MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
82. Wajah Yang Mirip


__ADS_3

Sebelum melangsungkan pernikahan, Rangga dan Aleena hadir di sebuah acara pernikahan rekan kolega dari Rangga. Namun, Aleena datang tidak bersama dengan Rangga melainkan dengan ayahnya karena sang ibu tidak bisa menemani ayahnya.


Rangga tersenyum manis ketika melihat sang calon istri mengenakan pakaian hitam senada dengan dirinya. Sayangnya, dress yang dikenakan oleh Aleena terlalu pendek hingga membuat Rangga memicingkan matanya.


"Lu udah mulai go public?" bisik Mirza di telinga Rangga. Lelaki berusia dua puluh tiga tahun itupun menggeleng.


"Itu?" tunjuk Mirza pada Aleena yang berada tak jauh dari dirinya dan juga Rangga.


"Dia nemenin ayahnya."


Mata Rangga masih tertuju pada Aleena yang sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan hanya parasnya yang cantik, tapi penampilan yang begitu seksi membuatnya ketar-ketir sendiri.


"Samperin lah." Mirza berkata lagi.


Tanpa menjawab apapun Rangga segera menghampiri Aleena yang tengah bersama ayahnya. Dia menatap Radit dengan begitu sopan. Aleena tersenyum melihat Rangga yang begitu tampan.


"Saya dengar, sebentar lagi Anda akan menikahkan putri Anda," ujar salah seorang kolega Radit yang ada di hadapannya.


"Pasti bukan dari kalangan sembarangan 'kan." Kolega Radit itu melanjutkan kembali.


Rangga dan Aleena saling pandang. Radit tersenyum sambil melirik ke arah Rangga yang ada di sampingnya.


"Kriteria calon menantu saya tidak neko-neko kok. Cukup mencintai anak saya dengan tulus." Kolega Radit itu malah tertawa.


"Juga banyak fulus." Bukan hanya Radit dan koleganya yang tertawa. Aleena dan Rangga pun ikut tertawa.

__ADS_1


Rangga mulai sedikit mundur ke belakang ketika Radit dan rekan bisnis Radit mulai berbincang serius. Dia mencoba menggenggam tangan Aleena dan itu mampu membuat Aleena melebarkan mata.


"Kenapa pake mini dress begini?" Rangga berbisik dengan penuh penekanan.


"Emang pendek banget ya?" Rangga menatap tajam ke arah Aleena dan sang calon istri mulai menunduk.


"Jangan pernah pake baju pendek begini lagi, kecuali perginya sama Mas." Kalimat yang penuh dengan penekanan.


Menjaga jarak itulah yang mereka berdua lakukan. Namun, Aleena harus menahan napas ketika para wanita cantik banyak yang menghampiri Rangga. Dia harus sabar dan sabar. Ditambah Rangga sangat ramah pada para wanita tersebut.


"Biasa aja liatinnya," ejek sang ayah. Aleena mulai menatap ke arah ayahnya.


"Suruh siapa belum mau go public," tambah Radit lagi. Aleena hanya menghela napas kasar.



Aleena mengikuti langkah Rangga dari belakang. Tangannya pun terlihat memegang ujung belakang jas Rangga. Itu membuat Mirza tertawa kecil.


"Pak Rangga mirip sekali dengan putrinya Pak Radit," ujar salah seorang rekan bisnis Rangga ketika Aleena berada di samping Rangga.


"Biasanya kalau wajahnya mirip itu jodoh loh," lanjutnya lagi.


Rangga hanya tersenyum tipis mendengarnya. Sedangkan Aleena mencoba bersikap biasa saja. Beda halnya dengan Mirza yang sudah menahan tawa.


"Jangan bicara sembarangan," ujar Mirza. "Pak Rangga udah punya calon istri. Nanti calon istrinya senang denger kayak begitu."

__ADS_1


Aleena menatap Mirza dengan sangat tajam dan tak segan menginjak kaki Mirza hingga dia mengaduh.


"Maaf, Pak Rangga. Saya tidak tahu." Rekan bisnis Rangga menunduk sopan untuk meminta maaf.


"Tak apa," jawab Rangga.


Setelah rekan bisnis Rangga pergi Mirza mulai bersungut. "Calon bini lu cewek tulen apa cewek jadi-jadian?" Aleena menginjak kembali kaki Mirza hingga dia mengaduh cukup keras.


"Mas," rengek Aleena.


Rangga meraih tangan Aleena dan mengusap lembut punggung tangan Aleena dengan ibu jarinya.


"Begitulah manusia sirik. Dia ingin seperti kita, tapi tidak bisa."


"Ba cot lu kalau ngomong--"


"Suka bener," potong Rangga seraya tertawa.


"Siyalan!"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


.

__ADS_1


__ADS_2