
Rasa insecure mulai hadir di diri Aleena. Setelah membaca balasan pesan dari Rangga dirinya mulai merasa tak pantas untuk anak angkat dari pamannya itu.
"Kenapa?"
Suara Axel membuat Aleena menoleh. Dia tidak merespon Axel sama sekali hingga Axel duduk tepat di samping Aleena. Pria yang seumuran dengan suami adiknya kini menatap dalam wajah Aleena.
"Kalau aku menyayangi kekasih wanita lain, apa aku jahat?"
Aleena berkata dengan sangat lemah. Dia juga tidak berani untuk menatap wajah Axel..
"Secara logika sih iya."
Jawaban dari Axel membuat Aleena menghela napas kasar. Dia sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan sekarang. Harusnya dia bisa melupakan bukan malah semakin sayang.
"Ternyata cinta sendiri itu menyakitkan, ya " Aleena berkata dengan kepala menunduk dalam.
Hanya kepada Axel Aleena mau berterus terang tentang hatinya. Axel tersenyum dan membuang napas dengan kasar.
"Berarti sekarang kamu udah bisa lupain si kelapa tanpa kepala." Aleena menoleh ke arah samping di mana Axel sudah menyandarkan tubuh di kursi besi.
"Tapi, aku malah menelan rasa kecewa ketika hati ini sudah aku buka."
Sekarang giliran Axel yang menatap ke arah Aleena. Dia melihat jelas betapa pilunya perempuan yang harus dia jaga itu.
"Kamu tahu gak, sedari awal kamu itu udah jatuh cinta sama dia, tapi kamu dihalangi oleh si kelapa tanpa kepala hingga kamu terjebak pada perasaan yang salah dan berujung kamu yang disakiti olehnya."
Axel tahu bagaiman hubungan Aleena dan Kalfa. Sedari kecil dia sudah mengenal keduanya karena sang ayah, Remon yang tak lain adalah asisten kepercayaan dari Giondra selalu menyuruhnya untuk bermain bersama anak-anak dan cucu-cucu Giondra.
"Dia anak baik. Dia juga sangat tulus. Satu hal lagi, dia tidak pernah pergi walaupun kamu menjalin hubungan dengan orang lain. Dia menunggu, walaupun dengan hati yang teramat perih."
Mata Aleena berair mendengarnya. Dia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Terkadang kita menyadari cinta ketika dia sudah menjadi milik orang lain."
.
Khairan tersenyum bahagia ketika mendapat kabar dari sang ayah jika dia diberi tiket berlibur ke Jepang.
"Ini seriusan Yah, dua tiket?"
Sang ayah yang berada di sambungan telepon pun mengangguk. Wajah bahagia Khairan sangat jelas terlihat.
__ADS_1
"Makasih, Ayah."
Pemuda itu bagai anak kecil yang diberikan mainan baru oleh ayahnya. Dia sangat bergembira sekali.
"Dua tiket," gumamnya. "Plus uang saku juga." Sungguh dia tak menduga ini. Dia pun segera menghubungi ayah dari perempuan yang dia sayangi untuk meminta ijin.
.
Di lain rumah tatapan tajam sudah Ghea berikan kepada sang kakak. Di sana bukan hanya ada Ghea dan Rangga saja, ada kedua orang tuanya dan juga kakak kandung Ghea.
"Libur terbang Kakak sudah selesai. Kakak sudah harus terbang lagi." Rangga menjelaskan dengan begitu sabar kepada Ghea. Dia tahu adiknya takut jika dia pergi dengan Jihan. Namun, Ghea tidak percaya begitu saja.
"Ya ampun, Dek. Kakak kamu mau kerja loh." Kini, sang ayah membuka suara.
"Kerjanya Kakak dekat sama cewek-cewek. Adek gak suka, Dad." Kedua orang tua Ghea malah tertawa mendengarnya. Bukan hanya pada Rangga dia bersikap posesif seperti itu. Kepada Agha pun sama.
"Kok Adek gak cemburu sama teman Mas?" Agha mulai menatap sang adik.
"Teman Mas yang cewek itu udah Adek ultimatum semua. Makanya sekarang mereka gak terlalu dekat sama Mas 'kan." Seringai licik pun muncul di wajah Ghea dan itu membuat Agha dan lainnya menggelengkan kepala.
"Gimana ini, My?" tanya Agha. "Bahaya punya adik begini mah. Bisa-bisa Mas jadi bujang tua karena harus nunggu restu dari si Ghea."
Tawa bahagia terdengar di sana. Hingga pertanyaan sang ibu terlontar untuk Rangga.
"Jepang."
.
"Bang Axel beneran gak ikut?" tanya Aleena dengan wajah sedih. Kakak dari Acel itu menggeleng.
"Tiketnya cuma dua, Na." Begitulah timpalan dari Khairan.
Axel hanya tersenyum. Dia tahu Khairan sedang mencoba menjauhkan Aleena darinya karena cemburu buta.
"Have fun, ya." Dia berucap kepada Aleena yang masih terlihat sendu. Biasanya mereka bertiga akan pergi bersama.
Khairan dan Aleena pun pergi meninggalkan Axel yang masih menatap punggung mereka berdua. Dia tersenyum ke arah Aleena yang menoleh kepadanya lagi. Axel mengangguk pelan dengan senyuman yang manis.
Wajah Aleena nampak tak bahagia karena dia merasa ada yang kurang jika hanya pergi berdua dengan Khairan.
"Kamu gak senang?" Khairan bertanya kepada Aleena ketika baru tiba di Bandara untuk bertolak ke Jepang.
__ADS_1
"Kayak ada yang kurang aja gitu kalau cuma berdua."
Khairan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Aleena dengan tatapan yang begitu dalam.
"Na, kenapa sih kamu tidak memberikan kesempatan kepada aku? Aku ingin kita menikmati waktu berdua. Aku ingin lebih dekat dengan kamu. Semenjak ada Axel, aku seperti orang asing buat kamu."
Aleena terdiam. Dia lebih nyaman ketika berbincang dengan Axel walaupun mereka baru saja dipertemukan lagi. Bukan karena ada hati, Axel yang bersikap selalu menjaga membuatnya merasa nyaman. Khairan, dia penghidup suasana menjadi riang dengan candaannya yang terkadang tidak lucu.
"Enggak gitu, Khai."
Khairan melihat ke arah tangannya yang sudah dipegang oleh Aleena. Ada desiran hebat di hatinya.
"Kamu maupun Bang Axel adalah dua orang yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan dan sakitku. Kalian sangat berjasa akan kesembuhan aku."
Begitu tulus ucapan dari Aleena sehingga membuat hati Khairan luluh dan dia menarik Aleena ke dalam pelukannya. Namun, tangan Aleena tak membalas sedikit pun.
"Aku sayang kamu, Na."
Aleena tak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya sejenak dan bayang wajah Rangga lah yang kini memutari kepalanya.
"Aku cintanya sama Rangga, Khai."
Senyum tulus Rangga lah yang kini berputar di kepalanya. Senyum yang selalu dia ukirkan walaupun hatinya berantakan. tak karuhan.
"Aku akan pergi, tapi jangan larang aku jika aku kembali lagi."
Kalimat itu yang sampai saat ini masih terdengar di telinga Aleena. Namun, ada ragu ketika waktu terus berputar dan dia mendapatkan kenyataan yang memilukan.
"Apakah kamu akan kembali lagi? Atau menyudahi perjuangan kamu untuk menunggu cinta yang aku miliki?"
Aleena dipeluk oleh Khairan, tapi pikirannya melayang-layang memikirkan pria yang sedang berada di balik kokpit dan akan lepas landas ke negeri Sakura. Dia sangat gagah dengan pakaian dinasnya.
.
Sebelum Khairan dan Aleena masuk ke dalam pesawat, ponsel yang hendak Aleena matikan berbunyi. Pesan dari Axel.
"Saya sudah mengutus seseorang untuk menjaga kamu. Kamu aman walau tanpa saya."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1
Tembus 30 komen aku up lagi ðŸ¤