MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
86. Meluapkan Kesedihan Dalam Kegelapan


__ADS_3

Menutupi semua kesedihan dengan senyum penuh kepalsuan. Itulah yang tengah Rangga lakukan. Bukan tanpa sebab, setelah merasakan pelukan asing rasa sedihnya semakin bertambah. Ghea yang ingin duduk bersama Rangga pun dilarang oleh kedua orang tuanya.


"Dek, biarkan Kak Rangga dan Nana berdua dulu. Kak Rangga butuh Nana."


Kalimat lembut yang Riana katakan kepada putrinya. Ghea yang biasanya menjadi manusia keras kepala, kini mau menuruti apa yang dikatakan oleh sang mommy. Sorot mata sang mommy sangatlah berbeda. Menunjukkan sebuah kesedihan yang mendalam. Itu membuat Ghea mengangguk patuh.


Agha menarik tangan sang adik dan menyuruh Ghea untuk duduk di sampingnya.


"Ketika Kak Rangga sudah menikah, dia sudah menjadi milik Nana. Adek jangan egois karena Mas yakin, Kak Rangga sudah menempatkan Adek di tempat yang khusus di dalam hati dan hidupnya."


Mendengar kalimat itu mata Ghea mulai berair. Apalagi sang kakak berkata dengan sangat tulus penuh kelembutan. Mengajarkan tanpa menghardik.


"Sebentar lagi kita akan melepas Kakak meraih kebahagiannya. Nanti, Mas juga akan menyusul Kakak dan Adek harus bisa menerima itu. Tapi, percayalah jika Adek akan tetap menjadi perempuan yang paling Mas dan Kakak sayang setelah Mommy."


Ghea memeluk tubuh Agha. Sungguh kakaknya sangatlah dewasa. Mampu mengemong Ghea dengan sangat baik. Menyayangi Ghea dengan sangat tulus.


"Mas dan Kakak akan selalu ada buat Adek. Jangan pernah merasa sendiri. Sekecil apapun masalah yang tengah Adek hadapi, ceritakan kepada Mas atau Kakak karena kami tidak akan pernah berubah. Tetap akan selalu menjadi sayap pelindung untuk malaikat cantik bernama Ghea."


Ghea memeluk tubuh Agha dengan begitu erat. Bulir bening menetes begitu saja membasahi pipinya. Sungguh dia sangat terharu. Usapan lembut yang Agha berikan menambah rasa haru di hati Ghea.


.


Tibanya di Jakarta, Rangga memilih pulang ke rumah kedua orang tuanya. Namun, dia sama sekali tak memejamkan mata. Ponselnya pun sengaja dia matikan. Dia ingin menikmati kesedihannya seorang diri. Walaupun sudah memiliki keluarga angkat yang sangat baik, tapi ketika di momen spesial seperti ini rasa sedih itu datang tanpa diminta.


Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Kamarnya dia buat segelap mungkin tak membiarkan secercah cahaya pun masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin menangis tanpa ada yang bisa mengintip.


Memeluk kedua kakinya dengan membebamkan wajahnya di atas lutut. Dia menumpahkan semuanya. Rasa rindu, rasa sedih, rasa sakit dalam tetesan air mata.


"Kenapa aku serapuh ini setelah dua puluh satu tahun hidup sendiri? Kenapa rasa sakitnya baru aku rasakan sekarang?"


"Wajar."


Itulah yang dikatakan oleh Radit ketika Aksa dan Riana mulai meminta pendapat perihal sikap Rangga sekarang.


"Peran orang tua kandung tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun walaupun dia sudah memiliki orang tua angkat yang lebih menyayanginya."

__ADS_1


"Apakah dengan waktu hanya dua tahun bisa membuatnya terus mengingat kedua orang tuanya?" Riana masih penasaran.


"Di alam bawah sadar Rangga, pasti dia sering bertemu dengan kedua orang tuanya. Apalagi dia menjadi anak yatim piatu di usia dua tahun. Dia pasti sering bermimpi tentang papa dan mamanya. Hanya saja dia tidak bisa mendeskripsikan. Ingatan anak kecil itu lebih tajam," papar Radit.


"Rasa sedih yang dimiliki oleh Rangga karena dia sedang merasa iri kepada calon pengantin lain. Ketika mereka akan menikah, mereka bisa berziarah ke makam ayah atau ibu mereka yang sudah tiada. Sedangkan Rangga? Hanya bisa menitipkan sebuah doa tanpa pernah bisa melihat pusara mama dan papanya."


"Itu pasti lebih sakit rasanya." Rangga mengangguk mendengar balasan dari Aksara.


"Anggap saja Rangga tengah meluapkan sedihnya yang selama dua puluh satu tahun dia pendam sendirian. Biarkan dia tenggelam dalam sedihnya. Dia bukan orang yang mudah berbagi kesedihan kepada orang di sekitarnya. Maka dari itu, dia selalu dipertemukan dengan orang yang selalu menyebarkan virus kebahagiaan hingga membuat Rangga menjadi lelaki yang memiliki aura positif."


Dalam diam Radit selalu memperhatikan Rangga. Ada banyak hal yang Rangga pendam sendiri. Calon menantunya itu memiliki sifat sama seperti dirinya. Ketika sudah lelah barulah semuanya dikeluarkan.


"Kalian hanya perlu mendampingi Rangga dan terus memberikan arahan positif untuk anak itu. Dia adalah anugerah terindah yang tidak bisa dengan mudah kalian minta kepada Tuhan."


.


"Na, aku ingin bicara sama kamu."


Ternyata Khairan masih berada di rumah Aleena. Menurut Aleesa Khairan dan Khrisna akan tinggal di rumah Radit hingga hari pernikahan Aleena selesai.


"A-aku minta maaf atas ke--"


"Cukup, Khai!"


Suara Aleena sedikit meninggi. Dia sudah tidak ingin mendengar hal itu lagi. Dia sudah melupakan semuanya dan membuang kejadian itu ke tempat sampah. Khairan pun hanya terdiam.


"Aku sudah memaafkan kamu, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu." Tegas sekali ucapan Aleena.


"Jadi, aku mohon jangan ganggu aku lagi. Aku tengah menenun kebahagiaan dengan laki-laki yang sangat tulus mencintai aku."


Aleena pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Khairan hanya bisa mematung tanpa bisa membalas satu patah katapun.


"Jangan jadi lelaki bodoh makanya." Suara Axel terdengar mengejek Khairan. Sahabat Aleena itupun berdecak kesal mendengar ejekan bodyguard pribadi Aleena.


"Cinta itu gak selamanya harus memiliki. Ketika lu ikhlas melepas Aleena, di saat itulah lu sudah didekatkan dengan seseorang yang sudah Tuhan siapkan untuk lu." Axel berkata dengan sangat tulus.

__ADS_1


.


Di lain rumah, Rangga masih bergelut dengan rasa sedihnya. Hingga sebuah cahaya dapat dia lihat dan sang ibu yang masuk ke kamarnya. Dia segera mengusap wajahnya yang basah, tapi kedua tangan lembut itu terlebih dulu menahan tangan Rangga.


"Kamu boleh menangis. Boleh banget." Suara lembut yang Rangga dengar.


"Tapi, menangislah di depan Mommy. Menangislah di pelukan Mommy agar Mommy bisa merasakan kesedihan kamu dan supaya kamu gak sendirian merasakan kesedihan itu."


Ibu angkat yang memiliki kasih sayang layaknya ibu kandung. Rangga sangat merasakan itu dan tanpa Riana meminta Rangga memeluk tubuhnya. Pada saat itu juga air matanya menetes.


"Rangga hanya anak angkatku, tapi kenapa aku sangat menyayanginya. Sama seperti rasa sayangku terhadap Agha dan Ghea."


Semenjak mengenal Rangga, sikap jelek Riana yang terkadang membedakan Agha dan Ghea mulai hilang. Rangga yang selalu menyadarkannya akan arti kasih sayang yang sama rata.


Riana membelai lembut punggung Rangga yang bergetar. Selama mengenal Rangga dia baru melihat kerapuhan putra tampannya tersebut. Setengah jam berselang, Riana merasakan tubuh Rangga semakin berat dan ternyata anak itu sudah tertidur.


Sekuat tenaga Riana merebahkan tubuh Rangga. Wajah sendunya terlihat begitu jelas. Tangannya mengusap lembut sisa air mata yang membasahi wajah tampan sang putra.


"Makasih, Kak. Kamu sudah hadir di hidup Mommy."


Sebuah kecupan hangat Riana berikan di kening Rangga. Dia tersenyum dan mulai menaikkan selimut ke atas tubuh sang putra.


"Setelah kamu bangun nanti, Mommy harap kamu kembali menjadi Rangga putranya Mommy." Senyum lebar terukir di wajah Riana, tapi suara bising membuat Riana harus segera keluar.


Riana menghela napas kasar ketika melihat Ghea tengah mencoba mengambil mie dalam cup yang berada di tangan si remaja jangkung.


"Balikin mie gua, Jelangkung!"


"Enggak!"


Riana hanya menggelengkan kepala. Padahal di sana ada Agha, tapi putranya malah diam saja.


"Kebiasaan kalau ketemu udan kayak kucing sama anjeeng." Riana mulai berkacak pinggang. Reksa dan Ghea pun menoleh.


__ADS_1



__ADS_2