
Seorang pria tersenyum ketika dia mendengar berita jika wanita yang dia sayang sudah dilamar oleh kekasihnya. Lamaran dadakan di depan keluarga besar. Sungguh dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Haruskah dia ikut bahagia sekarang?
"Pantas saja mereka semua seakan menutup pintu untukku masuk," gumamnya.
Penyesalan pasti ada, tapi dia harus menerima semuanya karena ini memang salahnya. Seharusnya dia tidak melakukan hal bodoh yang akan merusak semuanya. Dilandasi cemburu membuat dia tak bisa berpikir jernih. Melakukan sebuah tindakan yang sangat merugikan.
"Maafkan aku, Na."
Lelaki itu mulai berdiri dan mengambil kunci mobil di atas nakas. Dia keluar dari kamarnya. Pertanyaan sang ayah membuat langkahnya terhenti.
"Aku mau bertemu Ibu dulu."
Dalam kondisi seperti ini satu nama yang dia ingat, ibu. Dia melajukan mobil menuju rumah sakit di mana ibunya berada.
"Sejahat apapun ibumu, dia tetaplah wanita yang melahirkanmu."
Itulah yang dipegang teguh oleh pria yang berada di balik kemudi. Dia sempat marah, tapi kini dia sudah berdamai dengan kenyataan. Dia sudah tumbuh menjadi dewasa dan harus menjadi manusia bijak sama seperti sang ayah.
Langkah pria itu terhenti ketika dia sudah berada di depan kamar perawatan. Hatinya sakit ketika ibunya tengah berbicara sendiri dengan guling yang dia peluk. Wjahnya sangat sayu dan semakin hari tubunya semakin kurus.
"Khi, apapun yang kamu mau pasti akan Ibu turuti. Asalkan Khia tetap bersama Ibu."
Seketika wajah ibunya sendu. Dia hanya melamun, dan memandang guling yang tengah dia peluk.
"Kondisinya belum menunjukkan perubahan."
Khairan menoleh ke asal suara di mana dokter yang menangani ibunya menjelaskan. Khai hanya mengangguk. Dia hanya bisa tersenyum perih.
"Dia benar-benar sangat kehilang Khia."
Khairan tidak bisa menjawab apapun. Matanya masih tertuju pada sang ibu yang bermata kosong. Dia ingin memeluk tubuh ibunya. Sudah hampir dua bulan ini Khairan tidak menjenguk karena kesibukannya.
__ADS_1
"Saya masuk dulu, Dok." Dokter itupun mengangguk.
"Ibu," panggil Khairan. Wanita itu masih bergeming. Masih menatap guling dengan tatapan sangat kosong.
"Bu, maaf. Khai baru sempat nengok Ibu."
"Khia."
Hanya nama kakaknya yang ibunya sebut. Khairan tak akan cemburu karena Khairan sudah terbiasa dengan perlakuan ibunya yang seperti ini.
"Bu, bolehkan Khai minta sekali saja dipeluk Ibu? Sekarang ini Khai sedang patah, Bu."
Khairan tersenyum dengan mata yang berembun. Ibunya lah yang kini menjadi tempatnya mengadu. Walaupun tak didengar setidaknya apa yang menjadi beban di hatinya sudah tersampaikan.
"Bu, beginikah rasanya ketika cinta tak terbalas? Khai hanya cinta sendiri. Sedangkan dia ... Mencintai lelaki lain. Lelaki yang katanya lebih baik dari Khai. Apa Khai tidak berhak untuk bahagia, Bu?"
Khairan menatap ibunya yang kembali terbengong. Khairan tak sanggup menahan laju air matanya. Rasa sakit hatinya kini berlipat ganda karena dia teringat akan perlakukan ibunya dulu kepadanya. Namun, rasa itu dia singkirkan jauh-jauh. Dia tidak boleh mengingat hal itu karena itu sudah terjadi. Walaupun sakitnya meninggalkan bekas yang tak akan pernah hilang.
Khairan memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat. Dia merasa sangat bersalah karena ketika sang kakak tiada, Khairan yang masih mengutamakan emosi dan ego tidak mau melayat ataupun melihat jasad kakaknya untuk terakhir kalinya. Jika, waktu dapat diputar kembali, ketika itu terjadi dia akan menyingkirkan egonya, memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat dan mengatakan, "masih ada Khai, Bu. Khai yang akan menggantikan Khia."
Sayangnya, satu hal yang tak bisa diubah yaitu waktu. Namun, dia juga merasa beruntung karena sekarang dia bisa memeluk tubuh ibunya tanpa wanita itu memberontak. Setelah sekian lama dia menanti hal itu dan baru dia dapat rasakan ketika ibunya masuk rumah sakit jiwa.
Khrisna, dia mengikuti sang putra dan tubuhnya akan berdiam diri di jendela rumah sakit ketika melihat pemandangan yang sangat jarang terjadi selama dia memiliki Khairan.
"Harusnya kamu menyayangi Khai juga. Dia anak kandung kamu walaupun aku bukan ayah kandungnya." Khrisna menghela napas berat. Perjalanan hidupnya sangatlah terjal dan berliku. Juga ujian hidupnya sangatlah berat. Namun, dia mampu melaluinya karena dia percaya ujian itu harus dihadapi bukan untuk dihindari.
Lahirnya Khairan menguat hatinya mencelos. Pada awalnya dia ingin membuang Khairan, tapi hatinya tidak tega terlebih ketika melihat mata Khairan yang indah. Dia juga sadar jika Khairan tidak bersalah sama sekali. Semenjak kelahiran Khairan, Khrisna mulai berdamai dengan rasa sakit hati atas pengkhianatan istrinya.
"Kamu pria hebat."
Dokter yang menangani Eriska memuji Khrisna. Dia adalah sahabat Khrisna. Ayah dari Khairan hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu mampu mendidik Khairan menjadi anak yang sangat baik. Jauh lebih baik dari mendiang Khia."
"Khia adalah anak yang aku dan Eriska nanti. Maka dari itu, Eriska sangat memanjakannya. Dia berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan menuruti semua yang diminta Khia. Apapun itu, dan aku tidak boleh ikut campur dalam mendidik Khia."
"Walaupun kamu tidak berperan dalam mendidik Khia. Sekarang kamu sangat sukses mendidik Khairan. Apalagi kasih sayang tulus kamu berikan kepadanya. Kelak, Khairan akan menjadi orang hebat." Khrisna memandangi putranya yang tengah memeluk mantan istrinya.
"Ya. Aku pun berharap seperti itu."
"Maafkan Ayah, Khai. Ayah masih belum ingin membuka identitas kamu yang sebenarnya. Ayah terlalu sayang kepada kamu. Ayah tidak ingin kamu pergi meninggalkan Ayah jika mengetahui kenyataan yang sesungguhnya."
.
Khairan baru pulang dari rumah sakit ketika senja tiba. Dia tidak langsung pulang ke rumah karena dia terlalu banyak menangis. Terlalu banyak mengadu kepada sang ibu hingga menyebabkan matanya sangat sembab.
"Khi, harusnya kita bertukar posisi. Kamu di sini dan aku di surga sana."
Sisi lain dari sikap humoris dan ceria Khairan ya seperti ini. Dia akan berubah drastis ketika seorang diri. Dia seperti bunglon, bisa menempatkan diri di berbagai situasi karena dia tidak ingin orang lain melihat kesedihannya.
Asyik duduk seorang diri di kursi besi sebuah taman sepi, dia merasa terganggu dengan suara pertikaian dua orang manusia. Telinganya yang ingin merasakan ketenangan malah terganggu dengan suara kebisingan. Khairan hanya menghela napas kasar. Dia ingin marah, tapi dia masih waras. Alhasil, dia memilih beranjak dari sana..
"Aku tidak melakukannya! Aku tidak ingat!"
Khairan hanya menggelengkan kepala ketika mendengar perkataan yang begitu kasar keluar dari mulut seorang pria. Sungguh sangat ba jingan bagi Khairan. Khairan mulai melangkahkan kaki menjauhi kursi besi yang dia duduki.
"Tapi, ini perbuatan kamu."
Langkah Khairan pun terhenti ketika mendengar suara perempuan yang menimpali perkataan lelaki ba jingan tersebut. Dia masih ingat suara siapa itu.
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1