MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
92. Kebahagiaan


__ADS_3

".... dengan mas kawin emas sebesar delapan ratus delapan puluh delapan gram dan uang sebesar delapan ratus delapan puluh delapan ribu delapan ratus delapan puluh delapan dollar Singapura dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Aleena Addhitama binti Raditya Addhitama dengan mas kawin tersebut tunai."


"SAH!!"


"Yeay! Tah!"


Batita itu hendak berlari ke arah Rangga. Namun, Restu sudah lebih dahulu menahan putranya. Gelengan kepala sang ayah membuat Abang Er menunduk.


"Kalau acara Om dan Onty udah selesai Abang baru boleh main sama mereka." Ketegasan sang ayah tak bisa Abang Er bantah. Batita itu hanya mengangguk.


.


Aleena memejamkan matanya karena cemas dengan ijab kabul di ruangan bawah. Aleesa mengusap lembut pundak sang kakak.


"Rangga pasti gak akan mengulang ijab kabul tersebut."


"Kata siapa?" Suara remaja lelaki terdengar. Apang datang ke kamar pengantin.


"Si Enjan ngelawak noh," adunya pada si triplets.


"Ngelawak gimana?" Aleesa tak mengerti. Aleena dan Aleeya pun menunggu penjelasan dari Apang.


"Baba baru aja ngomong saya nikahkan dan kawinkan Rangga Ardana Prayoga bin, si Enjan malah bilang sah kenceng banget. Mana ada acara tepuk tangan segala."


Si triplets malah tergelak. Sungguh anak Aleesa sangat lucu. Tidak akan ada yang berani memarahi Abang Er karena dia adalah pemilik kasta tertinggi di keluarga Addhitama, Wiguna dan Juanda. Cicit pertama dari mendiang Addhitama, Giondra Wiguna dan Rion Juanda.


Asyik berbincang, sebuah kata sah membuat si triplets dan Apang terdiam. Mereka berempat saling pandang.


"Sah, Na! Sah!" ucap Apang dengan nada bahagia.


"Iya, Kakak Na." Aleesa memeluk erat tubuh Aleena. Sedangkan Aleeya hanya tersenyum. Dia ingin memeluk tubuh sang kakak, tapi dia malu dan merasa tidak pantas.


Tak lama berselang, Jingga yang tengah menggendong putri kedua Aleesa masuk ke kamar pengantin. Menyuruh Aleesa dan Aleeya membawa Aleena duduk bersama Rangga yang sudah sah jadi suaminya.


Lengkungan senyum terus terukir di wajah ALeena. Sungguh dia sangat bahagia. Acara yang dia tunggu berjalan dengan sangat lancar tanpa adanya hambatan.

__ADS_1


Mata Rangga tak berkedip ketika melihat istrinya sangat cantik dalam balutan kebaya putih modern. Senyum yang begitu tulus dan penuh kebahagiaan terukir jelas di wajah Aleena.


"Jemputlah istri kamu, Ngga."


Suara ayah mertua terdengar. Rangga menatap wajah Radit yang sudah melengkungkan senyum bahagia. Kepalanya pun mengangguk pelan. Rangga mulai berdiri dan melangkahkan kaki menuju sang istri yang tengah diapit oleh dua adiknya.


Rangga mengulurkan tangan kepada Aleena dan disambut oleh wanita yang sangat cantik itu. Senyum di wajah keduanya tak pernah pudar. Tamu undangan pun terlihat sangat kagum kepada pengantin baru tersebut. Wajah mereka sangat mirip dan termasuk pasangan yang sangat sempurna. Tampan dan cantik.


Rangga memasangkan cincin kawin yang jauh lebih indah dan mahal dari sebelumnya. Aleena tak menyangka jika cincin yang dia inginkan, yakni cincin limited edition mampu Rangga dapatkan. Aleena menatap ke arah Rangga dengan wajah yang berbinar.


"Mas tidak akan pernah mengingkari janji Mas. Apapun yang kamu inginkan akan Mas wujudkan."


Radit dan penghulu yang masih ada di depan mereka berdua pun mendengar ucapan Rangga. Mereka berdua hanya tersenyum. Radit benar-benar sangat lega. Akhirnya Aleena mendapatkan lelaki yang sangat mencintainya dengan begitu tulus. Beban berat yang Radit emban kini berangsur menghilang.


Mereka berdua pun berfoto dengan menunjukkan buku nikah yang sudah mereka berdua pegang di tangan masing-masing. Raut bahagia pengantin baru sangat jelas terlihat. Di sana pun ada seorang laki-laki yang tak berani melihat kebahagiaan mereka berdua. Dia memilih berada di pos keamanan sedari tadi. Bahagianya Aleena pasti akan menimbulkan kesakitan yang tak dia inginkan.


Tengah asyik bermain game di ponsel, suara seseorang membuat dia menoleh. Perempuan yang terlihat sangat cantik mengenakan kebaya berwarna taro.


"Dipanggil bapak lu."


Perempuan itu hanya berkata seperti itu. Lalu, kembali menuju rumahnya yang tengah ramai. Khairan beranjak dari tempatnya menyusul si perempuan tadi. Dia menarik tangan Aleeya hingga langkah Aleeya terhenti dan menatap ke arahnya.


Mata Aleeya mulai sendu. Namun, bibirnya mencoba untuk dia lengkungan.


"Apakah lu merasakan hal yang sama kayak yang gua rasakan?" Khairan menatap lamat mata Aleeya.


"Sedih, di saat semua orang merasakan kebahagiaan ini." Aleeya tersenyum. Lalu, kepalanya mengangguk kecil.


Khairan menghembuskan napas panjang. Ternyata dia tidak sendiri dalam keadaan seperti ini. Tanpa dia sadari dia menarik tangan Aleeya menuju tempat di mana kebahagiaan itu terasa. Semua mata tertuju pada Khairan dan Aleeya. Apalagi tangan Khairan berada di pergelangan tangan Aleeya.


"Ehem!"


Deheman ketiga anak Askara membuat Khairan dan Aleeya menukikkan kedua alis mereka. Aleeya mulai melihat ke arah bawah dan ternyata tangan Khairan tengah memegang tangannya. Segera dia gibaskan dan Khairan pun baru tersadar dan membuat dia sedikit mundur ke belakang.


"Gak akan lama lagi pesta pernikahan si bungsu nih." Aska sangat senang menggoda Aleeya dan Khairan. Dia juga sangat bahagia melihat keponakannya itu marah. Lucu di matanya.


Sedangkan sang pengantin pria sudah menggendong Abang Er. Sontak salah satu teman Rangga berdecak.

__ADS_1


"Udah kayak duda anak satu lu." Mirza sudah membuka sungutan.


Mas Agung sedang berbincang dengan ayah dari si Bocil kematian. Wajah Mas Agung terlihat sangat segan kepada Restu. Padahal usia Mas Agung satu tahun lebih tua dari Restu. Yanuar malah asyik mengobrol dengan Rio dan Rindra.


"Keluarga lu ternyata bukan keluarga sembarangan ya, Na." Aleena hanya tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut Mirza.


"Orang berpengaruh semua." Mirza menggelengkan kepala.


"Itulah alasan kenapa gua bekerja keras untuk memantaskan diri supaya bisa sepadan dengan keluarganya."


"Tapi, tetep lu kalah jauh dari Restu Ranendra," bisik Mirza kepada Rangga.


"Itu mah jangan dibandingin lah. Jauh atuh gua mah."


Aleena mencubit perut lelaki yang belum setengah jam menjadi suaminya. Dia menatap tidak suka ke arah Rangga karena ucapannya.


"Emang benar 'kan, Sayang. Kak Restu itu gak bisa ditandingi. Dari segi materi pun Mas mah kalah jauh," jelas Rangga.


Mirza setuju dengan ucapan Rangga. Pengusaha muda yang sangat disegani adalah Restu Ranendra. Pengusaha senior yang disegani adalah Ghassan Aksara Wiguna yang tak lain adalah paman dari Restu Ranendra.


"Udah ah, gak boleh ngebanding-bandingin begitu. Kalau Baba dengar Baba bisa marah karena Baba tidak pernah membedakan." Rangga tersenyum dan menarik Aleena ke dalam pelukannya yang tengah menggendong Abang Er.


"Iya, Sayang." Kecupan hangat dia berikan di pelipis Aleena dan itu membuat Mirza berdecak kesal.


"Senang banget sih lu mesoem di depan single man kayak gua."


"Idih ... Single man katanya. Bilang aja sih jomblo karatan."


"Siyalan!!"


Plak!


"Aduh!" Suara Mirza terdengar.


"Abang!" tegur Aleena karena tangan mungil itu sudah memukul bibir Mirza.


"Dak oyeh bilan cialan."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2