MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
85. Pelukan Asing


__ADS_3

Menjadi anak yatim piatu dan tak mengetahui di mana letak jenazah sang ayah dan ibu bersemayam membuat Rangga hanya bisa pasrah dengan kenyataan hidupnya.


Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat di mana hampir sembilan puluh persen penumpang tidak dapat ditemukan. Begitu juga dengan kedua orang tua Rangga.


"Sekarang aku baru merasakan yang namanya rindu yang tak pernah ada obatnya. Jangankan pusara, jejak pun tidak ada," ucapnya dengan sangat pelan.


Setelah pulang dari pemakaman, rasa rindu tiba-tiba hadir. Rasa sesak mulai memenuhi dada. Rasanya dia ingin menangis sangat keras. Dua puluh tahun hidup sendiri, dia tidak pernah merasakan hal ini.


"Apa Papa dan Mama ada di sini?"


Manik matanya berair. Matanya terasa sangat panas. Tangisnya ingin sekali pecah. Namun, dia terus menahannya. Dia tidak ingin Aleena melihat kerapuhannya. Sekuat tenaga dia menahannya dan semuanya meledak. Dia terisak dan menunduk dengan begitu dalam.


Si anak yatim piatu yang baru merasakan kesedihan yang mendalam ketika menjelang hari bahagianya. Ketika orang lain ziarah ke makam keluarga yang sudah tiada, dia yang berstatus yatim piatu tak tahu harus ziarah ke mana.


"Tenyata sesakit ini ya, Pa." Suaranya begitu lemah dan bergetar.


Aleena yang baru keluar dari kamar mandi sedikit terkejut ketika punggung Rangga bergetar. Dia segera menghampiri Rangga. Mengusap lembut punggung Rangga dan Isak tangis itu semakin keras terdengar.


"Mas!"


Aleena segera memeluk tubuh Rangga. Dia membiarkan Rangga mengeluarkan semuanya. Sedihnya Rangga tidak dibuat-buat. Aleena bisa menebak apa yang ditangisi oleh calon suaminya.


"Selama dua puluh tahun hidup tanpa orang tua, Mas gak pernah merasakan sedih seperti ini. Kali ini, rasanya sangat sakit dan sangat rindu."


Kalimat lirih yang Rangga katakan membuat mata Aleena berair. Bukan hanya Rangga yang merasakan kesedihan. Aleena merasakan hal yang sama.


"Sebelum kita berangkat ke Melbourne, kita mampir dulu ke pantai." Ide Aleena ditolak oleh Rangga.


"Di pantai dekat pemakaman Mimo dan Pipo saja," sahutnya. "Mas, gak mau buat kamu capek."

__ADS_1


Di saat seperti ini saja Rangga masih memikirkan Aleena. Itu membuat Aleena merasa diratukan oleh lelaki yang sama sekali tak pernah dia sangka akan menjadi calon imamnya. Laki-laki yang dia anggap teman biasa, ternyata memiliki cinta luar biasa kepada dirinya.


.


Bertolak ke Melbourne bersama kedua orang tua Rangga dan juga orang tua Aleena. Agha dan Ghea pun ikut serta begitu juga dengan Axel. Baik Ghea maupun Agha akan menjadi pengganggu dua sejoli yang tak bisa dipisahkan.


Aleena merengutkan wajahnya ketika harus duduk terpisah dengan Rangga karena ulah Ghea. Anak bungsu dari Aksa dan Riana itu selalu posesif kepada kedua kakak lelakinya.


Rangga menatap Aleena yang tengah memejamkan mata. Lengannya sudah Ghea peluk dengan sangat erat.


"Semenjak Kakak mempublikasikan hubungan Kakak dengan Nana, Adek seperti kehilangan sosok kakak." Mendengar itu Rangga menoleh ke arah adiknya yang sudah meletakkan kepalanya di bahu Rangga.


"Kakak sudah jarang banget punya waktu untuk Adek. Padahal, Adek masih ingin bermanja sama Kakak." Seketika Rangga segera memeluk tubuh Ghea. Tak lupa dia mengucapkan kata maaf.


"Apa nanti kita akan jarang bertemu? Apa nanti Kakak gak sayang lagi sama Adek?"


"Kakak janji akan selalu meluangkan waktu untuk kamu." Kalimat yang begitu tulus yang keluar dari mulut Rangga dan mampu membuat senyum melengkung di bibir Ghea.


Tibanya di Bandara, tangan Rangga menggenggam erat tangan Aleena. Dia melihat jika Aleena sangat lelah. Namun, Aksa menginginkan acara ziarah ke makam kedua orang tuanya selesai hari ini juga dan mereka harus kembali ke rumah.


Banyak hal yang mereka katakan ketika di pusara Ayanda dan Gio. Setelah selesai, Rangga meminta waktu sejenak untuk pergi ke pantai yang berada di bawah pemakaman elite kakek nenek Aleena.


Aleena terus menatap punggung Rangga. Terlihat masih ada kesedihan di sana. Ketika langkah kaki Rangga terhenti, dia pun ikut menghentikan langkahnya.


Rangga menoleh ke belakang dan menarik tangan Aleena agar dekat dengannya. Dia merengkuh pinggang Aleena dan mereka berdua memandangi hamparan laut luas yang di atasnya terlihat ombak menari dengan begitu lincah.


"Pa, Ma, aku datang bersama wanita yang sering aku ceritakan kepada kalian."


Aleena terkejut mendengarnya. Dia menatap ke arah Rangga dengan begitu dalam.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus pergi ke mana, tapi dari sekian banyak berita yang aku tonton tentang kecelakaan pesawat yang menimpa kalian, di laut Australia lah kalian berada." Senyum pilu melengkung di wajah Rangga.


"Aku hanya ingin memberitahukan bahwa aku akan segera menikah dengan wanita yang ada di samping aku ini. Wanita yang sudah lama aku tunggu dan wanita yang sangat sulit aku gapai. Namun, sekarang dia sudah bisa aku genggam dan tidak akan pernah aku lepaskan."


Aleena menatap ke arah pria di sampingnya. Sungguh Aleena merasakan ketulusan yang luar biasa dari ucapan Rangga. Dia seperti dikenalkan kepada kedua orang tua Rangga sungguhan.


"Restui pernikahan aku ya, Ma, Pa. Aku janji, aku akan menjaga Aleena. Aku janji akan memberikan cucu yang banyak untuk kalian."


Aleena memeluk tubuh Rangga dari samping. Dia sangat merasakan kehilangan yang mendalam dari suaminya.


"Lihatlah, Ma, Pa. Calon menantu kalian sangat menyayangi aku. Jadi, jangan cemas dan jangan khawatirkan aku. Di sini aku sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa bersama mereka yang sangat tulus menyayangi aku."


Tidak ada kata lagi yang mampu Rangga ucapkan. Sepertinya stok kosa kata sudah tak ada lagi.


"Om, Tante, makasih sudah melahirkan anak yang sangat luar biasa seperti Rangga. Restui pernikahan kami berdua, ya. Doakan supaya rumah tangga kami menjadi rumah tangga yang langgeng dan hanya maut yang akan memisahkan."


Rangga membalas pelukan erat Aleena. Mengecup kening Aleena dengan begitu dalam. Membiarkan kaki mereka berdua diterpa air laut ditambah angin laut yang mulai bertiup. Mereka berdua kompak memejamkan mata.


Sebuah pelukan yang sangat hangat mampu Rangga dan Aleena rasakan. Pelukan yang sangat berbeda dari yang pernah mereka rasakan. Pelukan asing, tapi membuat mereka bahagia. Mereka berdua ingin membuka mata, tapi sangat sulit. Seakan mereka hanya diperbolehkan merasakan tanpa boleh melihat.


Dari kejauhan, Riana memeluk tubuh Aksa. Ada kesakitan luar biasa yang Riana rasakan. Ketika melihat adiknya menikah tanpa didampingi kedua orang tua saja sakitnya bukan main. Bagaimana dengan putra angkatnya saat ini? Walaupun Rangga terlihat baik-baik saja, tapi dia sangat yakin jika Rangga menyimpan kesedihan yang tak mau dia bagi kepada siapapun.


"Kakak Na dipeluk oleh seorang wanita cantik dan Rangga dipeluk oleh pria yang sangat gagah. Mereka berdua menangis, tapi menangis bahagia."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


Bagaimana rasanya jadi Rangga, ya? 😢 Yang sudah pergi dan ada makamnya pun masih sedih jika datang ke sana. Sedangkan Rangga?

__ADS_1


__ADS_2