
Sebuah senyum yang begitu tulus menyambut kedatangan Aleena dan juga Rangga. Senyuman yang sangat Aleena rindukan.
"Ba-ba ... Bu-bu--"
Suara Aleena bergetar. Tubuhnya masih membeku hingga rangkulan tangan di pundaknya membuat Aleena menoleh. Rangga tersenyum ke arah Aleena dan mata Aleena sudah berair.
"Apa kamu tidak merindukan kami?" Sang ibu mulai membuka suara. Aleena berhambur memeluk kedua orang tuanya. Melepas rindu dengan penuh keharuan.
Rangga yang melihat mereka bertiga melengkungkan senyum yang begitu lebar. Kebahagiaan Aleena adalah kebahagiaan dia juga. Setelah melepas rindu, dia menoleh ke arah belakang di mana Rangga masih ada di sana. Rangga tersenyum dengan begitu tulus. Kepala Aleena sudah mengangguk pelan, menyuruh Rangga untuk mendekat ke arahnya. Namun, Rangga menggelengkan kepala. Itu membuat Aleena mengerutkan dahinya.
Aleena mulai merasa curiga jika sang ayah sudah berkata sesuatu kepada Rangga hingga dia tidak mau mendekat. Sedari tadi Rangga menjauh darinya.
Suara dering ponsel terdengar. Rangga meraih ponsel di dalam sakunya. Kemudian, dia pergi begitu saja tanpa pamit kepada Aleena. Sungguh Aleena dibuat bingung oleh sikap Rangga,
"Kakak Na," panggil sang ayah. Aleena menatap ke arah sang ayah penuh tanya.
"Baba, sudah berkata apa kepada Rangga?" Radit terlihat bingung mendengar pertanyaan sang putri.
"Mending duduk dulu, yuk." Echa mengajak putrinya untuk duduk. Namun, Aleena masih menatap ke arah sang ayah. Meminta jawaban dari sang ayah.
"Maksudnya apa? Baba gak ngerti."
__ADS_1
"Ba, boleh gak Kakak Na menentukan pilihan Kakak Na sendiri." Wajah Aleena sudah sangat serius. Dia mencoba untuk memberanikan diri berbicara.
"Kakak Na ingin seperti Sasa yang menentukan pendampingnya tanpa dicampuri keluarga. Kakak Na ingin bahagia seperti Sasa, Ba." Kalimat itu begitu serius. Tatapan Aleena penuh dengan permohonan.
Aleena bukan hanya menatap ke arah Radit, sekarang dia menatap ke arah sang ibu juga. Echa mengusap lembut rambut sang putri.
"Sudah terlalu banyak kesedihan dan masalah yang Kakak Na hadapi. Biarkan kakak Na mencari kebahagiaan Kakak Na sendiri. Bukankah Kakak Na juga berhak untuk bahagia?"
Radit mulai menyandarkan tubuhnya ke kursi yang dia duduki. Dia menunggu kelanjutan dari perkataan sang putri.
"Sudah terlalu lama Kakak Na menunggu kepastian dari Baba perihal lelaki yang akan dijodohkan dengan Kakak Na, tapi Baba hanya berkata hal yang membuat Kakak Na tidak puas." Aleena memaparkan semuanya.
Radit masih mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Aleena. Tangannya sudah dia lipat di depan dada. Radit seperti melihat diri Aleena yang berbeda. Aleena di depannya itu sangat berani. Mampu mengungkapkan apa yang dia inginkan tanpa adanya keraguan.
"Kakak Na tahu Pipo melakukan itu karena Pipo sangat sayang kepada Kakak Na, tapi Kakak Na juga berhak memilih."
"Apa Kakak Na yakin pilihan Kakak Na tidak akan salah lagi?" Radit mulai menimpali ucapan dari Aleena. Sang putri pun terdiam sejenak. Sedangkan Radit menunggu jawaban dari Aleena. Terlihat Aleena menarik napas panjang sebelum menimpali ucapan sang ayah.
"Untuk kali Kakak Na yakin, Ba," Tatapan Aleena sangat serius.
"Apakah itu juga yang membuat kamu melepaskan cincin dari calon mertua kamu?" Aleena melihat ke arah jari manisnya dan sudah tidak ada cincin yang melingkar di sana. Seketika mulut Aleena kelu.
__ADS_1
"Apa kamu ingin membatalkan pertunangan itu?" Sang ayah mulai sedikit mendesak. Aleena mengangguk yakin.
"Baba tanya sekali lagi. Apa kamu yakin?" Aleena pun tak main-main dengan jawabannya.
"Kakak Na sangat yakin."
"Baiklah." Radit menjawab dengan helaan napas berat.
Sang ayah pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Sengaja panggilan itu dia loudspeaker.
"Gua membatalkan perbesanan kita. Radit berkata dengan sangat tegas.
"Lamaran anak lu kemarin ke anak gua kemarin gua batalin."
"APAAN? JANGAN NGADI-NGADI LUH--"
Sontak mata Aleena melebar mendengar suara dari balik sambungan telepon ayahnya itu.
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1