
Sebuah pengakuan mengejutkan membuat dua saudara Aleeya tercengang. Dada mereka berdua teramat sesak mendengar hal tersebut.
"Maafkan Adek, Kakak Na, Kakak Sa." Sebuah penyesalan yang terlontar dari mulut Aleeya.
"Yang gua pikirkan bukan lu, Ya. Tapi, bagaimana perasaan Bubu dan Baba?" Aleesa menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Gua gak ngerti kenapa lu bisa jadi manusia bodoh kayak gini? Cinta boleh, tapi tholol jangan!"
Aleena hanya diam saja. Dia tidak membela Aleeya ataupun Aleesa. Dia hanya sebagai pendengar saja. Mengamati apa yang akan terjadi.
"Sebelum lu ngelakuin, pake otak lu!" Aleesa meletakkan jari telunjuknya ke dahi Aleeya yang tengah menunduk. Jiwa preman Aleesa muncul kembali.
"Malu gua punya Adek tholol kayak lu!"
Bentuk rasa kecewa seorang kakak. Menahan sedih dan meluapkannya dengan kata kasar. Itulah yang Aleesa lakukan. Dia berlalu begitu saja dan menutup pintu kamar Aleeya dengan cukup kencang.
Kini, hanya tinggal Aleena dan Aleeya yang ada di kamar anak ketiga Radit dan Echa. Aleeya tak berani menatap ke arah sang kakak.
"Nikmati saja karma kamu, Dek."
Deg.
Sakit sekali hati Aleeya mendengarnya. Apalagi dia melihat sang kakak sudah berdiri dan hendak pergi dengan wajah yang sangat datar sekali. Tanpa berpikir panjang, Aleeya bersimpuh dan memegang kaki Aleena. Langkah Aleena pun terhenti.
"Maafkan Adek, Kakak Na."
Lirih, itulah yang mampu Aleena dengar. Namun, tak membuat hati Aleena gentar. Dia masih bersikap datar.
"Aku sudah memaafkan kamu jauh dari sebelum kamu meminta maaf." Kalimat yang begitu dingin dan sangat menusuk ulu hati.
"Memaafkan bukan berarti melupakan," tambah Aleena.
Tangan Aleeya yang tengah memeluk kaki Aleena pun terlepas. Aleeya mendongak menatap ke arah Aleena yang sama sekali tak menoleh kepadanya.
"Traumaku tidak bisa dibayar dengan hanya sebuah kata maaf. Juga luka hatiku tidak bisa disembuhkan hanya dengan simpuhanmu."
Aleeya menunduk dalam mendengar kalimat yang sangat kejam yang sang kakak katakan. Dia tidak bisa mengelak kalimat itu karena memang sang kakak sangat hancur karena dirinya dan lelaki berengsek yang dicintai dia dan kakaknya itu.
"Penyesalan kamu sudah terlambat. Nikmati saja karmamu. Harusnya kamu sadar sedari awal, apa yang kamu tanam itulah yang nantinya akan kamu tuai."
Sungguh Aleeya tak bisa berkata apapun. Dia sungguh diskakmat oleh sang kakak.
"Terima kasih atas rasa sakit dan lukanya. Karena kamu dan lelaki tak berhati itu aku bisa mendapatkan kebahagiaanku yang sesungguhnya. Bertemu dengan lelaki yang teramat tulus dan sangat menghargai aku. Menjaga aku layaknya guci mahal. Bukan seperti barang murah yang berserakan di jalanan."
Aleena pun pergi meninggalkan Aleeya yang masih terduduk di lantai. Sekarang, kedua saudaranya pun menjauhi dirinya. Dia memang bodoh. Malah sangat bodoh. Hanya bulir bening yang menggambarkan perasaannya sekarang ini.
"Bahkan, semut pun menghindariku," gumamnya ketika melihat semut kecil di lantai kamarnya yang memutar arah. Aleeya tersenyum kecil dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
.
Restu memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat. Sang istri menangis pilu dan tersedu.
"Andai Mami bisa bernegosiasi dengan malaikat pencabut nyawa. Mami ingin memohon kepada malaikat itu supaya mencabut nyawa si berengsekk dengan cara yang sangat menyakitkan."
Restu mengulum senyum mendengar kalimat sang istri. Sungguh istrinya sangat berubah ketika sudah memiliki anak. Disela emosinya akan terselip lelucon yang tak disengaja dan menimbulkan gelak tawa.
"Orang jahat biasanya memiliki banyak nyawa. Jadi, malaikat pencabut nyawa pun malas nyabut nyawa dia."
Aleesa memukul dada Restu dan tawa Restu pun terdengar. Namun, Restu tak melepaskan pelukannya kepada sang istri.
"Mami serius, Pi."
"Papi malah dua rius."
Aleesa pun merengut kesal dan itu membuat Restu semakin tertawa keras. Kesal dan marahnya Aleesa membuat Restu semakin gemas.
"Mami udah nyiapin kado buat Aleena belum?"
Restu sudah meletakkan kepalanya di bahu Aleesa. Dia mulai bermanja kepada istrinya.
"Papi ajalah yang nyiapinnya. Mami bingung."
"Ya udah."
.
"Na, kamu gak salah?"
"Udah, Bang. Anter aku aja sekarang."
Wajah Aleena seperti sedang menahan emosi yang menggebu. Axel tak bisa berkata dan tak bisa membantah. Dia pun menghubungi seseorang tanpa sepengetahuan Aleena.
Tibanya di tempat yang diinginkan Aleena. Axel sudah bersiaga berada di samping Aleena. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal kepada calon pengantin tersebut.
"Pak Axel," sapa penjaga lapas malam itu.
Aleena menatap ke arah Axel. Anggukan kecil Axel berikan. Dia pun berbincang sebentar dengan penjaga lapas hingga sebuah kesepakatan terjadi.
"Baiklah. Pak Axel dan Nona tunggu di ruang besuk." Penjaga lapas pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Axel melirik ke arah Aleena yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia sedikit takut karena baru kali ini dia melihat Aleena seperti itu.
"Na--"
"Ternyata aku masih memiliki urusan kepadanya sebelum aku menikah besok." Tatapan berbeda Aleena tunjukkan kepada Axel.
__ADS_1
Lima menit berselang, lelaki memakai baju orange datang bersama penjaga lapas. Terlihat wajah lelaki itu sangat sumringah dan penuh bahagia melihat kedatangan Aleena.
"Na, itu benar kamu 'kan?" Suara di berengsek itu mulai terdengar sangat senang.
Aleena menoleh kepada Axel. "Tinggalin aku berdua, Bang."
Semakin senang sekali si lelaki tak berotak itu. Apalagi melihat Axel dan penjaga lapas yang sudah mulai menjauhi ruang besuk.
Kalfa, Aleena meminta Axel menemaninya untuk menemui Kalfa di lapas. Lelaki itu mulai tak tahu diri. Dia ingin duduk di samping Aleena, tapi suara tegas Aleena membuatnya mengurungkan niat.
"Jangan mencoba untuk mendekat."
Kalimat yang terdengar sangat dingin dan menyeramkan. Mampu membuat Kalfa bagai anak kecil yang takut kepada ibunya.
Cukup lama suasana hening. Baik Kalfa maupun Aleena belum membuka suara. Hanya tatapan penuh rindu yang Kalfa tunjukkan.
"Aku merindukanmu."
Ingin sekali Kalfa mengatakan itu. Akan tetapi, tatapan datar Aleena membuatnya enggan untuk berkata seperti itu.
Mata Kalfa melebar ketika melihat Aleena berdiri. Dia terkejut dan ikut berdiri. Aleena mulai mendekat ke arahnya dan itu membuat Kalfa tersenyum. Kini, jarak mereka berdua sudah sangat dekat. Wajah datar Aleena pun mulai berubah. Kini, wajahnya mulai terlihat lebih tenang dan terlihat lengkungan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. Itu membuat Kalfa tersenyum begitu lebar melihat Aleena. Tangannya sudah terulur, hendak meraih tangan Aleena. Namun ...
Plak!
Tamparan yang sangat keras terdengar. Axel dan penjaga lapas segera berlari masuk ke dalam ruang besuk. Mereka melihat dengan jelas Kalfa yang tengah memegang pipi kirinya.
"JANGAN JADI PECUNDANG!"
Axel terkejut mendengar ucapan penuh emosi dan penuh penekanan yang keluar dari mulut Aleena. Axel melebarkan mata ketika dengan beraninya Aleena menarik kerah baju tahanan Kalfa.
"Kamu boleh jahat kepadaku, TAPI TIDAK KEPADA ADIKKU!"
ALeena mendorong keras tubuh Kalfa hingga membentur ujung meja dan terdengar rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Kalfa.
"CUKUP AKU SAJA YANG KAMU SAKITI! JANGAN PERNAH SAKITI ADIKKU!"
Air mata Aleeya mengalir begitu deras ketika melihat sang kakak yang sudah dia sakiti masih peduli terhadapnya. Khairan yang datang bersama Aleeya sudah melipat kedua tangannya.
"Lu udah mencintai orang yang salah. Lu juga udah menyakiti orang yang salah."
Aleeya menoleh kepada Khairan dengan derai air mata yang sangat deras.
"Gua emang bodoh," lirihnya sambil menunduk dalam. Sebelum Khairan mengeluarkan kata keramat, dia sudah lebih dulu mengatai dirinya bodoh.
Merasa kasihan kepada Aleeya, Khairan mendekati Aleeya dan tanpa dia sadari dia memeluk tubuh Aleeya yang bergetar.
"Nasi udah jadi bubur. Semua yang hancur gak akan kembali utuh lagi."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...