
"APAAN? JANGAN NGADI-NGADI LU!!"
Suara yang sangat Aleena kenali dan mampu membuat dia membeku dengan pikiran yang terus berkelana,.
"Tunggu lima menit. Gua ke situ."
Kalimat berikutnya membuat tubuh Aleena menegang. Belum ada lima menit, orang yang Radit hubungi sudah membuka pintu ruangan. Mata Aleena pun melebar.
"Ngomong apaan lu barusan?" Pria itu sudah naik pitam. Dia sudah menghampiri Radit dengan wajah yang sangat tak bersahabat. Dia pun melempar satu buah amplop ke atas meja Radit.
"Jangan pernah lu lari dari permintaan Daddy!" Orang itu tak main-main. Dia berkata dengan penuh penekanan.
"Anak gua yang pengen ngebatalinnya."
Jawaban Radit membuat tatapan tajam itu beralih pada Aleena. Sungguh Aleena tak bisa berkedip ketika ditatap sangat tajam oleh pria tampan, tapi berwajah sangar.
"Apa benar, Nana?" Sangat menyeramkan sekali suara itu hingga membuat suara Aleena tercekat.
"Jawab Uncle, Aleena!!"
Ya, pria itu adalah Aksara. Dia tidak terima dengan pembatalan perbesanan antara dirinya dengan sang kakak ipar.
"Na-na--"
__ADS_1
"Tak patut, tak patut," decak seorang anak perempuan. Aleena pun menoleh ke asal suara. Seorang anak perempuan juga remaja laki-laki tampan sudah berdiri membawa sesuatu di tangan mereka.
"Beraninya Nana nolak kakaknya Mas."
Aleena pun terkejut. Dia menganga tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
"Apa sih kurangnya Kak Rangga, Nana?"
Aleena belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dua anak remaja itu. Dahinya semakin mengkerut.
"Apa maksud kalian?" Aleena tidak mengerti karena keluarga pamannya seakan menyerang dirinya.
"Kamu beneran nolak Mas?"
"Aku membatalkan pertunangan dengan pria pilihan Pipo. Bukan dengan kamu, Mas." Suara yang disertai ketakutan. Juga wajah takut yang Aleena tunjukkan.
"Itu berarti kamu nolak Mas."
"Hah?" Kabel otak Aleena belum bisa tersambung hingga membuat semua orang berdecak kesal.
"Sekolah di luar bukannya makin pinter makin huh hah hah hah," omel Agha si mulut pedas.
Rangga akhirnya melangkah menghampiri Aleena. Dia meraih amplop cokelat yang ada di atas meja. Lalu, menyerahkannya kepada Aleena.
__ADS_1
"Buka dan baca!"
Aleena meraih amplop tersebut. Secarik kertas ada di dalamnya. Dia baca kata demi kata hingga dua buah nama terpampang jelas di sana.
Pipo sudah menjodohkan kamu, Aleena Addhitama dengan Rangga Ardana Prayoga. Tidak ada penolakan karena Pipo sangat yakin jika penerus RAP CORPORATE akan membuat cucu Pipo bahagia sekaligus akan menjadi imam yang baik untuk cucu kesayangan Pipo, Aleena.
Aleena masih tidak percaya dengan apa yang dia baca. Dia menoleh ke arah Rangga dan sebuah senyum yang Rangga berikan.
"Jadi, pria di surat wasiat itu--"
"Ya, dia adalah Rangga. Putra pertama Uncle." Aksa menjawab dengan penuh keyakinan.
"Cincin--"
"Itu Uncle yang kasih. Cincin yang Uncle berikan untuk kamu bukan cincin sembarangan. Harganya pun gak main-main. Seharga rumah di kawasan rumah Baba kamu."
Timpalan ucapan Aksa membuat Aleena tercengang untuk kesekian kalinya. Tanpa Aleena duga, Rangga meraih tangan Aleena dan memasangkan kembali cincin yang pernah dia lepas dari tangan Aleena, CIncin yang pernah membuat Rangga merasa sangat cemburu karena cincin itu tak pernah Aleena lepaskan. Ternyata cincin itu adalah cincin dari ayahnya sendiri. Sungguh Rangga sangat tidak menduga. Juga Aleena tidak tahu akan hal itu.
"Ayo. kita menikah!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1