MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
46. Pengganggu Kecil


__ADS_3

Semua orang terkejut dan tidak menyangka jika Rangga akan seberani itu. Beda halnya dengan Aksa yang tersenyum.bangga kepada putra angkatanya. Riana masih memegang dadanya karena dia sangat syok mendengar perkataan Rangga yang tidak main-main..


Aleesa tercengang mendengar ucapan Rangga yang sangat serius tersebut. Sedangkan Restu hanya tersenyum tipis.


"Keren juga nyalinya."


Si quartet bengong dengan keripik pisang yang masih ada di bibir mereka karena belum sempat digigit. Ghea, dia malah langsung menatap ke arah Jihan yang sangat syok hingga tas yang disampirkan di bahunya tejatuh.


"Kalau jantungan jalan sendiri ya ke rumah sakit. Di sini gak ada ambulance."


Keterkejutan mereka semua harus buyar karena ucapan nyelekit dari Ghea. Para penonton dan penikmat hubungan Aleena dan Rangga menyoraki pengganggu kecil itu.


"Lah? Salah Adek di mana? Orang Adek lagi ngomong sama si jin wadon itu." Lagi-lagi Ghea berani menunjuk ke arah Jihan yang sudah menitikan air mata. Sungguh dia dipermalukan malam ini.


Rangga yang begitu serius menatap ke arah Radit hanya bisa pasrah ketika ayah dari Aleena hanya bergeming. Menatapnya dengan sangat lekat.


"Baba," panggil Aleena dengan begitu lemah. Radit menoleh ke arah putri pertamanya, tatapan datar yang dia berikan.


"Setelah acara selesai, Baba ingin berbicara berdua dengan kalian."


Aleena dan Rangga menelan ludah mereka. Kembali mereka saling pandang dengan hati yang tak karuhan. Takut, cemas, bercampur jadi satu.


"Om, jangan terima Rangga."


Semua mata kini tertuju pada Jihan. Ghea ingin sekali menjambak rambut Jihan ketika wanita itu mulai menitikan air mata sambil menatap ke arah sang baba.


"Dia sudah melamarku, Om."


Radit masih diam. Kemudian, dia menatap ke arah Rangga yang sama sekali tak membela diri. Malah, tangannya semakin dia eratkan untuk menggenggam tangan Aleena.


"Apa Om mau anak Om disebut sebagai pelakor?"


Mendengar kata pelakor membuat amarah Aleesa memuncak. Dia menghampiri Jihan dengan langkah lebar dan mulai menarik rambut Jihan dengan sangat kencang.


"Ba cot lu parah ya."


."Aw! Sakit!"


Aleesa semakin menjadi. Ghea dan Balqis menjadi supporter Aleesa.


"Terus, Sasa! Jambak sampai botak!"


Semua orang sudah memanggil Restu, tapi suami dari Aleesa malah santai saja dan masih menikmati kacang almond.


"Itu bini lu!" Aska sudah berteriak.


"Biarin aja," jawab Restu. "Dari kemarin Aleesa emang pengen Jambak rambut panjang. Akhirnya, sekarang kesampean."


Jawaban Restu membuat semua orang tak bisa berkata. Mereka hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kakak Sa!"


Suara sang ayahlah yang mengehentikan tingkah Aleesa. Dia sudah berkeringat dan menatap ke arah sang ayah yang sudah menggelengkan kepala.


"Sudah. Kasihan calon cucu Baba."


Kalimat sang ayah tidak keras, tapi mampu membuat Aleesa berhenti menjambak rambut Jihan. Kini, Jihan menatap ke arah Rangga yang sedari tadi hanya memperhatikannya. Tanpa mau membelanya.


"Kenapa kamu berubah, Ngga? Ke mana perginya kehangatan kamu?" Jihan mulai berteriak.


"Eleh! Drama yang menbaghongkan!"


Mulut Ghea adalah perpaduan dari mulut sang ayah dengan mendiang sang kakek. sangat berbisa dan tidak ada satupun orang yang bisa menimpalinya. Ghea berlari keluar karena dia sudah tidak tahan dengan jin perempuan pengganggu.


Langkahnya terhenti ketika dia hampir menabrak anak dari sahabat sang pipo, Axel.


"Bang, bawa jin perempuan itu! Adek gak mau lihat wajahnya lagi!"


Axel mengusap lembut rambut Ghea. Dia pun mengangguk menandakan dia akan menuruti apa yang diminta oleh Ghea.


Suara langkah kaki yang masuk membuat semua mata tertuju pada pria gagah yang kini menghampiri Jihan.


"Lebih baik kamu keluar."


Tidak ada kata kasar, tidak ada kata keras yang keluar dari mulut Axel. Sekalipun Jihan memberontak, Axel tetap bersikap lembut.


"Tuh si Axel punya pelet apaan? Tuh si jin perempuan langsung mau diajak pergi." Aska bermonolog sendiri..


.


Aleena sudah memukul dada Rangga dengan cukup keras dengan terus berkata kenapa. Rangga hanya diam saja dan masih memperhatikan Aleena yang tengah memukuli dadanya karena marah. Ketika tenaga Aleena lemah, Rangga mencekal tangan Aleena dan menatapnya dengan sangat hangat.


"Karena aku mencintai kamu. Aku ingin membuktikan bahwa cinta aku kepada kamu itu tidak main-main."


"Tapi, ini masih terlalu newbie."


"Apa melamar seseorang itu harus menunggu hubungan lama terlebih dahulu? Apa ada aturannya seperti itu?" Aleena pun terdiam. Dia tidak bisa menjawab perkataan Rangga.


"Lama atau sebentarnya hubungan kita tidak akan mempengaruhi keyakinan aku untuk melamar kamu. Mimpiku untuk dekat dengan kamu sudah bisa aku capai. Sekarang, aku memiliki mimpi yang lebih tinggi lagi, yakni meminang kamu dan menjadikan kamu ratu di dalam hidup aku."


Mata Aleena pun berair mendengarnya. Setiap kata yang keluar dari mulut Rangga sangat tulus dan tidak ada kegombalan apalagi dusta yang dia ucapkan.


"Aku sangat mencintai kamu, Sayang. Aku mencintai kamu."


"Aku juga." Aleena berhambur memeluk tubuh Rangga.


Di lantai dua rumah Aksa, seorang pria tengah melihat sepasang kekasih itu sedang berpelukan. Tepukan lembut dari belakang dia rasakan. Dia tahu siapa yang datang.


"Lu lihat sendiri 'kan bagaimana Aleena dan Rangga? Gua aja yang sebagai omnya bisa merasakan betapa bahagianya Aleena ketika bersama Rangga."

__ADS_1


Radit hanya terdiam. Matanya masih tertuju pada putrinya dan juga putra angkat Aksa.


"Gak ada alasan untuk lu menolak lamaran anak gua. Dia adalah lelaki yang sangat pemberani."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Radit. Dia kini memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Gua yakin lu juga merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan anak lu. Tawa dan senyum Aleena sangat lebar dan tidak pernah gua lihat sebelumnya, tapi ketika bersama Rangga dia tertawa dan tersenyum tanpa beban dan begitu tulus. Itu membuat aura seorang Aleena Addhitama terpancar dengan sempurna."


.


Rangga ikut pulang ke rumah Aleena karena ayah Aleena ingin berbicara empat mata dengannya. Sebelum Rangga berangkat, dia meminta restu dan doa kepada kedua orang tuanya.


"Yakinkah, Kak." Rangga pun mengangguk.


"Kalau bapaknya Aleena nolak kamu, Daddy akan pecat juga dia jadi kakak ipar Daddy."


Riana pun memukul punggung Aksa hingga dia mengaduh. Agha dan Ghea hanya menggelengkan kepala. Betapa anehnya sang ayah mereka.


Tibanya Rangga di rumah Aleena, dia tidak melihat keberadaan Aleena juga yang lainnya. Di sana hanya ada Radit yang sudah duduk di ruang keluarga. Rangga tetap menunjukkan sopan santunnya walaupun Radit sudah memasang wajah sangar.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai anak Om? Aleena adalah wanita yang berbeda. Hatinya sudah retak dan sudah tidak bisa kembali seperti semula."


Wajah ayah dari Aleena terlihat sedih. Air mukanya sudah berubah drastis.


"Aku tidak main-main, Om." Tegas sekali jawaban dari Rangga.


"Aku janji, aku tidak akan membuat hati Aleena kembali retak. Justru aku berniat untuk terus memperbaiki hatinya yang retak walaupun aku tahu itu tidak akan bisa kembali sempurna seperti sedia kala."


Radit mulai melengkungkan senyum ketika mendengar jawaban dari Rangga.


"Apa kamu sanggup bersaing?" Pertanyaan Radit kali ini membuat Rangga menukikkan kedua alisnya


"Maksud Om apa?"


"Aleena sudah dijodohkan dengan seseorang."


Rangga malah tersenyum tipis mendengarnya. Dijodohkan, terdengar sangat lucu sekali di telinga Rangga.


"Siapapun yang sudah dijodohkan dengan Aleena, aku tidak akan mundur, Om. Aku akan tetap mencintai Aleena seperti dulu sebelum aku dicintai olehnya." Radit masih mendengarkan ucapan dari Rangga.


"Sekalipun Om melarang aku untuk mencintai Aleena, aku tidak akan pernah berhenti mencintainya. Akan aku perjuangkan cinta aku agar aku bisa terus bersama Aleena."


Ada air mata yang menetes ketika mendengar penuturan yang sangat jujur itu. Echa memeluk tubuh Aleena dengan begitu erat.


"Bubu yakin, Baba merestui hubungan kalian."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2