MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
117. Bonchap Lagi


__ADS_3

Perjalanan rumah tangga Rangga dan Aleena bisa dibilang bahagia. Hanya saja, sudah setahun menikah Mereka belum dikaruniai buah hati. Aleena mulai merasa khawatir dan takut. Program kehamilan sudah dia dan Rangga lakukan. Namun, Tuhan belum juga mempercayakan.


"Mas, gak akan menuntut apapun dari kamu, Sayang. Anak adalah rejeki dari Tuhan. Mungkin Tuhan belum percaya sama kita untuk memiliki momongan."


Wajah sendu Aleena terlihat jelas. Rangga memeluk tubuh istrinya yang tengah memegang testpack garis satu. Padahal sudah seminggu dia telat datang bulan.


"Yang penting kita terus berusaha. Biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya."


Rangga mengambil testpack tersebut. Kemudian, membuangnya ke tempat sampah. Dia tidak ingin sang istri kepikiran akan hal tersebut.


Alasan Aleena ingin tinggal di Sydney dan jauh dari keluarga karena dia tidak ingin membuat keluarganya kecewa. Mereka menantikan anggota keluarga baru dari dirinya dan Rangga.


Rangga tahu akan ketakutan istrinya. Namun, dia terus memberikan semangat kepada Aleena. Toh, dia juga santai dalam perihal memiliki anak.


"Apa mau program bayi tabung?" tanya Rangga kepada Aleena.


"Aku ingin hamil secara alami, Mas."


Aleena tengah menatap ketiga keponakannya yang sudah tumbuh semakin besar. Si kembar Reyn dan Ray yang mulai bisa jalan.


"Kita culik si kembar aja gimana?"


Aleena malah tertawa mendengar candaan sang suami. Rangga menarik tangan Aleena ke dalam pelukannya.


"Lusa kita ke Jakarta. Kita bisa ajak main Abang Er dan si kembar. Siapa tahu aja mereka bisa jadi pancingan untuk kita."


.


Tibanya di Bandara Jakarta, Abang Er dan si kembar menjemput sang paman dan juga Tante. Mereka bersama sang Bubu.


"O-pap!"

__ADS_1


Siapa lagi jika bukan Abang Er yang sangat merindukan sang paman. Rangga tersenyum dan segera menggendong tubuh Abang Er.


Begitu juga dengan Reyn dan juga Rayyan yang ingin digendong oleh Aleena. Walaupun Aleena jarang bertemu dengan si kembar, mereka saling bertukar kabar melalui sambungan video sehingga membuat mereka sangat dekat.


Ketika Lion Golden Family berkumpul, akan ada pertanyaan yang membuat hati Aleena perih terdengar.


"Kok lama sih ngisinya."


Rangga akan mengusap lembut punggung tangan Aleena. Di balik senyumannya yang menjadi jawaban atas pertanyaannya itu, ada rasa sedih dan sakit yang Aleena rasakan setiap mendengar pertanyaan tersebut.


"Kurang kental kali, Ga." Aksa sudah membuka suara.


"Jangan kecapean, Kak. Itu bisa mempengaruhi pada kekentalan loh. Merusak kualitas juga." Sang ayah menambahkan ucapan Aska.


"Belajar tuh sama si Restu, sekali tancap langsung jadi." Aska memberi ide. Sedangkan Restu hanya tersenyum kecil.


"Padahal tuh anak kotor banget dalamnya. Rokok, alkohol, tapi kualitas sper ma super banget."


"Kalo kumpul pasti bahasnya hal beginian." Aleesa pun mengomeli para bapak-bapak yang disambut tawa renyah oleh mereka.


.


Dua setengah tahun sudah Aleena dan Rangga membina rumah tangga. Mereka memang jarang bertengkar. Hanya perihal momongan yang sering kali membuat mereka berdebat. Sudah sebulan ini Aleena mulai berdamai dengan kenyataan. Dia menyerahkan semuanya kepada sang pemilik rencana.


Seperti pagi ini, tubuh Aleena terasa tak bertulang. Biasanya dia sudah menyiapkan sarapan juga kopi untuk Rangga, tapi dia masih membalut tubuhnya dengan selimut.


"Sayang," panggil Rangga ketika dia sudah selesai mandi dan hanya menggunakan bokser.


"Mas, beli sarapan di luar aja, ya. Aku lemas banget. Kayaknya masuk angin."


"Ke dokter, ya."

__ADS_1


Aleena menggeleng. Dia malah memeluk perut Rangga. Aroma sabun yang masih menempel di tubuh suaminya membuat Aleena merasa tenang.


"Mas, ingin menemani kamu, tapi ada rapat penting yang gak bisa Mas tinggalkan."


"Gak apa-apa, Mas. Aku cuma masuk angin doang kok. Mas, kerja aja. Aku gak mau menghambat pekerjaan Mas." Sikap pengertian Aleena yang sangat luar biasa itu yang membuat Rangga semakin cinta dan sayang kepada istrinya.


Perasaan Rangga sudah tidak enak di pertengahan rapat. Dia terus teringat akan istrinya. Ditambah sang mertua menghubunginya. Menanyakan perihal Aleena yang tidak bisa dihubungi. Rangga ingin segera pulang.


Setelah semuanya selesai, dia segera pulang ke rumah. Dia dan Aleena tengah berada di negeri orang dan jauh dari keluarga. Menghubungi Aleena pun tidak ada jawaban.


"Kamu ke mana, Sayang?"


Tibanya di rumah, Rangga segera menuju ke kamar. Dia memang tidak memiliki ART karena rumah yang dia dan Aleena huni pun kecil.


"Sayang," panggil Rangga.


Dia terkejut ketika melihat istrinya yang tengah terbaring di atas kasur dengan wajah yang sangat pucat. Wajah Rangga pun sangat panik.


"Aku gak mau Bubu dan Baba tahu kalau aku lagi sakit. Aku mau menemani kamu di sini."


Rangga tak bisa berkata. Sungguh istrinya ini sangat luar biasa. Tidak pernah mau terlihat sakit di hadapan kedua orang tuanya. Jika, orang tuanya mengetahui hal itu sudah dipastikan Aleena akan disuruh kembali ke Jakarta.


"Kita ke rumah sakit, ya. Mas gak mau melihat kamu sakit."


Rangga membawa tubuh lemah Aleena ke rumah sakit. Wajah pucat sang istri membuatnya tidak tega. Rangga terus mendampingi Aleena. Selesai diperiksa, dokter hanya memberikan resep obat. Aleena tidak perlu dirawat.


Sesampainya di rumah, Rangga yang hendak memberikan obat kepada sang istri dikejutkan dengan adanya sebuah alat yang tidak termasuk ke dalam obat-obatan.


"Kok ada--"


...***To Be Continue****...

__ADS_1


Jangan lupa komennya. Kalo komennya banyak akan aku kasih bonus Chapter satu lagi.


__ADS_2