
Axel sudah menggandeng tangan Aleena. Mereka berjalan dengan begitu cepat. Aleena menatap ke arah Axel ketika ada dua orang berpakaian serba hitam menjemput mereka berdua di bandara.
"Itu teman saya."
Aleena percaya begitu saja karena dia tahu bagaimana nada serius Axel. Dia dan Axel pmasuk ke dalam mobil dan tidak ada perbincangan di sana. Mobil berhenti di sebuah rumah sakit yang Aleena kenali. Rumah sakit khusus orang elite dan berduit. Termasuk rumah sakit langganan keluarga besar Wiguna. Rumah sakit yang tidak menerima pasien sembarangan. Kejagaan rahasia di rumah sakit sangat terjamin dan sulit untuk diretas.
"Kenapa ke sini? Bukannya--"
"Rangga sebenarnya dirawat di sini," potong Axel. "Rumah sakit yang kamu katakan itu hanyalah berita palsu agar semua pencari berita datang ke sana bukan ke tempat di mana Rangga dirawat sebenarnya."
Aleena pun mengangguk mendengar penjelasan dari Axel. Sebenarnya hal seperti ini sudah tidak asing untuk Aleena, tapi karena kepanikan dan kecemasannya membuatnya melupakan hal itu. Keluarganya sering sekali mengecoh pada pewarta berita..
Aleena sudah berjalan dengan diapit tiga orang berbadan tegap. Tak sedikit pun dia menegakkan kepalanya. Apalagi dia memakai Hoodie, masker juga kacamata hitam. Sengaja dia menggunakan itu karena dia tidak ingin diketahui oleh orang lain jika dia sedang berada di Jakarta. Dia juga ke Jakarta tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Untung saja Axel bisa diajak kompromi. Aleena mengikuti saja ke manapun para pria berbadan tegap itu membawanya. Apalagi Axel yang selalu berada di sampingnya.
Langkah Aleena terhenti di depan sebuah ruang perawatan vvip. Dia menoleh ke arah Axel dan anggukan kecil Axel berikan. Axel membuka pintu ruang perawatan dan di sana ada Agha yang sudah menoleh ke arah pintu. Namun, pandangan Aleena langsung tertuju pada seorang pria yang tengah terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Air matanya luruh seketika. Agha mulai mendekat, dan dia mengusap lembut pundak kakak sepupunya tersebut.
"Sembuhkanlah kakak Mas, Na."
Aleena pun menoleh ke arah Agha. Seulas senyum Agha berikan kepada Aleena. Dia pun meninggalkan Aleena yang sedari tadi menatap ke arah Rangga dengan air mata yang sudah tumpah.
Kini, di dalam kamar tersebut hanya ada Aleena yang masih bergeming di depan pintu. Masih menatap lelaki yang dia sayang terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di tangan. Pelan, tapi pasti langkahnya mulai mendekat ke arah ranjang pesakitan Rangga. Beriringan denpgan langkah kaki, ada bulir bening yang menetes. Hatinya sangat sedih melihat Rangga seperti itu.
"Mas," panggilnya begitu lirih.
Dia terus melangkah dan sekarang dia berada tepat di samping ranjang pesakitan Rangga. Air matanya tak pernah surut hingga dia mulai duduk di samping ranjang pesakitan dengan meraih tangan Rangga. Dia letakkan punggung tangan putih bersih itu di pipinya.
"Mas, bangun. Aku di sini."
__ADS_1
Bulir bening pun membasahi punggung tangan Rangga. Aleena masih menangis tanpa suara. Dia mulai mencoba memandang wajah Rangga yang masih pucat, tapi terlihat sangat tampan. Dia mengusap lembut pipi Rangga dengan air mata yang tak berhenti menetes.
"Mas, bangun."
Tak ada respon dari Rangga membuatnya semakin menangis lirih. Tangannya terus menggenggam tangan Rangga. Tak sedikit pun dia melepaskan tangan lelaki yang kini sudah mengobati traumanya.
"Mas, aku percaya sama Mas. Ayo bangun. Jangan terus ingkari janji Mas untuk tidak sakit. Aku sedih, Mas," lirih sekali perkataan dari Aleena. Hingga pada akhirnya Aleena memutuskan untuk mencium kening Rangga dengan begitu dalam dan lama. Tangannya pun masih menggenggam erat tangan Rangga. Dia berharap Rangga akan membuka mata.
"Aku sudah ada di samping kamu, Mas. Tolong bangunlah. Aku percaya jika hati kamu hanya untuk aku."
Rasa lelah menerpa Aleena karena Rangga tak kunjung membuka mata. Axel dan Agha sudah menawarinya untuk makan, tapi Aleena selalu menolak. Makanan pun sudah tersedia di meja ruang perawatan, tapi tak sama sekali Aleena sentuh. Dalam keadaan seperti ini perutnya sama sekali tidak lapar.
"Mas, bangunlah!"
Suara Aleena semakin melemah. Akhirnya, Aleena terlelap dengan tangan Rangga yang masih dia genggam dan kepala berada di atas tepian ranjang pesakitan Rangga. Agha dan Axel hanya menghela napas berat ketika melihat Aleena yang tertidur seperti itu.
"Aku kira cuma di kisah drama, ternyata di real life ada pasangan seperti itu." Axel hanya tertawa mendengar perkataan Agha.
Ketika pagi tiba, Aleena merasakan belaian lembut di ujung kepalanya. Dia mencoba untuk membuka mata. Lehernya terasa amat pegal. Pelan-pelan dia menegakkan kepalanya dan lengkungan senyum Rangga berikan kepadanya.
"Mas?"
Aleena sangat terkejut. Dia terpaku melihat Rangga sudah membuka mata.
"Apa aku mimpi?"
Rangga menarik tangan Aleena hingga dia terjatuh di dada bidang Rangga.
__ADS_1
"Ini nyata, Sayang. Mas sudah membuka mata."
Rasa bahagia tak terelakkan. Aleena perlahan menarik tubuhnya dari dada bidang Rangga. Senyum begitu manis Rangga berikan untuk Aleena hingga membuat tangan Aleena menangkup wajah lelaki di hadapannya itu.
"Apa ini benar nyata, Mas?" Rangga mengangguk.
"Aku takut, Mas."
Rangga meraih tangan Aleena yang ada di wajahnya. Senyumnya masih terukir di sana.
"Maaf, sudah ingkar janji untuk tidak sakit." Aleena tidak menjawab. Dia malah mencium kening Rangga dengan sangat dalam. Itu membuat sudut bibir Rangga terangkat dengan begitu lebar.
Aleena sudah membantu Rangga untuk duduk. Wajah cemas Aleena kini sudah hilang dan berganti dengan wajah penuh kelegaan. Dia pun sudah bisa untuk tersenyum.
"Mas, mau minum?"
Aleena hendak mengambilkan air di atas nakas untuk kekasihnya, tapi Rangga menarik tangannya hingga hampir terjerembab ke tubuh Rangga yang tengah tersenyum terduduk. Rangga menarik tangan Aleena dengan lembut Agar tidak ada jarak di antara mereka berdua. Mata mereka berdua pun terkunci.
"Mas tidak haus akan air, tapi Mas--"
Rangga mendekatkan wajahnya dan memposisikan bibirnya beradu dengan bibir Aleena. Seketika mata Aleena terpejam menikmati sesapan lembut yang Rangga berikan. Kecupan penawar rindu dan juga menjadi obat mujarab dari segala rasa sakit. Mereka masih saling menikmati dengan saling membalas. Baik Aleena maupun Rangga seakan tidak ingin mengakhiri. Morning kiss yang sangat lama yang membuat mereka terbuai, tapi masih mengontrol semuanya.
Klek!
Suara pintu terbuka pun tak mereka dengar hingga pekikan dari seseorang membuat kegiatan itu berakhir.
"ASTAGHFIRULLAH! KEPERJAKAAN MATA MAS HILANG!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ..