
Rangga memandangi langit malam negeri Kangguru dengan sebuah rindu yang menggebu. Rasa yang tak bisa hilang. Rasa yang selalu hadir jika dia tengah sendiri begini.
"Aku sudah berada di benua yang sama dengan kamu. Akankah bisa bertemu?"
Hembusan semilir angin membuat Rangga memejamkan matanya sejenak. Dia masih ingat kehangatan yang tangan Aleena berikan kepadanya. Dia masih merasakan hembusan hangat Aleena ketika di tertidur dan dia masih merasakan balasan bibir yang memabukkan.
"Apa di sana kamu merindukan aku juga, Na?" Rangga menatap langit malam yang sangat ramai. Berbeda halnya dengan hatinya yang sudah sangat sepi.
Perjalanan hidup manusia tidak ada yang bisa menebak. Begitu juga dengan kisah cintanya. Dia kira dia akan terus bisa menggenggam tangan Aleena. Nyatanya, tidak semudah itu. Batu besar kini menghalanginya.
"Aku ingin melihat siapa calon suamimu, Na. Aku juga ingin memastikan jika pria yang akan menjadi suami kamu itu adalah pria yang tulus yang mampu membahagiakan kamu. Aku tidak ingin melepas kamu dulu karena masih ada sedikit keyakinan di hati aku jika aku masih bisa mendapatkan kamu."
Rangga bermonolog sendiri. Bertanya kepada Agha dan Ghea mereka berdua tidak tahu. Kepada Axel pun pria itu hanya memberi clue kecil yang sulit untuk dia ketahui.
"Aku sangat mencintai kamu, Na. Selamanya aku akan mencintai kamu.".
Rangga mulai mengusap lembut cincin yang ada di jari manisnya. Cincin yang dia beli ketika di Sydney, tapi dia tidak tahu apakah cincin yang dia beri ke Aleena masih disimpan atau tidak oleh Aleena.
Rangga menghela napas kasar untuk kesekian kalinya. Setiap kali dia sendiri, selalu bayang wajah Aleena yang menari di kepala. Bayang wajah Aleena seakan terus memaksa dirinya untuk tetap hinggap di pikiran dan hatinya.
"Apa nanti aku sanggup melepas kamu? Ketika kamu sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Apa nanti aku masih bisa tetap berdiri kokoh? Atau malah tumbang bagai manusia yang tak memiliki tulang."
Rangga seperti tengah menjelaskan kepada ayahnya bagaimana hatinya. Dia tengah bermonolog agar sang ayah mendengar jika anaknya sudah dewasa dan sudah bisa mencintai seorang wanita. Sayangnya, cintanya sulit untuk diraih. Cintanya sangat sulit untuk dia gapai. Sekarang, hanya sebuah kesedihan yang tengah dia rasakan.
Rangga menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Menahan sakit dan sedih ketika cahaya senja mulai mengahdirkan keindahannya.
.
Para karyawan menunggu dua orang petinggi RAP Corporate dan satu orang lelaki muda keluar dari ruang meeting. Disela pekerjaan, mereka terus mencuri lirik. Hingga jam empat sore tidak ada satupun yang keluar dari sana. Itu membuat mereka bingung. Hingga jam pulang kerja tiba pun mereka tak kunjung keluar.
"Apa di ruang meeting itu ada pintu keluar lain?"
Begitulah yang dari salah satu karyawan. Aleena hanya mendengarkannya saja. Rasa excited-nya kini hilang sudah. Dia kembali fokus pada lembar kerjanya yang ternyata masih sangat banyak.
Beberapa kali Aleena menghela napas kasar. Tangannya mulai menyentuh liontin kalung yang menggantung di lehernya. Liontin itu selalu berpasangan dengan kalung yang gak pernah lepas dari lehernya. Juga, cincin dari pria yang berbeda yang masih dia pakai sampai saat ini.
"Kenapa tiba-tiba aku ingat kamu, Ngaa."
Rindu yang sudah mulai mengendur, kini hadir lagi. Bayang wajah yang mulai menguar, kini singgah lagi. Mau sampai kapan? Begitulah batin Aleena. Sepertinya sangat sulit untuknya melupakan Rangga.
Matanya mulai beralih pada cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Dia hanya tahu jika calon suaminya adalah pengusaha kaya raya. Clue yang sangat minim yang dia dapatkan. Clue yang sulit mendapat jawabannya. Semua orang terdekatnya seakan sulit untuk membuka suara.
Jika, diteliti dan ditelaah memang tidak mungkin sekali Aleena dijodohkan dengan orang biasa. Jodoh Aleena sudah pasti dari kalangan orang berada. Contohnya saja adik ipar Aleena. Restu bukanlah pria sembarangan. Sudan pasti Radit akan mencari calon suami untuk Aleena yang tidak sembarangan juga. Sudah dipastikan bibit, bebet, dan bobotnya.
Sedari tadi Zayn memperhatikan Aleena. Kecantikan Aleena hari ini membuat Zayn tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita yang sudah mencuri hatinya itu. Wanita yang sangat sulit didekati.
Ketika jam pulang kerja tiba, Aleena masih belum beranjak dari mejanya. Satu per satu dari karyawan sudah pulang. Sedangkan Aleena masih betah memandang serius benda segi empat di depannya. Zayn yang sengaja pulang paling akhir mulai mendekat. Namun, tinggal beberapa langkah lagi menuju meja Aleena dia harus menghentikan langkah.
"Iya, Bang."
Seketika langkah Zayn terhenti. Mendengar kalimat yang begitu lembut ketika menjawab panggilan membuat Zayn sedikit cemburu. Dia sedikit mendengar dari rekannya jika Aleena memanggil pria yang mengaku calon suami Aleena itu dengan panggilan bang.
Apalagi sekarang Aleena berbincang dengan senyum yang sesekali terukir. Sungguh membuat dia terpesona. Pasalnya, Aleena tidak seperti ini. Aleena adalah wanita dingin dan pendiam. Dia akan berbicara cukup panjang ketika bersama rekannya yang sudah akrab saja. Apalagi dengan lelaki, seakan menjaga jarak.
Zayn memilih untuk tetap mematung di sana melihat Aleena yang tengah menjawab panggilan. Setalah panggilan selesai, Aleena menoleh ke arah Zayn dengan dahi yang mengkerut.
"Aku duluan, ya." Aleena mengangguk dengan senyum yang sangat dipaksakan dan kembali ke pekerjaannya yang amat menumpuk.
Sedang fokus pada layar segiempat, dia mendengar suara Barito. Dada Aleena berdegup sangat kencang. Dia takut jika itu adalah penjahat. Namun, suara itu sangat familiar. Suara itu semakin dekat. Aska suara itu dari arah ruang meeting.
"Apa mereka baru keluar?"
Aleena masih menatap ke arah lorong menuju ruang meeting. Benar saja dua petinggi perusahaan itu keluar dari sana.
"Mana lelaki mudanya?"
__ADS_1
Mereka hanya berdua dan tidak ada orang lain lagi di sana . Aleena mulai mengacuhkan dan kembali fokus pada layar segiempat miliknya.
Tak terasa sudah jam delapan malam. Dia pun meregangkan ototnya yang sangat pegal. Sungguh melelahkan. Apalagi pihak perusahaan meminta semuanya selesai malam ini karena besok akan diserahkan pada direktur utama.
Aleena menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerja. Dia membuka email dan ternyata sang direktur utama mengirimkan sesuatu.
"Jangan menolak jika saya mengajak makan siang kamu."
Aleena hanya menghela napas berat. Dia sama sekali tidak membalasnya. Dia memejamkan matanya sejenak. Sedari tadi bayang wajah Rangga memutari kepalanya.
"Kenapa kamu datang lagi, Ngga? Bagaimana aku bisa melupakan kamu jika seperti ini terus?"
Aleena meletakkan dahinya di atas meja kerjanya. Ingin rasanya dia berteriak kencang. Sungguh bayang Rangga sangat jahat. Tak mau pergi dari pikirannya. Aleena pun mulai beranjak dari kantor. Dia sudah menghubungi Axel untuk menjemputnya.
Keesokan harinya Aleena berpenampilan biasa saja. Biarkan saja sang direktur utama datang. Dia sudah tidak memiliki antusias tinggi.
"Masih ngantuk?" tanya Axel. Aleena pun mengangguk.
"Lagian, biasa gak lembur malah lembur." Axel mula memarahi Aleena di dalam mobil.
"Kerjaan numpuk, Bang. Mana diminta hari ini kelar."
Axel tersenyum.bangga kepada perempuan yang sudah dia anggap seperti adiknya itu. Dia mengusap lembut ujung kepala Aleena.
"Ternyata kamu sudah dewasa."
Di depan kantor di mana Aleena bekerja mobil.utu berhenti. Aleena masih menguap dan matanya masih memerah.
"Cuci muka dulu."
Axel tersenyum penuh arti ketika melihat Aleena sudah masuk ke area kantor. Senyum yang begitu lebar menandakan dia begitu bahagia sekarang.
Di lantai atas di mana ruang direktur utama berada, para karyawan sudah berbaris. Sedangkan Zayn masih menatap ke arah lorong karena dia belum melihat Aleena datang. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini.
"Apa dia tidak masuk?"
Baru saja dia ke kamar mandi, dua petinggi perusahaan datang dengan membawa seorang pria muda yang begitu tampan. Semua mata tertuju pada pria tersebut, Kekaguman tidak bisa mereka sembunyikan.
"Ganteng banget," puji karyawan pelan.
Pria itu melihat ke meja di mana ada tulisan sekretaris di sana. Senyum tipis terukir di sana.
Dua petinggi itu bergantian berbicara. Mereka juga mengenalkan pemuda yang ada di samping mereka kepada semua karyawan yang berada di lantai tersebut.
"Aleena ke mana sih? Ketinggalan deh liat direktur utama." Itulah yang diucapkan oleh rekan Aleena. Tatapan tajam Zayn berikan.
"Sekian yang saya sampaikan. Selamat bekerja."
Senyum yang begitu manis diberikan oleh direktur utama dengan menganggukkan kepala dengan sangat sopan. Sungguh membuat karyawan berteriak di dalam hati.
"Udah ganteng, sopan, kaya. Gak ada yang kurang deh."
Pujian terus terdengar setelah direktur utama itu masuk ke ruangannya. Para karyawan wanita sungguh sangat bahagia memiliki direktur utama seperti itu.
Aleena sedikit berlari menuju ruangannya. Ternyata semua rekannya sudah duduk manis di tempat mereka masing-masing.
"Kamu ketinggalan, Na."
"Sekarang bukan direktur hantu, tapi direktur ganteng."
Aleena malah tertawa mendengarnya. Dia mulai duduk di meja kerjanya. Mengerjakan tugas yang sudah menumpuk di atas meja. Hal yang pertama dia lakukan adalah membuka e-mail. Sudah ada e-mail dari direktur utama.
"Saya sudah di ruangan. Semua berkas tidak usah dikirim via e-mail. Langsung berikan ke ruangan saya."
"Baik, PAk." Itulah yang dibalaskan oleh Aleena.
__ADS_1
.
Rangga, matanya sudah menatap ke segala penjuru ruangan. Lengkungan senyum terukir di sana. Akhirnya, dia bisa melihat jelas bagaimana wajah ayah kandungnya. Ada rasa haru di hatinya.
Ponselnya berdering, dan sang ayahlah yang menghubunginya. Lengkungan senyum terukir di bibirnya.
"Iya, Dad."
"Bagaimana, Kak?"
"Luar biasa, Dad."
Tetiba keadaan mendadak hening. Aksa maupun Rangga tak bersuara. Hingga hembusan napas kasar keluar dari mulut Rangga.
"Semua ini tidak akan pernah bisa aku lihat dan tidak bisa aku dapatkan tanpa jasa seorang ayah yang hebat yang selalu memberikan motivasi besar kepada aku. Ini semua aku persembahkan untuk Daddy."
Jika, Ghea dan Agha tahu pasti mereka berdua akan tertawa karena melihat ayah mereka menitikan air mata. Betapa bangganya seorang ayah kepada putranya. Walaupun di tubuh Rangga tak mengalir darah Aksa, tapi kasih sayang Aksa melebihi orang tua kandung Rangga.
"Hanya kata terimakasih yang bisa aku katakan. Tanpa Daddy, aku hanya butiran debu. Hanya seonggok sampah yang tak berguna."
Aksa tak bersuara. Hatinya mencelos dan menyebabkan mulutnya sangat kelu. Begitu juga Rangga yang mulai menitikan bulir bening. Dia menatap foto besar sang ayah, tapi yang sedang menghubunginya adalah ayah angkatnya.
"Sudah waktunya kamu menambatkan kebahagiaan, Kak." Suara Aksara begitu berat. Itu membuat Rangga semakin tak bisa menahan emosinya.
"Pesan Daddy, tetap jadi lelaki yang bertanggung jawab. Tetap kejar apa yang menjadi mimpimu dan jangan cepat puas. Kamu harus bisa kalahkan Daddy."
"Tentu, Dad. Aku pasti kalahin Daddy."
Dua pria berbeda usia yang tengah menitikan air mata bersama di negara yang berbeda. Hanya suara mereka yang mampu didengar satu sama lain.
Setelah sambungan telepon berakhir. Rangga berdiri di depan jendela ruangannya. Dia menatap langit negara kangguru yang begitu cerah. Tangannya sudah dia masukkan ke dalam saku celana bahan yang dia gunakan. Bertepatan dengan itu, ada pesawat yang melintas. Bibir Rangga terangkat.
"Dulu aku menjadi pengudara. Sekarang aku malah menjadi semesta untuk para pengudara beserta kru-nya. Kehidupan sungguh sangat cepat berotasi."
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Rangga bukanlah orang yang akan menyombongkan apa yang dia miliki. Dia malah malu dan memilih untuk tetap merunduk.
Ketukan pintu ruangannya membuatnya menoleh. Seorang office boy datang dan mengantarkan kopi yang dia pesan.
"Makasih."
Pekerja di perusahaan warisan itu didominasi adalah warga negara Indonesia. Bahasa yang mereka gunakan pun dengan dua bahasa.
Rangga menikmati kopi sambil melihat e-mail yang masuk. Tiba-tiba bibirnya terangkat ketika mendapat balasan email. Dia pun mulai kembali fokus hingga orang kepercayaan ayahnya datang dan meminta Rangga untuk memperkenalkan diri kembali di lantai yang berbeda. Rangga mengangguk. Dia keluar dari ruang kerjanya.
Banyak yang kagum pada Rangga. Apalagi Rangga memiliki attitude yang luar biasa membuat semua karyawan tak bisa berkata ketika melihat Rangga mengucapakan speech-nya walau hanya sedikit.
"Sungguh kamu luar biasa," puji asisten kepercayaan sang ayah. Rangga hanya tersenyum.
Dari satu lantai ke lantai lain. Belum lagi dia harus menemui salah satu media bisnis negeri kangguru. Jadwal Rangga sangatlah padat. Namun, dia menjalankannya dengan bahagia. Dia teringat akan perkataan sang ayah.
"Bekerjalah dengan hari riang. Hal sesulit apapun pasti akan bisa kamu lalui."
Itulah yang membuat Rangga seperti ini sekarang. Dia sangat disiplin dan terus mau belajar. Senyum pun selalu mengembang di wajahnya ketika dia bekerja.
Setelah jam makan siang barulah dia kembali ke ruangannya. Dia melihat meja di depan ruangannya kosong. Sedangkan yang lainnya sudah kembali bekerja.
"Ini ke mana?" tanya Rangga kepada karyawannya.
"Lagi ke pantry, Pak." Rangga pun mengangguk.
"Setelah dia datang suruh ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen Dong ...