
Rangga tidak pulang ke rumah sang ayah melainkan pergi ke rumah sang calon istri. Dia mendengar jika sang calon ibu mertua tengah terbaring sakit. Ternyata ayahnya pun sudah di sana. Aleena sudah bergabung dengan mereka di sana ketika Rangga tiba.
"Mas--"
Tak Aleena sangka tangannya ditarik oleh Rangga hingga membuat semua orang yang berada di sana menatap bingung ke arah Rangga. Beda halnya dengan Aksa dan Aska yang tahu kenapa Rangga melakukan itu.
"Seorang lelaki tidak akan pernah mengijinkan wanitanya memperlihatkan auroranya."
Perkataan Aska membuat semua orang harus berpikir untuk sejenak. Hingga geplakan Aska terima dari Aksa.
"Aurat," pekik Aksa.
"Biar pada mikir bukan cuma ngang ngong ngang ngong doang."
Apa yang dikatakan Aska memang benar. Rangga menyuruh Aleena untuk berganti pakaian. Dia tidak ingin lekuk tubuh Aleena dilihat oleh lelaki manapun selain dia.
"Iya, Mas." Aleena mulai pasrah. Akan tetapi, dia menarik tangan Rangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Aku ganti baju dulu, ya." Aleena tak segan membubuhkan kecupan singkat di bibir Rangga hingga membuat Rangga berdecak kesal.
"Jangan buat Mas gila, Sayang." Aleena hanya tertawa ketika pintu kamar mandi sudah ditutup.
Rangga berdiri di depan jendela kaca kamar Aleena. Langit malam ini begitu indah. Banyak bulan dan bintang yang bertengger di indahnya langit malam. Rasa rindu mulai hadir ketika semilir angin mulai menerpa kulitnya.
"Pa, Ma, aku kangen."
Hanya kalimat itu yang mampu Rangga ucapkan. Kenangan dengan kedua orang tuanya sangatlah sedikit hingga dia tidak bisa mengingat banyak tentang ayah dan ibunya. Hanya kenangan di panti yang selalu melekat di kepalanya. Ketika Rangga menghela napas berat, di saat itupula ada tangan yang melingkar dari belakang.
"Apa Mas sedang merindukan kedua orang tua Mas?"
__ADS_1
Rangga merasakan jika calon istrinya sudah meletakkan wajahnya di punggungnya. Tangannya pun melingkar dengan begitu erat. Bukannya menjawab, Rangga malah menggenggam tangan putih dan halus yang tengah melingkar si depan perutnya.
"Bagaimana kita ijin kepada mereka, Mas?"
Pertanyaan Aleena membuat Rangga membalikkan tubuhnya. Dia menatap dalam ke arah wajah sang calon istri.
"Besok kita akan ijin ke makam Engkong, Pipo dan juga Kakek Genta. Sedangkan--"
"Kita hanya cukup datang ke laut dan berdoa di sana."
Dari kalimat yang terlontar ada sebuah kesedihan yang Aleena rasakan. Dia segera memeluk tubuh sang calon suami.
"Jadikan aku tempat bersandar sekaligus tempat keluh kesahmu, Mas. Apapun masalahmu, berceritalah kepadaku. Walaupun aku tidak bisa membantumu, setidaknya aku akan mendengarkan apa yang tengah kamu keluarkan." Rangga tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Aleena. Sungguh dia tidak salah memilih calon pendamping.
Di balik sisi jutek Aleena, ada kehangatan yang tidak semua orang bisa melihat apalagi merasakannya. Ada kehangatan yang tidak akan pernah dia tunjukkan kepada sembarang orang. Aleena termasuk wanita pelit. Senyumnya pun sungguh sangat sulit.
"Nikah belasan tahun ketika cerai gak dapat apa-apa. Di mana tuh otak laki, ya?" Riana sudah terlihat emosi.
"Mana ke pembaloet dirinciin juga," tambah Jingga. "Itu suami apa struk belanjaan?" tambahnya lagi.
Aksa dan Aska hanya saling pandang. Jika, dua wanita itu sudah membahas gosip terupdate, mereka berdua akan diam saja. Mereka berdua sudah tahu ujungnya akan ke mana.
"Percuma ganteng kalo pelitnya gak ketulungan mah." Emosi Riana sudah meledak.
Aksa menelan ludahnya dan menatap ke arah Aska yang menggedikkan bahu.
"Untungnya Sasa punya suami ganteng dan gak pelit." Aleesa menatap ke arah Restu dengan penuh cinta. Restu tersenyum dan mengecup singkat bibir Aleesa di depan kedua paman dan Tante istrinya.
"Kakak!" panggil Riana ke arah Rangga.
__ADS_1
"Iya, My."
"Awas kamu kalau sampe pelit ke istri kamu. Apalagi sampe ngerinciin sebegitunya kayak struk belanjaan. Mommy ambil semua kartu kamu."
Rangga dan Aleena yang baru saja duduk di sana hanya planga-plongo mendengar ultimatum sang ibu.
"Ini judulnya apa?" tanya Rangga tak mengerti.
"Biasalah kasus artis ganteng negara Konoha si bowo-bowo." Aska sudah berceletuk.
"Oh, yang ganteng tapi pelit itu," tambah Aleena.
"Nah!" jawab Jingga dan Riana.
"Wis angel kalau begini mah," balas Aksa.
"Masih mending ganteng tapi pelit. Lah ini ada artis Konoha udah jelek gak tahu diri pula." Aleesa menambahkan.
"Haduh!" Aska menepuk jidat. Empat wanita sudah mulai masuk ke dalam dunia perghibahan.
"Oh, yang judulnya surat cerai untuk si viraun ya."
Empat lelaki yang ada di sana kompak menghela napas kasar mendengar empat wanita tersayang mereka sangat kompak dalam bergosip.
"Mending mancing lah ke laut, yuk. Siapa tahu dapat putri duyung berkonde," ajak Aska ke ketiga pria yang ada di sana.
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1