
"Ngga."
Jihan memanggil Rangga di saat sambungan video belum berakhir. Otomatis Aleena melihat Jihan di sana. Rangga menoleh hanya sebentar kepada Jihan. Kemudian, mengalihkan pandangannya ke layar segi empat yang tengah dia genggam.
"Mas sudahi dulu ya, Sayang. Nanti Mas kabarin lagi."
Aleena mengangguk dengan wajah yang sulit diartikan. Namun, dia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa cemburunya.
"Love you, Mas."
Tubuh Jihan menegang mendengar kalimat sederhana itu. Apalagi Rangga membalasnya dengan begitu manis.
"Love you too, Sayang."
Hati Jihan sangat hancur. Sakitnya menusuk hingga ulu hati terdalam. Dia hanya bisa mematung bagai manekin. Menyaksikan dua manusia yang sedang merajut kasih.
"Duduk."
Kata yang terucap dari bibir Rangga sangat datar dan tidak seperti biasanya. Dia menatap dingin ke arah Jihan.
"Wanita itu siapa? Kenapa dia memanggil kamu--"
"Dia calon istriku."
Jleb.
Jawaban yang sungguh membuat hati Jihan hancur. Matanya mulai berair karena tidak sanggup menahan sakit hatinya atas perkataan Rangga.
"Dengarkan aku Jihan," ucap Rangga dengan penuh penekanan.
"Aku tidak pernah merasa melamar kamu kepada ayah kamu. Aku juga hanya menganggap kamu sebagai seorang teman. Tidak lebih dari itu."
Tes.
Bulir bening menetes membasahi wajah Jihan. Sungguh Rangga yang dia kenal sangat berubah sekarang. Mulutnya kelu, dan dia tidak bisa berucap sama sekali.
"Jadi, tolong jangan berharap apapun keapdaku karena aku tidak ingin menyakiti wanita manapun." Rangga berkata dengan begitu lugas.
Semenjak bersama Aleena, Rangga yang hangat kepada siapapun seakan menjaga jarak dengan para wanita. Dia sangat menjaga hati Aleena, sang kekasih hati. Rangga pun sudah berdiri dan hendak pergi meninggalkan Jihan.
"Tapi, kamu sekarang menyakiti hati aku, Ngga."
Rangga yang sudah membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah Jihan. Perempuan cantik itu sudah bermandikan air mata.
"Aku tidak menyakitimu, tapi perasaan kamulah yang menyakiti dirimu sendiri." Rangga berkata dengan sangat santai.
"Pamanmu sudah datang kepada ayahku dan Beliau sudah melamar aku untuk kamu. Lalu, kenapa kamu begini sekarang?"
"Jika, aku benar-benar ingin melamar kamu ... aku tidak akan menyuruh orang lain untuk datang kepada ayah kamu. Aku bukan pria Cemen seperti itu," tegas aku.
__ADS_1
"Satu hal lagi. Aku tidak memiliki paman. Aku hanya memiliki ayah dan ibu angkat. Jangan pernah mau dimanfaatkan oleh pria gila itu."
Rangga menyudahi perkataannya dan memilih meninggalkan Jihan yang tengah menangis. Tangan Rangga mengepal dengan sangat keras menandakan dia benar-benar marah. Dia memilih untuk menenangkan diri di panti di mana dulu dia dirawat dan dibesarkan.
Rangga menghela napas kasar ketika dia tiba di depan panti asuhan, rumahnya sedari berusia dua tahun. Di panti itulah dia dibesarkan tanpa keluarga. Hanya kasih sayang ibu panti yang dia terima sebelum dia bertemu dengan Gavin Agha Wiguna.
"Ngga, kamu adalah anak dari Reynaldi Prayoga, pemilik perusahaan batu bara ternama di negeri ini."
Rangga masih ingat akan perkataan dari ibu panti. Kini, dia hanya tersenyum kecut jika mengingat hal itu. Selama dia hidup dia tidak akan melupakan satu kejadian yang dilakukan oleh adik dari ayahnya, Alwi Prayoga. Ibu panti mengatakan jika dialah yang membawa Rangga ke panti asuhan. Namun, ketika Rangga harus diopname karena sakit yang cukup serius, Alwi Prayoga selaku om dari Rangga malah menutup semua rumah sakit agar tidak menerima pasien bernama Rangga Ardana Prayoga. Pada saat itu usia Rangga sembilan tahun dan dia mulai mengerti apa yang tengah terjadi.
Peristiwa yang membuat Rangga enggan mengakui Alwi sebagai pamannya dan dia memilih berbakti kepada keluarga Aksara yang dengan ikhlas membiayai semua biaya rumah sakit hingga dia nyatakan sembuh total.
"Dia menginginkan kamu meninggal dan semua harta ayah kamu akan menjadi miliknya."
Semenjak itulah Rangga sudah tidak berharap apapun dari keluarga ayahnya. Awalnya dia bahagia mengetahui jika dia masih memiliki keluarga. Namun, mengetahui kebusukan sang paman dia berubah pikiran dan memilih jalan yang keras untuk mencapai impian.
.
Ketika tengah malam, barulah Rangga pulang ke kediaman sang ayah. Dia sangat yakin keluarganya tahu jika dia sudah kembali ke Jakarta. Dia mendapat pesan dari Agha, tapi tak dia balas.
Pintu rumah besar dia buka dan tatapan dari dua pasang mata terlihat dengan jelas. Sepasang suami-isteri itu seakan tengah mengintimidasinya.
"Apa dia ke rumah? Dengan menjual air mata?"
Kedua orang tua Rangga sedikit terkejut dengan tutur kata putra merekai sekarang ini. Mereka berdua saling pandang. Raut wajah Rangga sudah menunjukkan keletihan yang luar biasa.
Sebagai seorang ibu Riana tidak tega melihat putranya seperti itu. Dia berdiri dan mengusap lembut pundak Rangga.
"Mommy antar kamu ke kamar, Kak."
Aksa menghela napas berat. Dia belum mau melendeni ucapan Tuan Garda. Bukannya dia lemah sekarang, dia ingin melihat bagaimana pergerakan sang putra.
Keesokan paginya, tatapan sinis Rangga dapatkan dari sang adik bungsu. Tidak ada sapaan seperti biasa. Dia seakan memusuhi Rangga. Rangga yang masih terlihat lelah enggan meladeni sang adik. Dia bangun karena sang ayah sudah mengirimkan pesan kepadanya untuk berbicara berdua.
"Kak Rangga berapa lama liburnya?" Agha membuka keheningan.
"Kurang tahu, Mas. Setelah urusan di sini selesai, Kak Rangga akan terbang lagi."
Aksa mengerti akan arti terbang yang dimaksud oleh Rangga. Dia masih terdiam sambil menyantap sarapan. Selepas kedua adiknya berangkat sekolah, Aksa membawa Rangga ke ruangannya. Hembusan napas berat keluar dari mulutnya.
"Aku akan bertemu dengan dia, Dad."
Dia yang dimaksud adalah Alwi Prayoga. Dari segi bicaranya Rangga sudah sangat tidak suka kepada pria yang bernama Alwi Prayoga. Aksara sangat tahu itu..
"Apa perlu Daddy bantu?" Rangga menggeleng dengan begitu cepat.
"Ijinkan aku untuk berusaha sendiri dulu, Dad."
Inilah yang Aksa banggakan pada sosok Rangga. Dia selalu ingin berusaha sendiri dan setiap usahanya tidak pernah gagal.
__ADS_1
.
Tuan Garda dan Alwi Prayoga saling tatap ketika dipertemukan di sebuah restoran cukup mewah. Mereka berdua nampak bingung dan di situlah Rangga keluar dengan wajah yang sangat datar.
"Jadi, ini--"
"Ya. Saya sengaja mempertemukan kalian di sini."
Tuan Garda dan Alwi Prayoga saling pandang. Rangga menyuruh mereka berdua untuk duduk. Menatap dua pria yang sudah berumur dengan sangat tajam.
"Apa kamu mau meminta maaf atas kesalahan kamu kemarin kepada putri saya?"
Rangga malah tersenyum sangat tipis mendengar ucapan dari Tuan Garda. Dia malah menyandarkan tubuhnya di punggung kursi yang tengah dia duduki.
"Saya tidak memiliki salah kepada putri Anda, Pak. Saya hanya membeberkan kenyataan yang ada."
"Tapi, pria itu telah meminta putri saya untuk kamu." Tuan Garda menunjuk ke arah Alwi Prayoga.
Kini, Rangga menatap tajam wajah sang paman. Lirikan Rangga seperti bukan dirinya.
"Anda siapa? Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?"
Alwi Prayoga melebarkan mata mendengar perkataan Rangga. Sedangkan Rangga masih bersikap santai. Tuan Garda terkejut mendengar ucapan Rangga yang terbilang kasar tidak seperti Rangga yang dia kenal.
"Kenapa Anda berani mencampuri urusan pribadi saya? Seolah Anda tahu segalanya tentang saya."
"SAYA PAMAN KAMU!"
Sudah tidak tahan akhirnya Alwi Prayoga membentak Rangga dengan cukup keras. Rangga pun terbahak mendengar bentakan tersebut.
"Paman?" ulang Rangga.
"Sejak kapan Anda mengakui saya sebagai keponakan Anda? Bukankah Anda sudah mencoret nama saya dari keluarga Prayoga."
"Harus Anda tahu, Pak Garda. Pria ini melamar putri Anda bukan untuk saya, melainkan untuk menyelamatkan perusahaannya yang sebentar lagi gulung tikar. Dia tahu jika Anda tengah membuka usaha di bidang batu bara. Jadi, dia berniat untuk mengajak Anda untuk menanam saham di sana supaya perusahaannya terselamatkan.
Terkejut Alwi Prayoga mendengarnya. Kini, Tuan Garda menatap ke arah Alwi Prayoga. Sedangkan yang ditatap tidak berani menegakkan kepalanya.
"Dan harus Anda tahu, Pak Garda. Perempuan yang Anda bilang gila itu adalah cucu dari almarhum Genta Wiguna dan juga Addhitama. Pasti Anda tidak asing dengan mereka bukan?" Rangga seakan tengah mengejek ke arah Tuan Garda.
"Jihan, dia bisa hidup sampai saat ini karena perjuangan dari dokter Addhitama dan perusahan maskapai penerbangan Anda menjadi besar seperti ini karena ada suntikan dana yang tak main-main dari Tuan Genta Wiguna. Apa Anda melupakan itu?"
Tuan Garda ketar-ketir mendengar pembeberan Rangga. Dia kini menatap penuh tanya kepada Rangga Ardana.
"Dari mana anak ini tahu? Bukankah semua rahasia ini sudah aku kunci sangat rapat."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1