilan sayang yang Rangga minta dari Aleena. Jika, mendengar orang lain memanggil Agha dengan panggilan Mas dia akan tersenyum. Dia pernah berjanji jika dia memiliki pasangan dia menginginkan pasangannya memanggil dirinya dengan sebutan Mas.
"Kamu adalah wanita terbaik dan terindah yang pernah aku temui. Kamu nyaris sempurna di mata aku. Hanya orang buta hati dan matanya yang menyebut kamu seperti itu," terang Rangga. Dia masih dalam keadaan tenang dan santai.
"Jangan pernah dengarkan omongan orang lain. Cukup dengarkan omongan aku, kedua orang tua kamu dan juga keluarga besar kamu. Yang tahu kamu hanya kita semua."
Aleena malah menangis mendengar ucapan Rangga. Dia tidak menyangka jika Rangga akan merespon seperti ini. Apalagi wajah teduh lelaki yang sangat sabar menunggunya itu membuat Aleena semakin tak bisa membendung laju air matanya.
"Udah ya, jangan nangis lagi. Aku akan gak tenang kalau kamu seperti ini."
"Love you, Sayang."
"Love you too."
Bibir Rangga melengkung dengan sempurna mendengar balasan cinta dari wanita yang sudah lebih dari tujuh tahun dia tunggu.
"Miss you."
Rangga terkejut mendengar ucapan dari Aleena. Dia menatap tak percaya ke arah kekasihnya itu.
"Aku ingin dipeluk kamu."
"Dari jauh dulu ya peluknya," kata Rangga. "Aku janji, aku akan menemui kamu lagi." Aleena pun mengangguk.
__ADS_1
"Jangan nakal."
Rangga tertawa ketika mendengar larangan dari Aleena. Dia melihat ada yang lain dari diri Aleena yang tidak dia ketahui.
"Pramugari 'kan pada cantik." Rangga meresponnya dengan senyuman sangat manis.
"Kecantikan wanita manapun tak akan pernah bisa memalingkan wajahku untuk menatap mereka. Wajah dan pandangan aku sudah Tuhan takdirkan hanya untuk melihat dan menatap kamu."
Aleena pun tertawa mendengar gombalan Rangga. Sedihnya perlahan memudar. Mereka tak lagi berkata, hanya saling memandangi dari layar ponsel.
.
Axel mengerang kesal ketika melihat kiriman cctv dari salah satu bodyguard yang ada di Jepang. Urat kemarahannya muncul dengan begitu jelas.
"Mulai bertingkah nih bocah," kesalnya.
Axel menyandarkan tubuhnya di salah satu pohon besar yang ada di pemakaman kedua orang tuanya. Hembusan napas berat keluar dari mulutnya.
"Ternyata menjaga anak orang yang bukan jodoh kita itu sulit ya, Pa," gumamnya sangat pelan.
"Harus banyak sabar, harus banyak ikhlas dan harus mengubur keinginan dalam-dalam dan melupakan apa yang pernah aku rasakan." Untuk kesekian kalinya dia menghela napas berat.
Axel mulai menghubungi seseorang, tapi sambungan telepon itu selalu sibuk hingga dia berdecak kesal.
"Nih anak pasti lagi bucin-bucinan."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1