
"Rangga!"
Tubuh Aleena menegang ketika ibunya menyebut nama Rangga. Dia menoleh ke arah sang ibu yang ternyata melambaikan tangan kepada lelaki yang sangat tampan dengan setelan jas formal berwarna hitam. Sikap yang begitu sopan membuat Aleena semakin terpesona kepada pria tersebut.
"Tuhan, apakah jodohku seperti manusia di depanku ini?"
Sudah lama tak berjumpa dengan Rangga, dia merasa Rangga semakin hari semakin tampan. Semakin dewasa, juga attitude-nya semakin bagus. Sungguh dia sangat kagum pada tunangan orang itu.
"Andai, kita masih bersama seperti dulu ... aku akan sangat bahagia berada di samping kamu sekarang."
Hanya kata andai yang keluar dari mulut Aleena. Andai waktu bisa dia putra ulang, dia ingin kembali ke masa lalu di mana dia dan Rangga bisa sedekat Desember ke Januari.
"Ayo!"
Aleena yang tengah melamun terkejut ketika Rangga mengulurkan tangannya. Dia menatap ke arah Rangga yang sudah mengangguk kecil. Aleena masih mematung. Rangga segera meraih tangan Aleena dan dia genggam dengan begitu erat. Seketika jantung Aleena berdegup sangat kencang.
"Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan dia?"
Di tengah perjalanan, Rangga mendekatkan wajahnya ke telinga Aleena. Jantung Aleena hampir jatuh dibuatnya.
"Orang tua kamu juga aku gak ingin kamu didekati oleh para pria muda ataupun tua yang ada di sini."
Aleena segera menatap ke arah Rangga yang juga menatapnya. Senyum manis Rangga tunjukkan.
"Aku merindukan kamu."
Aleena segera memalingkan wajahnya. Dia tidak mau terlalu lama menatap wajah tampan itu. Dia tidak mau semakin susah untuk melupakannya.
Rangga hanya mengulum senyum ketika melihat wajah Aleena yang kini ditekuk. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Aleena. Sebenarnya malam ini Rangga enggan datang. Namun, sang ayah terus memaksa. Ternyata kehadirannya ke acara ini tidak sia-sia. Dia bisa kembali dekat dengan Aleena.
Acara berjalan dengan sangat meriah. Namun, baik Rangga dan Aleena sama sekali tak menikmati acara tersebut. Bukan hanya Aleena yang didekati banyak pria, Rangga pun banyak dilirik oleh anak-anak pengusaha kaya raya. Namun, Rangga santai karena sekarang ini dia sudah menggenggam tangan wanita yang masih dia sayang. Aleena pun seakan tidak risih ketika Rangga tak melepaskan genggaman tangannya. Ketika acara foto bersama pun Aleena dan Rangga saling berdekatan. Pesona wajah mereka berdua sangat luar biasa.
Senyum Aleena begitu lebar begitu juga dengan Rangga. Mereka sangat serasi. Mereka sangat cocok terlebih background mereka dari keluarga kaya raya.
Selepas acara itu selesai, kedua orang tua Aleena menghampiri putrinya. Dia mengucapkan terima kasih kepada Rangga karena sudah menjaga putrinya tersebut.
"Sama-sama, Om."
Senyum pun mengembang di wajah Rangga. Radit dan Echa pun membalasnya dengan senyum penuh ketulusan.
.
Hampir setiap hari Aleena bertemu dengan Rangga. Dia ingin menghindar, tapi sepertinya tidak bisa. Mereka selalu diperintah untuk ke sana dan ke mari. Hari ini mereka berdua ditugaskan untuk menjaga baby Er. Aleesa harus kontrol ke rumah sakit. Sudah pasti dia ditemani oleh Restu.
Ibunya juga ibunda Restu ada arisan sosialita yang tak bisa ditinggal. Aleena tengah menggendong baby Er sedangkan Rangga sedang di dapur membuat kopi dan cokelat dingin untuk Aleena.
"Minum dulu."
Rangga sudah memegang gelas berisi choco ice dan dia menyuruh Aleena meminumnya.
"Gak aku kasih racun kok."
"Taruh aja di meja." Aleena menjawab dengan sedikit kesal. Rangga malah tertawa..
Rangga terus memperhatikan baby Er yang sangat menggemaskan. Dia juga senang sekali mengajak bicara sang keponakan. Rangga yang sedang menerima telepon pun tersenyum ketika melihat Aleena tertawa ketika baby Er tertawa.
"Aku bahagia bisa melihat kamu lagi, tapi aku juga sangat benci dengan jari manis kamu yang mengenakan cincin pemberian lelaki antah brantah."
Rangga mendumal di dalam hati. Semakin hari Aleena semakin cantik. Dia juga melihat jika Aleena sudah kembali seperti Aleena yang dulu. Baby Er tertidur bersama.sang aunty di karpet berbulu. Rangga tersenyum melihatnya. Dia melihat betapa tulusnya Aleena menyayangi baby Er. Rangga mendekat ke arah baby Er. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga anak dari Aleesa.
"Jadi jembatan untuk Om dan Aunty, ya."
Bayi itu seketika membuka mata. Menoleh ke arah Rangga yang sedikit terkejut. Sedetik kemudian dia tersenyum. Itu membuat Rangga tercengang. Setelah senyumnya pudar, baby Er kembali memejamkan mata. Rangga malah tertawa melihat keponakan Aleena. tersebut. Sungguh sangat lucu.
.
Aleena pun kembali ke Sydney lagi. Begitu juga dengan Rangga yang harus terbang kembali. Aleena kembali bersama Axel.
"Kayaknya happy banget nih."
Aleena menoleh ke arah Axel yang memasang wajah mengejek. Aleena malah menatap Axel dengan tatapan tajam. Axel malah tertawa dengan begitu lepas.
Aleena melalui harinya di Sydney. Dia masih fokus pada skripsinya yang memakan banyak waktu dan juga pikiran. Namun, dia tidak ingin menyerah. Dia harus membuat bangga kedua orang tuanya.
__ADS_1
Setiap kali dia lelah, dia pasti menghubungi sang adik. Dia hanya ingin melihat wajah baby Er yang akan menjadi penghilang segala lelahnya.
"Abang Er!"
Sudah tiga bulan dia berada di Sydney. Dia ingin pulang ke Jakarta. Bukan untuk bertemu dengan Rangga melainkan keponakannya. Setelah dia cukup lama bertemu dengan Rangga hatinya semakin tidak bisa melupakan Rangga. Namun, kesibukannya dengan tugas skripsi membuatnya melupakan perasaan itu. Cincin dari orang yang dijodohkan dengannya pun masih betah melingkar di jari manisnya.
Axel memberikan susu cokelat hangat kepada Aleena yang masih betah duduk di depan laptop.
"Istirahat dulu, Na."
"Nanggung, Bang. Besok malam 'kan harus terbang ke Jakarta."
Aleena diminta Aleesa untuk datang ke Jakarta. Keluarganya akan memperkenalkan anggota baru dari keluarga Wiguna dan Addhitama. Juga keesokan lusanya dia harus menemani Aleesa ke Swiss karena sang ibu tidak bisa menemani Aleesa.. Aleena tidak bisa menolak karena dia ingin memiliki waktu lebih lama bersama Abang Er.
Kerika tiba di Bandara Jakarta, Aleena dan Rangga tak sengaja bertemu. Rangga bersama rekan sejawatnya sedang menyeret koper dengan pakaian seragam lengkap. Dia baru saja selesai terbang. Axel lah yang memanggil Rangga dan itu membuat Aleena jadi serba salah. Rangga pun nampak terkejut ketika melihat Aleena ada di Indonesia. Namun, tidak dipungkiri ada rasa bahagia yang bersarang di hati.
"Kamu mau ke rumah Kak Aksa?" Rangga pun mengangguk.
"Titip Aleena, ya. Antarkan dia ke rumah orang tuanya. Saya ada janji penting dan tidak boleh terlambat."
Rangga mengangguk lagi. Sedangkan Aleena sudah menatap tajam ke arah Axel yang sepertinya sangat sengaja melakukan hal ini.
"Bang," panggil Aleena ketika Axel berpamitan.
"Saya ada pertemuan penting, Na. Saya sudah bilang ke ayah kamu kok kalau kamu diantar Rangga."
Axel memang buru-buru dan itu membuat Aleena menekuk wajahnya. Rangga tak berkata apapun. Dia masih berada di fase percaya atau tidak. Dia masih ingat sebuah kalimat yang Aleena katakan ketika hendak kembali ke Sydney.
"Lupakan kenangan kita selama berada di sini. Anggap saja ini bonus dari Tuhan sebelum kita bersama pasangan kita masing-masing."
Rangga menatap ke arah Aleena ketika mereka sudah berada di taksi online. Aleena menatap ke arah kaca mobil memandangi jalanan yang penuh dengan kendaraan.
"Apa dia akan bertemu dengan tunangannya?"
Rangga melihat cincin indah itu masih ada di jari manis Aleena. Ada kegalauan yang Rangga rasakan kini.
...***To Be Continue***...
Tekan paragraf ini yang lama, terus komen ya ...
BAB 58 (
Ketika dia tiba di rumah ayah angkatnya, sang ayah sudah menyambutnya. Dia dikejutkan dengan perkataan sang ayah.
"Besok kamu juga harus ikut."
Rangga ingin beristirahat. Namun, dia juga harus turun langsung ke lapangan untuk membantu ayahnya. Belajar sedikit demi sedikit tentang perusahaan. Sang ayah pernah berkata, 'pekerjaan kamu ini tidak untuk selamanya. Kamu akan tua dan ada kalanya kamu akan merasa jenuh. Dari sekarang pikirkan untuk masa depanmu. Kamu harus memiliki usaha yang lain agar hidup kamu tertata. Ketika kamu hendak berhenti jadi pilot kamu tidak akan pernah ragu karena kamu sudah memiliki ladang uang di tempat lain.'
Perkataan itu sangat mengena di hati Rangga. Maka dari itu sekarang ini dia sudah mulai belajar tentang perusahaan sang ayah karena sudah pasti dia akan diwarisi salah satu perusahaan milik Aksa.
.
Di lain tempat dua orang berbadan tegap sedang menikmati kopi. Mereka berdua sedang menunggu satu orang lagi. Tidak ada obrolan dari mereka berdua. Tak berselang lama, Soreang pria berwajah tegas, tapi tampan datang. Tiga manusia serius sudah berada di meja yang sama.
"Saya dengar keluarga si terdakwa perempuan naik banding." Pria berpenampilan santai dengan Hoodie yang dia kenakan mulai berbicara.
"Tidak akan pernah ada hukuman ringan." Tegas sekali jawabannya.
"Lalu, bagaimana dengan dua ba jingan itu?"
"Ketika kasus dia sama gua, dia masih bisa bebas karena uang yang dia miliki masih banyak. Kalau sekarang?" Senyum tipis terukir di wajah pria yang sudah menyalakan rokok tersebut.
"Semua bukti sudah lengkap. Lima pengacara sudah dikerahkan. Kita hanya tinggal duduk manis saja." Pria yang baru saja datang sangat percaya diri dengan senyum penuh arti.
Pria tampan dengan badan kekar tersenyum ketika membaca berita online. Dia memperlihatkan kepada si pria yang sangat berkharisma dan selalu percaya diri di segala situasi. Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Tumben lamban?" tanya si pria yang sudah menggerus puntung rokok di asbak kaca.
"Gua mau bertindak seperti karma Tuhan. Lambat, tapi pasti biar mereka berpikir sombong dulu. Kemudian, gua jatuhkan tanpa ampun." Seringainya mulai keluar dan pria berhoodie hanya menggelengkan kepala. Sedangkan si pria yang sudah selesai menggerus puntung rokok hanya tertawa.
"Jangan pernah bangunkan keluarga singa yang sedang tidur jika tidak mau diterkam." Slogan yang sangat luar biasa.
Ketika mereka asyik berbincang, seorang pria yang sudah memiliki rambut putih mulai bergabung. Mereka berbincang sangat serius.
"Untuk besok sih udah kebaca apa yang pengen mereka serang."
__ADS_1
"Mau diserang kayak gimana pun gua mah udah siap. Mental gua bukan mental tahu."
Obrolan serius sudah terdengar. Skenario, taktik jitu sedang mereka susun. Empat pria yang memiliki pemikiran yang sama. Mereka bergabung dalam circle yang tepat. Dari segi wajah pun mereka sangat tegas dan juga bisa dibilang sangar.
Perbincangan mereka sangat seru. Mereka hanya membicarakan perihal peluru, pistol, pisau dan semua benda tajam. Juga membicarakan tentang anak buah sang CEO yang tak lain adalah mantan bodyguard internasional.
...***To Be Continue***...
Tekan yang lama paragraf ini ya. Kemudian, komen ...
Bab 58 bagian B. (Bagaimana Bisa Melupakan?)
Rangga sudah datang bersama sang ayah ke tempat diadakannya konferensi pers CEO Zenth Corporation. Dia dan ayahnya menunggu Restu dan Aleesa datang. Juga keluarga Restu dan Aleesa yang belum datang.
Suara derap langkah kaki terdengar. Semua orang yang sudah berada di satu ruangan menoleh. Ternyata Restu datang bersama sang istri dan sang putra yang sudah Aleesa gendong. Rangga tertegun bukan kepada Restu dan Aleesa melainkan pada sosok wanita yang melangkahkan kaki di belakang Aleesa. Wanita yang sangat cantik dan juga anggun. Walaupun dia menggunakan masker, Rangga mampu mengenalinya. Wanita itupun sesekali menatap ke arah Rangga yang setiap kali memakai pakaian formal terlihat lebih tampan. Sungguh dia sangat terpesona.
Ada beberapa orang yang berada di belakang Restu dan Aleena. Salah satunya adalah Aleena dan juga Rio. Di sana juga ada Axel, yang terlihat sangat gagah. Rangga sesekali mencuri pandang ke arah Aleena yang seakan dijaga oleh Axel.
"Kak, geser ke sana."
Aksa menyuruh sang putra untuk bergabung dengan Aleena, Rio dan juga Axel. Itu membuat Rangga sedikit terkejut. Aksa menganggukkan kepalanya pelan dan membuat Rangga menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit. Dia pun sudah sejajar dengan Axel. Namun, Axel diminta Aksa untuk berdiri.di belakangnya. Axel pun menuruti perintah Aksa. Akhirnya, Rangga dan Aleena berdiri berdampingan.
Mereka berdua hanya terdiam dan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Aleesa menoleh ke belakang dan meminta Aleena mendekat. Rangga melihat Aleesa membisikkan sesuatu kepada Aleena. Aleena pun menganggukkan kepalanya.
Walaupun sebagian wajah Aleena tertutup masker, tetap saja dia terlihat sangat cantik. Ada beberapa wartawan yang mengarahkan kamera pada Aleena. Mengambil gambar Aleena secara diam-diam. Rangga memicingkan mata dan mencari tahu media apa yang mengambil gambar Aleena. Dia akan mengulti media tersebut agar tak menyebarkan foto Aleena.
Acara pengenalan anak dari Restu dan Aleesa pun selesai. Aleesa segera menyerahkan baby Er kepada Aleena. Dengan sigap Aleena mengambil baby Er yang menang sudah terlihat mengantuk. Aleena menoleh ke arah Axel dan diangguki oleh Axel. Bukannya berjalan, Axel malah mendekat ke arah Rangga dan membisikkan sesuatu. Rengga tercengang.
"Bodyguard ada di pintu masuk ruang konferensi pers. Sepuluh bodyguard akan jaga kalian." Rangga pun mengangguk.
Rangga mendampingi Aleena membawa baby Er keluar dari ruang konferensi pers. Aleena sedikit tidak nyaman dan untungnya di luar sana banyak bodyguard yang akan melindunginya dan juga Abang Er. Aleena kira Rangga akan mengantarnya hingga pintu keluar saja. Nyatanya dia ikut pulang terlebih dahulu bersama Aleena, sang ibu dan juga ibunya Restu.
"Aku disuruh Bang Axel." Rangga menjelaskan sebelum ditanya. Echa dan Nesha pun mengangguk mengerti.
Sampainya di rumah, Echa langsung membawa sang cucu ke kamarnya. Sedangkan Rangga menunggu di ruang keluarga dan fokus menatap ponselnya. Dia sedang melihat kelanjutan konferensi pers yang tengah dilakukan.
"Ngga, mau kopi atau apa?" Rangga pun terkejut mendengar ucapan dari ibunya Aleena.
"Nanti aku bikin sendiri, Tante."
"Gak-apa biar Mbak yang bikinin."
"Gak usah, Tante. Nanti aja." Rangga menolak.
"Kalau mau apapun langsung ke dapur aja, ya. Ambil aja apa yang kamu mau." Rangga pun mengangguk seraya tersenyum..
Setelah konferensi pers selesai barulah Rangga beranjak dari tempatnya. Dia menuju dapur dan ternyata di sana ada Aleena yang tengah membuat susu panas. Rangga pun mendekat dan itu membuat Aleena sedikit terkejut. Pasalnya Rangga sudah menggunakan kemeja putih saja dengan dasi hitam. Jas-nya sudah dia tanggalkan.
Rangga tersenyum ke arah Aleena dan menuju ke tempat penyimpanan kopi. Dia mengambil kopi yang biasa dia minum. Dapur Radit seperti minimarket, segala jenis kopi dan susu lengkap. Kini, Aleena dan Rangga berdiri di samping Aleena. Matanya tertuju pada cincin yang masih setia melingkar di jari manis Aleena.
"Apa kamu sudah bertemu dengan pria yang sudah mengikatmu itu?" Mata Rangga masih tertuju pada cincin berlapis berlian tersebut. Aleena yang tengah mengaduk susu panas menghentikan tangannya. Dia menatap ke arah Rangga yang sudah menatapnya.
"Mungkin secepatnya." Aleena kembali memalingkan wajahnya. "Bagaimana dengan kamu?" Aleena bertanya tanpa menatap ke arah Rangga. Suasana mendadak hening.
Tanpa Aleena duga Rangga memperlihatkan jari manisnya. Mata Aleena nanar ketika di jari itu masih melingkar cincin pasangan yang Rangga beli di Sydney..
"Cincin ini akan tetap melingkar hingga aku melihat kamu bahagia dengan pasangan kamu."
Aleena pun terdiam. Dia tidak bisa menjawab pernyataan Rangga. Terdengar hembusan napas kasar.
"Aku akan menyerah ketika aku tahu bahwa lelaki yang sudah melamar kamu adalah lelaki yang mampu membahagiakan kamu. Lelaki yang menyayangi kamu lebih dari aku."
.
Setelah perbincangan kemarin di dapur, Aleena berharap tidak akan bertemu dengan Rangga lagi. Dia akan melupakan lelaki tersebut dengan sedikit healing ke Zurich, Swiss.
Namun, dia dikejutkan akan adanya Rangga di bandara. Di dalam list penumpang tidak ada nama Rangga dan itulah yang membuat Aleena sedikit tenang. Ternyata, kenyataannya tidak seperti itu. Pria tampan itu masuk ke dalam jajaran penumpang.
"Memangnya Aksa ke mana?" Rindra sudah bertanya.
"Daddy ada meeting dadak di Melbourne. Jadi, Daddy mewakilkannya kepada aku."
Aleena menghela napas kasar. Ketika dia ingin melupakan Rangga, semesta seakan menyuruh mereka untuk bertemu lagi dan lagi.
"Bagaimana aku bisa melupakan dia?"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...