
Aksa masih berada di rumah sakit. Dia tengeh berbincang dengan salah satu rekan polisi yang ditugaskan menjaga kamar perawatan Kalfa. Tak lama berselang, suara seseorang terdengar. Aksa menoleh dan menunjukkan wajah sinisnya.
"Kamu--"
"Letakkan jari telunjuk, Anda!" bentak Aksa ketika Satria mulai menunjuk ke arahnya. Matanya sudah menunjukkan peperangan. Melihat Satria seperti melihat iblis jahat yang harus dia musnahkan..
"Ini pasti ulah kamu 'kan!" Satria pun sudah naik pitam. Jika, putranya mengalami hal buruk pasti ada Aksa di sana.
"Saya bukanlah orang jahat yang senang menyenggol orang lain. Saya juga tidak akan menyenggol jika tidak anak Anda senggol terlebih dahulu." Aksa berkata dengan berapi-api. Urat kemarahannya pun sudah terlihat jelas.
"Selalu saja menyalahkan anak saya. Padahal anak angkat kamu itu pembawa masalah." Satria tak mau kalah.
Tendangan maut Aksa berikan tepat di perut Satria. Tubuh Satria pun terjengkang dan dia mengaduh kesakitan. Beberapa polisi yang ada di sana hendak melerai, tapi dengan tegas Aksa larang.
"Jangan ikut campur!"
Bentakan Aksa pun menggema. Salah satu polisi yang merupakan rekan Aksa sudah menggelengkan kepala. Beberapa polisi itupun akhirnya mundur. Mereka cukup menjadi penonton saja.
Aksa meraih kerah kemeja Satria dan menarik tubuh pria tua Bangka itu agar berdiri. Dia menyeret Satria dan membawanya ke sebuah ruangan. Di mana sudah banyak anggota polisi juga pria berbadan kekar di dalamnya. Tanpa rasa iba Aksa mendorong tubuh Satria untuk duduk. Sungguh dia sangat emosi dan terdengar benturan keras dari tubuh Satria dengan kursi yang tersedia..
"Putar!"
Layar putih itu sudah berubah memutar cctv yang ada di bandara. Tubuh Satria pun menegang ketika melihat penusukan yang sangat cepat tersebut. Dia tahu baju yang pria itu gunakan milik siapa. Dia juga sangat tahu postur tubuh itu postur siapa. Cara berjalannya pun dia sangat hafal..
Tak hanya itu saja, lelaki berbaju hitam itu pun membawa seorang wanita yang jelas wajahnya Satria kenal. Satria sudah tidak bisa berkata. Dia sudah tidak bisa mengelak. Jika, beurusan dengan wanita itu, sudah tidak akan salah lagi.
bukan hanya itu saja rekaman CCTV di salah satu hotel pun diputar di sana. Kebejatan sang putra mulai ditunjukkan. Sungguh Satria malu melihatnya. Dia tidak menyangka jika Kalfa akan senekat itu. Cinta sudah membuat anaknya buta bahkan gila.
"ini salahku kenapa aku memberitahu dia jika Rangga sudah melamar Aleena."
Ya, ketika dia mengetahui jika Rangga melamar Aleena sudah langsung bercerita kepada Kalfa. Respon putranya pada saat itu hanya diam. Tidak ada jawaban apapun darinya. Satria kira Kalfa sudah menerima kenyataan yang ada. Ternyata dia salah.
"Apa sekarang Anda masih mau mengelak? Semua bukti sudah di tangan."
Aksa sudah meluapkan emosinya. Dia sungguh tidak terima atas perlakuan Kalfa kepada putranya. Aksa adalah tipe manusia yang memiliki emosi yang sangat tinggi. Ketika orang lain sudah membuat masalah dengannya Jangan harap dia bisa berbaik hati kepada orang tersebut. Sekalipun dia memohon hingga bersujud, Aksa tidak akan pernah mau memaafkannya dan tidak akan pernah menarik semua kata-katanya.
Satria hanya bisa diam. Mulutnya kelu, dia tidak bisa menimpali satu kata pun perkataan dari Aksara. Dia tidak menyangka jika Kalfa akan melakukan tindakan kriminal seperti ini.
"Satu hal lagi putra Anda hampir saja menodai keponakan saya. Jika, itu terjadi Saya tidak akan pernah tinggal diam dan tangan saya sendiri yang akan mengantarkan putra Anda ke tempat peristirahatan yang terakhir. Kalau perlu saya akan mengubur putra anda hidup-hidup."
Batas kesabaran Aksa hanya seperti kulit ari yang sangat tipis. Jangan pernah bermain-main dengan seorang Ghassan Aksara Wiguna karena itu akan menjadi petaka untuk siapapun yang mencoba mengusik kehidupan dari keluarganya. Sekali dia bertindak, semuanya akan hancur da. sekejap.
"Putra Anda sudah dilaporkan oleh pihak Pak Aksara ke kepolisian. Jadi, setelah putra Anda siuman maka kami berhak membawanya ke kantor polisi." Salah satu petugas menjelaskan kepada Satria yang sedari tadi seperti patung bernapas.
Pasrah hanya itu yang bisa Satria lakukan. Dia tidak menemukan jalan keluar sekarang. Otaknya sudah buntu. Tidak berpikir cerdas untuk sekarang ini.
"Jika, tidak ada hukum di negeri ini saya pastikan anak Anda sudah tidak akan pernah bisa menghirup udara di bumi ini." Ancaman yang tak main-main dari seorang Aksara.
.
Aksa tidak masuk ke dalam kamar perawatan Rangga setelah dari rumah sakit di mana Kalfa berada. Dia duduk merenung di depan kamar perawatan sang putra. Radit, dia meminta maaf atas apa yang telah terjadi pada Rangga. Dia juga mendapat surat tulisan tangan dari Aleena karena sang keponakan tak mampu berbicara langsung sekarang. Psikisnya masih sangat terguncang.
Aksa memaklumi karena sudah pasti kejadian ini akan menjadi pukulan terberat untuk Aleena. Di saat dia sudah mulai sembuh, seseorang membuat traumanya kembali lagi. Kemungkinan besar traumanya akan lebih parah.
"Dad, kenapa setelah Daddy tiada cobaan terus menimpa keluarga besar kita?"
Seorang Aksa mengeluh dengan keadaan. Sebenarnya dia lelah. Namun, dia dipaksa untuk baik-baik saja karena dia adalah orang yang diandalkan di keluarga besarnya. Jika, dia lemah sudah pasti yang lainnya akan ikut lemah. Dia tidak ingin seperti itu.
"Kak," panggil Axel.
Aksa pun menoleh. Putra dari Remon itu sudah membawa makanan karena dia tahu Aksa belum makan.
"Jaga kesehatan Kakak. Jangan sampai Kakak drop." Aksa mengangguk dan mereka makan bersama di depan kamar perawatan Rangga.
Sedang asyik menikmati makanan, perkataan Axel membuat Aksa mengentikan kunyahannya.
"Dia menanyakan Aleena."
"Aku tidak bisa memaksa Aleena. Beban mental yang Aleena tanggung sekarang sangat berat. Jika, memaksa Aleena sekarang itu akan membuat psikis Aleena semakin terguncang."
Axel mengerti dengan apa yang dikatakan Aksa. Dia juga paham Aksa sekarang ini serba salah. Di satu sisi dia adalah ayah dari Rangga dan di sisi lain Aleena adalah keponakannya.
"Saya ingin fokus pada penyembuhan Rangga saja. Banyak mimpi yang Rangga miliki dan saya tidak ingin atas kejadian yang menimpanya ini akan menghambatnya untuk meraih mimpi-mimpi besar yang dia miliki."
.
Rangga, dia yang sedari tadi terus melihat ke arah pintu hanya bisa menghela napas berat. Dia menunggu seseorang datang.
__ADS_1
"Apa dia terluka?" gumam Rangga. Ingin rasanya dia bangkit dari ranjang pesakitan. Rasa nyerinya tidak bisa dia tahan.
Suara decit pintu terbuka, Rangga berharap itu adalah Aleena. Sayangnya, Axel lah yang masuk.
"Bang, bagaimana dengan Aleena?"
Axel menghampiri Rangga. Dia menatap ke arah Rangga dengan sangat serius.
"Dia tidak kenapa-kenapa 'kan. Dia--"
"Jangan berpikir terlalu keras dulu, Ngga. Setelah kamu sembuh baru boleh bertemu dengan Aleena."
"Bang, tolong katakan padaku ... Aleena baik-baik saja 'kan." Wajah cemas terlihat jelas. Axel pun mengangguk dengan seulas senyum yang begitu tulus.
"Pulihlah dulu."
Di depan pintu kamar perawatan Rangga ada air mata yang menetes. Seorang wanita menangis dengan menutup mulutnya. Betapa lelaki itu sangat menyayanginya. Dalam kondisi seperti itupun dia masih menanyakan dirinya.
"Mas, semakin aku melihat kamu ... semakin rasa bersalah ini hadir. Maafkan aku, Mas."
Aleena pun memilih untuk pergi dari sana. Baru beberapa langkah dia berjalan seorang wanita menarik rambutnya dengan sangat kencang. Aleena benar-benar terkejut. Sedangkan wanita itu dengan tak berhati menyeret Aleena.
"Aw! Sakit!"
Tubuh Aleena dihempaskan ke dalam kamar mandi. Kepala Aleena dimasukkan ke dalam ember berisi air hingga Aleena sulit bernapas. Ditarik lagi kepala Aleena tersebut. Kemudian, dimasukkan kembali ke dalam ember berulang kali. Setelah Aleena lemas, dia meninggalkan Aleena dan sudah ada seorang pria yang menunggunya di depan kamar mandi.
"Kerja bagus!".
...***To Be Continue****...
Komen di bawah ya. Tekan paragraf ini dan silahkan komen.
Bab 59. Bagian B. (Saling Mencintai Yang Tak Bisa Memiliki)
Kemurkaan jelas terlihat di wajah Radit dan Axel. Sungguh mereka berdua mengutuk perilaku dua manusia yang senang mengganggu kehidupan Aleena. Aksa berlari ke arah Radit dan Aksa di mana mereka berdua berada di ruang IGD sekarang.
"Bagaimana dengan Aleena?"
"Masih diperiksa."
Wajah marah Aksa sangat terlihat jelas. Tangannya pun sudah mengepal keras.
Ya, Aksa sudah mengetahui rencana busuk dua manusia tersebut. Dia tidak ingin Aleena terluka dan menambah sakit psikisnya.
.
Selama Rangga dirawat di rumah sakit tidak sekalipun Aleena menjenguknya. Dari dia tidak bisa bangun hingga dia bisa duduk dan berjalan Aleena tidak pernah muncul. Sama halnya dengan Axel yang tiba-tiba menghilang.
Keluarga Rangga datang menjenguk ke rumah sakit di Jogja. Ghea terus memeluknya dengan begitu erat. Serta Agha yang sudah tak bisa berkata.
"Alhamdulillah. Mommy senang banget." Riana masih memeluk tubuh sang putra dan Rangga merasakan kehangatan dari keluarga yang sesungguhnya.
"Adek juga bahagia. Adek janji, Adek gak akan galak lagi sama Kakak." Rangga pun tertawa, tapi tawanya menyiratkan kehampaan karena ada yang kurang.
Aleena, keluarganya tak pernah membahas perihal kekasihnya itu. Terbesit tanya dalam benak Rangga sekarang, apakah keluarganya marah kepada Aleena atas apa yang terjadi padanya. Rangga ingin bertanya kepada sang ayah. Namun, dia tidak ingin merusak kebahagiaan yang tengah keluarganya rasakan.
Hingga Rangga keluar dari rumah sakit pun Aleena tidak pernah muncul. Ada rasa sedih di hatinya. Ada dua kemungkinan yang terjadi. Keluarganya yang menarik Restu atau keluarga Aleena yang menarik restunya. Ingin Rangga mencari tahu, tapi dia tidak mungkin bertindak sekarang. Axel pun sulit untuk dihubungi. Begitu juga dengan Aleena..
Menahan rindu kepada seseorang yang sangat cintai rasanya sangat berat. Hingga di suatu malam, Rangga memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kerja sang ayah. Aksa uang memang sedang ada di dalam sana menyuruh masuk.
"Ada apa, Kak? Apa ada yang kamu rasa?" Rangga tersenyum sembari menggeleng. Dia menatap lekat wajah sang ayah.
"Dad, Aleena ke mana?"
Pertanyaan yang membuat Aksa terdiam. Pertanyaan yang membuat Aksa bingung mau menjawab apa.
"Jika, dia baik-baik saja. Kenapa dia tidak menjenguk aku? Kenapa dia menghilang di saat aku sedang membutuhkan dia? Ada apa, Dad?"
Aksa menghela napas berat. Dia menatap Rangga dengan penuh rasa berat.
"Dia akan baik-baik saja tanpa kamu."
Dahi Rangga mengkerut mendengarnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang ayahnya katakan.
"Biarkan dia pergi dan kamu fokus pada mimpi kamu."
"Apa maksudnya, Dad? Apa Daddy melarang aku mencintai Aleena? Atau--"
__ADS_1
"Daddy hanya ingin kamu maupun Aleena tidak celaka. Jika, kamu terus berdua seperti ini bersama Aleena, nyawa kalian yang akan menjadi taruhan."
"Tapi, Dad. Aku mencintai Aleena, aku--"
"Lupakan dia sejenak. Kelak kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Aleena."
Rangga menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka jika ayahnya akan seperti ini. Dia sungguh kecewa kepada ayahnya.
"Jangan menyuruh aku untuk melupakan dia, Dad. Aku tidak bisa."
Ada rasa tidak tega ketika melihat Rangga terlihat sendu seperti ini. Aksa mulai berdiri dan menepuk pundak sang putra dengan begitu lembut.
"Sudah Daddy siapkan wanita yang akan menjadi pendamping kamu. Namun, tidak akan Daddy pertemukan sekarang. Belum saatnya."
"Enggak, Dad! Aku gak mau!" Rangga meninggikan suaranya.
"Aku hanya ingin Aleena."
Aksa berlalu begitu saja setelah mendengar perkataan sang putra.
"Aku maunya Aleena, Dad. Aleena!"
Semenjak dia berada di rumah sakit, keluarganya sejalan berbeda. Sekarang dia mendapatkan jawabannya. Dia sangat marah, dia kecewa
"Aarrghh!!"
Rangga mengerang kesal untuk kesekian kalinya. Keluarga yang dia anggap hangat kini malah sebaliknya.
"Kenapa kalian berubah? Kenapa?"
Di tempat yang berbeda seorang perempuan duduk di atas pasir tanpa alas apapun. Dia membiarkan kakinya disapu oleh ombak. Dia membiarkan tubuhnya kepanasan. Dua Minggu sudah dia tak bersama orang yang dia cinta. Orang yang hanya ditakdirkan untuk membuat hidupnya bahagia, tapi hanya sekejap. Dia masih ingin menikmati masa bahagia dengan orang yang masih ada di kepala. Namun, Tuhan seakan melarang. Menyuruh bahkan memaksa mereka untuk berpisah.
Ucapan lembut, pelukan hangat juga kecupan mesra kini sudah tidak bisa dia rasakan lagi. Hanya sebuah kenangan yang harus dia kubur dalam-dalam.
"Sakit lagi," lirihnya.
Di belakangnya seseorang berbadan tegap terus menatap punggung wanita yang sedang asyik merenung. Dia menatap penuh iba kepada Aleena.
"Aku sudah dijodohkan, Bang. Dan orang itu sudah memberikan cincin ini kepada Baba." Aleena menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya. Cincin dari calon suaminya
Axel masih ingat jelas betapa sedihnya Aleena ketika mengetahui kenyataan yang begitu kejam kepadanya. Kenyataan yang seharusnya tidak datang kepadanya.
"Aku masih mencintai Rangga, Bang."
Axel hanya menghela napas berat. Dia hanya bisa menatap Aleena dari belakang dan tak ingin mengganggu lamunannya yang sedang terbang. Terkadang semesta tak adil. Itulah yang terjadi pada Aleena dan Rangga. Saling mencintai, tapi tak bisa saling memiliki.
.
Sebelum dia kembali tugas, Rangga mendatangi kediaman orang tua Aleena. Echa terkejut ketika Rangga ada di hadapannya. Sekarang, Rangga sudah berhadapan dengan Radit.
"Om harap, lupakan Aleena. Dia sudah dijodohkan dengan orang yang tepat. Orang yang akan menghapus masa lalunya."
Sungguh Rangga terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Radit. Dia tidak ingin percaya, tapi Radit terus meyakinkan.
"Biarkan Aleena bahagia dengan pasangannya. Juga dengan kamu yang berhak bahagia dengan wanita beruntung yang nantinya akan menjadi ibu dari anak-anak kamu."
"Tidak, Om. Aku tidak akan pernah bisa berpaling dari Aleena. Aku senang mencintai Aleena. Sampai detik inipun Aleena masih ada di hati saya," paparnya.
"Walaupun Om bilang Aleena sudah dijodohkan dengan orang lain, saya akan terus memepet Aleena agar dua menjadi milik saya. Saya cinta sama Aleena. Apapun akan saya lakukan untuk mendapatkannya."
Rasa kecewa dan sedih pasti ada. Namun, Rangga tak akan menyerah. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk terus mencintai Aleena hingga dia melihat sendiri Aleena bahagia dengan pria lain yang memang jodohnya.
Mengudara lagi itulah yang sudah Rangga lakukan. Pria yang hangat kini berubah menjadi pria dingin. Jarang sekali ada senyum di wajah tampannya. Dia juga sekarang berubah menjadi orang pendiam yang senang menyendiri. Para rekan kerja Rangga tak bisa berbuat apa-apa. Inilah yang dinamakan waktu bisa merubah manusia dalam satu detik.
Setiap libur terbang, Rangga tidak pernah kembali ke Jakarta. Dia akan tetap berada di Jogja. Walaupun adiknya memaksa ingin bertemu dengannya, tapi Rangga tetap mengatakan tidak bisa.
Di bulan ketiga setalah tidak bersama Aleena, Rangga memutuskan untuk mencari Aleena. Dia pergi ke Jepang untuk mendatangi Reksa. Dia meminta bantuan kepada sahabat adiknya itu untuk mencari tahu perihal Aleena. Sayangnya, Reksa mengatakan jika informasi Aleena sekarang sangat sulit untuk diretas. Rangga tdiak bisa memaksa.
Di kedai ramen di mana mereka pernah pergi ke tempat itu, Rangga sedang mengingat kenangan mereka berdua. Lengkungan senyum terukir di bibirnya. Namun, sesaat kemudian wajah sendu hadir menghiasai wajah tampan Rangga. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya untuk kesekian kali.
"Apa ini tandanya aku harus melupakan kamu, Na? Tapi, aku tidak akan pernah bisa."
Rangga menunduk dalam. Di manapun dia berada dia merasa selalu didampingi oleh Aleena. Sejatinya cincin yang dia beli di mall masih setia melingkar di jari manisnya.
"Aku tidak akan pernah menganggap hubungan kita berkahir. Anggap saja kita sedang LDR."
...***Ti Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ....