MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
99. Kamu Milik Mas, Sayang.


__ADS_3

Rangga tidak menyangka jika akan ada insiden yang tak diinginkan. Untung dia memiliki si Bocil kematian yang memiliki radar tinggi ketika ada manusia yang akan merusak kebahagiannya. Dia sangat berterima kasih kepada Abang Er.


Acara pun sudah selesai. Sepasang pengantin baru itupun sudah masuk ke dalam kamar hotel khusus untuk mereka berdua. Rangga sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya pada Aleena. Dia tahu istrinya masih sedikit marah kepadanya.


"Sayang," panggil Rangga ketika Aleena sudah mencopot flatshoes yang dia gunakan. Luka lecetnya semakin perih.


Rangga bersimpuh di hadapannya dan meraih kaki putih Aleena yang memerah. "Sakit?" Aleena mengangguk.


Tanpa Aleena minta, Rangga membawa tubuh istrinya menuju tempat tidur. "Mas, obatin, ya." Aleena menggeleng. Dahi Rangga pun mengkerut.


"Aku mau bersihin badan aku dulu, Mas."


Namun, Rangga tidak percaya begitu saja. Dia masih takut jika istrinya sedang menghindari dirinya karena kehadiran Jihan.

__ADS_1


"Sayang," panggil Rangga. Dia juga sudah menggenggam tangan Aleena. "Mas, minta maaf. Mas gak tahu kalau Ji--"


"Aku tak mempermasalahkan itu, Mas." Aleena memotong ucapan Rangga. "Tapi, aku mohon ... jangan sebut nama dia di depan aku."


Rangga mengangguk dengan cepat. Dia mencium punggung tangan Aleena dengan begitu dalam.


"Mas sangat mencintai kamu, Sayang. Hanya kamu yang akan selalu Mas cintai hingga kita menutup mata nanti." Aleena pun tersenyum. Kecupan hangat Rangga berikan di kening Aleena.


Di lantai yang berbeda dari kamar para keluarganya. Aksa sudah membooking lebih dari lima belas kamar hotel untuk anggota Golden Lion family beristirahat hingga dua hari ke depan. Aksa ingin mereka semua menghabiskan waktu bersama setelah resepsi sang putra karena sangat sulit sekali mereka berkumpul dengan formasi yang begitu lengkap.


"Lebih baik Mas dulu yang mandi. Aku masih lama," ucapnya sambil menahan kesal karena pembersihan sisa make up yang tak kunjung selesai. Aleena tidak biasa memakai make up setebal itu.


"Sun dulu," pinta Rangga dengan begitu manja. Dia sudah meletakkan dagunya di bahu Aleena.

__ADS_1


Aleena malah tersenyum dan membalikkan tubuhnya yang ada di depan meja rias. Dia mantap ke arah sang suami dengan mendongakkan kepala. Tanpa berlama , Rangga segera menyambar bibir manis Aleena. Menyesapnya dengan begitu dalam. Sungguh Aleena dibuat tak berdaya oleh suaminya. Apalagi tangan suaminya sudah tidak bisa diam dan hampir membuat dirinya bagai cacing kepanasan.


"Eunggh!!"


Tubuh yang tadi berada di kursi meja rias, kini sudah berada di atas meja rias karena ulah suaminya yang berubah ganas. Gejolak kelelakiannya sudah tak bisa terkendali.


Remasan yang begitu lembut di bagian depan membuat Aleena semakin lemah tak berdaya. Apalagi, Rangga sudah menyusuri leher Aleena yang putih. Mencium setiap inchi leher yang membuat Aleena semakin terbang ke awang-awang. Sungguh Rangga membuatnya mabuk kepayang.


"Mas--"


Aleena merasaka sesapan cukup keras di kulitnya yang membuat bulu kuduknya meremang. Rasanya dia seperti kesetrum. Tangan Rangga menyentuh hasil sesapan yang meninggalkan tanda berwarna merah.


"Kamu milik Mas, Sayang."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2