MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
67. Pria Gila


__ADS_3

Tubuh Aleena menegang ketika mendengar perkataan dari orang yang sama sekali tak dia kenal. Dia sangat risih ketika pria itu bersujud di kakinya.


"Tolong bilang kepada R--"


"Maaf. Tolong lepaskan kaki saya."


Aleena masih berkata sopan. Dia sangat yakin jika orang ini ingin membongkar hubungannya dengan Rangga di tempat umum. Sedikit demi sedikit Aleena mulai peka dengan keadaan sekelilingnya. Itu berkat tempaan Axel. Dadanya sudah berdegup sangat kencang. Dia mulai bingung dia harus melakukan apa sekarang.


Tangannya mulai meraih ponsel di atas meja dan meninggalkan meja itu. Semua rekan Aleena pun menatap bingung ke arah pria yang masih berada di lantai. Belum sempat mereka mencari tahu, jam istirahat sudah selesai. Mereka kembali ke ruangan mereka lagi. Meninggalkan pria paruh baya itu seorang diri.


"Siya!"


Umpatan di dalam hati keluar dari mulut pria tersebut. Sungguh rencananya tidak berhasil kali ini.


Aleena berada di kamar mandi. Ponsel sudah ada di telinganya. Wajah cemas nampak begitu jelas.


"Kamu tenang ya, Sayang. Mas akan segera menyelesaikan semuanya. Mas juga sudah menghubungi security untuk mengusir pria gila itu."


"Jangan lama-lama, Mas. Aku takut."


Menyembunyikan semua rasa takutnya itulah yang tengah dilakukan Aleena. Dia memang tidak tahu siapa pria tersebut, tapi hatinya mengatakan pria itu bukan orang baik. Dia juga memiliki rencana jahat. Apalagi dengan lantangnya dia mengatakan kekasih dari, untungnya Aleena langsung memotong perkataan pria yang tadi bersujud di kakinya. Dia tidak ingin semua karyawan di sana tahu jika dia adalah kekasih dari sang direktur utama.


Aleena kembali ke meja kerjanya, dan wajahnya dia buat setenang mungkin. Benar saja para rekannya penasaran dengan pria tadi. Juga mereka kompak menanyakan perihal kekasih yang dikatakan pria yang tak dikenal itu.


"Aku tidak mengenal pria itu. Aku juga tidak mengerti dengan apa yang dia katakan."


Mencari jawaban yang aman. Aleena masih was-was, takut pria itu datang kembali dan membocorkan rahasianya. Hubungannya dengan Rangga biarlah menjadi rahasianya dan juga Rangga saja.

__ADS_1


Aleena terus melihat ke arah pintu menuju ruangan di mana dia dan rekannya bekerja di ruangan tersebut. Dia menanti Rangga datang. Berkali-kali dia melihat ke arah jam tangannya, tapi Rangga sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.


"Mas, aku takut."


Baru saja mengalihkan pikirannya ke arah benda segi empat yang ada di depannya, suara derap langkah kaki terdengar, Aleena mulai menoleh dan kekasih hatinya sudah berjalan dengan wajah yang sangat berbeda.


"Ke ruang saya."


Semua mata tertuju pada direktur utama yang sudah berdiri di depan meja Aleena. Mereka melihat Aleena langsung mengangguk. Mereka mulai menaruh curiga, Setiap kali direktur utama itu datang, pasti akan memanggil Aleena.


"Apa jangan-jangan Aleena kekasih dari pak Rangga?" Mereka mulai bermain tebak-tebakan.


Aleena sudah membuka pintu ruangan direktur utama. Ketika pintu itu dia tutup, Aleena langsung berhambur memeluk tubuh Rangga dengan sangat erat.


"Aku takut, Mas." Rangga membalas pelukan itu dengan tak kalah erat.


Rangga tak membiarkan Aleena beranjak dari sana terlebih dahulu. Dia ingin lebih lama memeluk tubuh Aleena.


"Mas, dia siapa?" tanya Aleena.


Rangga tengah memeluk tubuh Aleena di sofa ruangannya, mengecup bibir Aleena yang tengah menengadah ke arah sang kekasih. Aleena memundurkan kepalanya. Dia menatap penuh ingin tahu ke arah Rangga.


"Dia Alwi Prayoga, paman aku."


"Paman yang melamar Ji--" Aleena tidak ,melanjutkan ucapannya. Itu membuat Rangga mengecup pipi Aleena.


"Dia ke sini karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi," jelas Rangga,

__ADS_1


"Perusahaan batu bara miliknya yang di Kalimantan sudah aku porak porandakan." Aleena terkejut mendengarnya..


"Mas--"


"Mas bukan Rangga yang dulu, Sayang. Mas adalah putra Daddy. Selalu menjadi orang baik itu akan membuat kita dipandang sebelah mata dan lemah. Maka dari itu, tidak ada salahnya Mas mulai menegakkan kepala agar tidak ada orang yang berani menyepelekan lagi."


Kalimat yang penuh dengan makna. Rangga pun meminta Aleena pun seperti itu. Permintaan Rangga itu mulai dia praktikkan ketika keesokan harinya langkah Aleena menuju kantor dihadang oleh pria yang bersujud kemarin. Aleena hanya menghela napas kasar.


"Apa kamu sudah bicara dengan kekasih kamu yang sangat kejam itu?" tanya Alwi Prayoga.


"Itu semua tidak akan terjadi jika tidak ada yang memulai lebih dulu." Aleena menimpali dengan santai.


"Kenapa kamu menyalahkan saya?" tanya Alwi.


"Bukannya menyalahkan.Saya bicara sesuai fakta."


Aleena menatap Alwi yang sudah geram.Alwi pun kini mulai menunjuk ke arah Aleena.


"Kenapa? Anda mau mengancam saya?" tanya Aleena lagi.


"Saya akan membongkar skandal kamu dengan Rangga. Padahal, kamu sudah memiliki calon suami."


Ucapan Alwi tidak main-main. Dia kira Aleena akan takut, tapi Aleena tak gentar. Dia tersenyum tipis. Tangannya yang sedari tadi sudah menggenggam ponsel, dan mulai menunjukkan sebuah data valid. Mata ALwi pun melebar.


"Jangan pernah mengancam karena saya memiliki data adalah hidup dan mati Anda."


...*** To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2