
Aleena berdiri di depan jendela restoran private memandangi indahnya cahaya lampu gedung tinggi. Dia masih memikirkan tentang Rangga yang hafal tanggal di mana tamu bulanannya datang. Sepasang tangan melingkar di perutnya dan senyum melengkung di wajah cantik Aleena. Terasa pula sebuah dagu diletakkan di bahunya.
"Mas," panggil Aleena. Tangan Aleena sudah ada di atas punggung tangan Rangga yang masih melingkar di perutnya.
"Hem."
Rangga sudah menutup matanya. Aroma tubuh Aleena menjadi candu untuknya dan akan menjadi aroma terapi alami yang sangat menenangkan.
"Kenapa Mas gak nolak tanggal pernikahan yang sudah Uncle berikan?"
Mata Rangga terbuka ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh calon istrinya.
"Maksudnya?" Dia tidak mengerti.
"Mas 'kan udah tahu di tanggal itu aku masih halangan. Kenapa Mas setuju pernikahan kita diadakan di tanggal itu? Di mana aku belum bisa memenuhi kewajiban aku sebagai seorang istri." Mimik penuh rasa bersalah hadir di wajah Aleena..
Rangga menegakkan kepalanya. Dia membalikkan tubuh Aleena dengan lembut. Menatap lekat wajah Aleena yang terlihat sendu.
"Kenapa Mas harus nolak?" tanya balik Rangga. "Tanggal yang sudah Daddy berikan sudah pasti tanggal baik 'kan. Gak baik niatan baik itu ditunda."
"Mas--" Raut penuh rasa bersalahnya semakin kentara. Rangga tersenyum dan mengusap lembut pipi mulus Aleena.
"Dengar ya, Sayang." Rangga berkata sangat lembut. Menatap Aleena dengan penuh cinta.
"Mas menikahi kamu bukan hanya karena nafsu. Mas menikahi kamu karena Mas sayang dan cinta sama kamu. Mas ingin menyempurnakan ibadah Mas dengan menikahi wanita yang sudah sejak lama Mas cintai. Mas tak mempermasalahkan perihal malam pertama, yang paling utama kita menjadi pasangan sah di mata hukum dan agama. Halal melakukan apapun tanpa ada yang melarang."
Wanita mana yang tak bahagia mendengar kalimat sederhana yang sarat akan makna. Padahal bagi seorang pria yang dinanti ketika menikah, yaitu malam pertama. Namun, tidak dengan Rangga.
"Mau kita melakukan malam pertama seminggu setelah sah bahkan sebulan setelah kita menikah pun Mas tak masalah. Tujuan Mas menikahi kamu karena Mas ingin kita selalu bersama. Saling menggenggam dan saling menguatkan di segala keadaan. Mas ingin selalu menemani dan menjaga kamu."
Aleena berhambur memeluk tubuh Rangga. Bulir bening pun menetes. Sungguh Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang luar biasa untuknya. Jodoh yang tak dia duga yang Tuhan hadirkan.
__ADS_1
"Apakah ini yang namanya pelangi indah setelah hujan badai yang harus aku lalui kemarin?"
Aleena memeluk erat tubuh Rangga. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang calon suami. Rangga membalas pelukan Aleena tak kalah erat dan membubuhkan kecupan hangat di ujung kepala wanita yang sangat dia cintai.
"Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan manusia yang nyaris sempurna seperti Rangga."
.
Sudah tengah malam perdebatan terus terjadi di rumah Aksara. Riana sudah memijat keningnya yang pusing.
"Enggak, Dad. Aku dan Aleena sudah sepakat dengan mahar itu."
"Jangan malu-maluin Daddy, Kak." Kalimat Aksa penuh dengan penekanan.
"Dad, aku dan Aleena sudah sepakat ingin menikah dengan tema sederhana." Rangga menjelaskan.
"Sederhana darimana, Kak," timpal Agha yang masih fokus pada layar segiempat di atas meja ruang keluarga.
"Itu 'kan bukan kemauan Kakak, Mas." Rangga menghela napas berat.
"Itu semua kemauan Daddy. Jadi, kamu harus ikutin kemauan Daddy." Aksa masih bersikukuh.
"Tapi, Dad--" Rangga masih mencoba bernegosiasi.
"Udahlah, Kak. Ikutin aja maunya Daddy." Riana sudah tidak mau pusing karena perdebatan yang tak ada ujungnya itu.
"Bukan begitu, My," Rangga menatap ke arah sang ibu. Dia juga menatap ke arah sang ayah.
"Aku gak mau merepotkan kalian. Aku juga gak mau dibilang anak angkat yang tak tahu diuntung. Memanfaatkan nama besar Daddy untuk kepentingan pribadi aku." Sebuah ketakutan besar yang pada akhirnya Rangga katakan. Dia tidak ingin nama ayahnya jelek di mata semua orang.
"Siapa yang berani bilang seperti itu? Lidahnya akan Daddy potong sekarang juga." Aksa tidak pernah main-main dengan ucapannya.
__ADS_1
"Sedari kecil kamu itu gak pernah ngerepotin Daddy. Kamu sekolah SMP hingga sekolah penerbangan hasil beasiswa karena nilai akademis kamu yang bagus. Uang jajan pun dari hasil kamu kerja setelah pulang sekolah. Daddy yang harusnya malu karena Daddy tidak bisa melakukan apapun untuk kamu. Hanya mengaku-ngaku sebagai ayah kamu tanpa pernah membiayai kamu."
"Jangan berkata seperti itu, Dad." Rangga menggenggam tangan ayahnya.
"Itu adalah kemauan aku. Aku mau diangkat jadi anak Daddy asalkan Daddy membiarkan aku berusaha sendiri mengejar semua mimpi yang sudah aku susun rapi."
Ada perjanjian di antara Rangga dan Aksara sebelum Rangga sah diangkat menjadi anaknya. Permintaan yang membuat Aksa menggelengkan kepala. Di luar sana banyak yang menginginkan hak istimewa dari kekuasaan yang Aksa miliki, tapi beda halnya dengan Rangga.
"Aku tak butuh materi dari Daddy ataupun dari siapapun karena materi itu bisa dicari, yang aku butuhkan adalah tangan yang mampu menuntun aku. Tangan yang mengarahkan aku menuju jalan lurus juga berliku. Tangan yang tak pernah melepaskan aku untuk perlahan menaiki setapak demi setapak anak tangga. Tak pernah melepaskan ketika aku terjatuh, selalu terus menggenggamku ketika aku mencoba untuk bangkit dari sakitnya keterpurukan. Tangan yang sampai saat ini masih menggenggamku di mana aku sudah menjadi manusia yang lebih bermanfaat dari sebelumnya."
Aksa terdiam mendengarnya. Begitu juga dengan Agha dan Riana. Kalimat itu membuat mulut mereka kelu.
"Jangan pernah lepaskan tangan aku, Dad. Tetaplah tuntun aku karena Daddy adalah penunjuk jalan kehidupan untuk aku."
Aksa yang tidak pernah menangis akhirnya meneteskan air mata mendengar kalimat yang begitu menyentuh nan tulus yang keluar dari mulut Rangga. Anak yatim piatu yang membuatnya jatuh cinta karena sikapnya yang begitu santun dan juga hangat.
"Tanpa tangan Daddy, aku tidak akan menjadi Rangga seperti sekarang ini."
Rangga memeluk tubuh Aksa dengan begitu erat. Namun, sang ayah tidak berkata banyak. Hanya bulir bening yang mampu keluar dari matanya. Riana sudah mengusap wajahnya karena rasa haru yang muncul. Begitu juga dengan Agha yang tak bisa berkedip melihat ayah dan kakaknya.
"Kenapa Kakak ngiris bawang sekarung?" Pertanyaan Agha membuat Rangga mengendurkan pelukannya.
Wajah Agha sudah sangat datar dan membuat Rangga tersenyum. Dia merentangkan tangannya dan Agha berhambur memeluk tubuh Rangga.
"Makasih ya, Mas. Sudah bawa Kakak masuk ke dalam keluarga yang penuh kehangatan ini. Makasih sudah mau menjadi teman seorang anak panti."
"Kakak bukan anak panti. Kakak anak Mommy dan Daddy." Suara Agha sangat berat.
Aksa dan Riana pun saling pandang. Mereka berdua sangat bahagia juga bangga melihat Rangga dan Agha yang sangat dekat walaupun tak memiliki ikatan darah.
"Kakak adalah kakaknya Mas. Anak pertama Tuan Ghassan Aksara Wiguna. Tidak ada yang boleh merubah silisilah itu."
__ADS_1
...***To Be Continue***...