
ALeena masih kepikiran dengan ucapan sang adik. Sejahat apapun Aleeya kepadanya, darah persaudaraan mereka sangatlah kuat.
"Aku yang akan sedih kalau kamu tak memiliki pendamping. Aku dan Sasa sudah bahagia. Kami menunggu giliran kamu untuk bahagia."
Namun, kalimat itu tidak membuat Aleeya mencabut kata-katanya. Dia masih pada pendiriannya. Aleena hanya menghela napas kasar dengan es kopi yang ada di tangannya.
"Non ALeena."
Suara salah satu pelayan membuyarkan lamunan Aleena di ruang keluarga. Di mana televisi pintar itu sedang memutar film kartun sang keponakan yang sudah tertidur.
"Ada sopirnya Mas Rangga."
Dahi Aleena pun mengkerut. Dia tidak tahu jika Rangga memiliki sopir. Seorang pria memakai kemeja rapi menunduk hormat kepada Aleena.
"Maaf, Bu. Saya disuruh jemput Ibu. Katanya Bapak ingin makan siang bersama, tapi Bapak masih ada rapat. Jadi, Bapak gak bisa jemput."
Aleena masih terdiam. Dia mencari ponselnya yang tadi dimainkan oleh Abang Er. Dia memeriksa ponselnya. Tidak ada panggilan maupun pesan dari suaminya. Itu membuat Aleena ragu. Dia pun mencoba menghubungi Rangga. Tak dia hiraukan sang suami tengah meeting.
"Iya, Sayang."
Aleena pun tersenyum ketika mendengar suara Rangga.
__ADS_1
"Mas, apa Mas nyuruh sopir untuk jemput aku?" Aleena menunggu jawaban dari sang suami tercinta.
"Iya, Sayang. Maaf, Mas gak ngasih tahu soalnya meetingnya belum selesai." Rangga menjelaskan kepada sang istri. Wajar jika Aleena menghubunginya karena pasti ada rasa takut.
"Nanti Mas kirim foto sopir Mas."
Ketika sang suami mengirimkan foto sopir, Aleena menyamakannya dengan pria yang sudah berdiri di ruang keluarga.
"Iya, Mas. Sama." Barulah Aleena percaya.
Aleena membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum ke kantor sang suami. Dia ingin selalu wangi ketika bertemu dengan Rangga. Tibanya di kantor, sopir itu mengantarkan Aleena menuju ruangan sang bos.
Para karyawan begitu terpesona akan kecantikan Aleena yang begitu alami. Kulitnya yang putih. Tubuh yang begitu langsing, juga rambut hitam yang digerai indah. Penampilan Aleena sangat sederhana. Hanya memakai dress selutut berwarna cokelat dengan flat shoes berwarna krem. Tas yang digunakan pun tas selempang berukuran tidak terlalu besar. Cukup untuk ponsel dan dompet. Akan tetapi, barang yang digunakan istri dari direktur utama maskapai nasional itu bukan barang murah.
"Tunggu di sini dulu ya, Bu." Sang sopir membukakan pintu ruangan Rangga.
Setengah jam sudah Aleena menunggu Rangga..Pintu ruangan pun akhirnya terbuka. Senyum lebar terukir di wajah Rangga. Dia segera menghampiri istrinya yang terlihat bete.
"Maaf, Sayang."
Rangga memeluk Aleena dan mencium kening istrinya sangat lama. Wajah bete sang istri membuat Rangga gemas.
__ADS_1
"Lapar, Mas." Sikap manja Aleena tunjukkan dan itu membuat Rangga tersenyum. Lelah dan pusingnya dia hari ini sirna sudah ketika melihat sikap manja sang istri tercinta.
Makan siang di restoran dalam mall itulah keinginan Aleena. Dia sudah lama tidak masuk ke pusat perbelanjaan. Ketika tengah menikmati makanan yang mereka pesan, Aleena menatap suaminya yang tengah menikmati makanan lezat tersebut.
"Mas," panggil Aleena. Rangga pun menoleh. Dia menatap ke arah istrinya yang terlihat gugup.
"Kenapa, Sayang?" Rangga meraih tangan Aleena yang ada di depannya. Mengusap lembut punggung tangan putih istri yang sangat dia cintai.
"Aku sudah selesai--" Aleena menghentikan ucapannya. Terlihat dia ragu dan gugup..
"Tamu bulanan aku sudah pergi."
Sontak mata Rangga melebar. Tangannya mulai meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja. Sibuk mencari sesuatu.
"Mas--"
"Mas sudah booking hotel." Kini, tubuh Aleena yang menegang.
"Cepat habiskan makannya. Semua janji sudah Mas batalkan, dan kita langsung ke hotel."
Deg
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...