
Hari berganti Minggu. Minggu berganti Bulan. Tak terasa sudah enam bulan Rangga dan Aleena tidak berjumpa. Rangga masih dengan perasaannya yang sama. Dia sama sekali belum bisa melupakan Aleena. Cintanya seperti tak lekang oleh waktu. Dia juga menganggap jika hubungannya tak pernah putus dengan Aleena karena tidak ada obrolan ataupun kata putus di antara mereka berdua.
Setiap dia libur terbang, dia akan pergi ke negeri kanguru. Dia memang belum bertemu dengan Aleena, tapi jika berada di negeri itu dia seperti dekat dengan Aleena. Dia hanya akan menikmati waktu duduk manis di depan pusara kakeknya Aleena. Di sana dia merasa sangat tenang. Menikmati suasana tenang dengan hembusan angin laut yang membuat hati semakin damai. Namun, tak menghilangkan rasa sedih yang bersarang di hatinya.
Seperti sekarang ini, Rangga sudah duduk di depan pusara Giondra Aresta Wiguna. Dia mengusap lembut nisan tersebut, Bibirnya melengkungkan senyum. Namun, hatinya tak kunjung merasa bahagia setelah dia tidak bertemu sama sekali dengan Aleena semenjak kejadian di bandara Jogja.
""Opa, aku datang lagi." Rangga tersenyum dan mengusap lembut Nisan tersebut.
"Jangan bosan ya kalau aku sering curhat di sini. Hanya opa yang mau mendengarkan aku."
Rangga terdiam sejenak. Dia merasa ayahnya kini berbeda. Dia seakan terus mengumandangkan tentang perjodohannya dengan wanita yang sama sekali tidak dia kenal. Wanita yang selalu ayahnya sebut sebagai ibu dari anak-anaknya kelak. Ingin rasanya dia menimpali jika ayahnya terus berkata seperti itu. Akan tetapi, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka.
Rangga menghela napas berat. Dia menatap lurus ke arah lautan yang membentang di depannya. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Bukannya Daddy tidak mau mendengarkan aku, tapi Daddy sekarang berbeda, Opa." Dia mengeluarkan semua isi hatinya tanpa terkecuali. Dia seperti anak kecil yang tengah mengadu kepada kakeknya tentang sikap ayahnya.
Dia juga menceritakan semua yang tengah dia rasakan yang didominasi dengan kesedihan dan keterpurukan.
"Aku mencoba baik-baik saja di tengah hati yang teramat sakit. Aku mencoba untuk tersenyum, di tengah rasa kecewa yang memenuhi hatiku." Kini Rangga sudah memeluk kedua lututnya. Hembusan angin membuat Rangga memejamkan matanya sejenak, dan malah senyum Aleena yang hadir.
"Di mana kamu, Na. Aku sangat merindukan kamu." Rangga berbicara dengan mata yang tertutup.
"Aku merindukan cucu Opa." Rangga masih menutup matanya.
"Apa aku tidak pantas untuknya?" Kini, matanya sudah dia buka. "Apa aku tidak layak bersanding dengannya?"
Hembusan napas kasar pun keluar dari mulut Rangga. Rangga yang hangat dan selalu ceria kini berubah drastis. Dia akan menjadi Rangga seperti biasanya jika di depan keluarganya. Namun, jika dia seorang diri inilah Rangga yang sesungguhnya.
Setiap kali Rangga pergi ke pusara Giondra. Banyak hal yang dia ceritakan. Dia seakan menumpahkan semua unek-unek di hatinya. Dia tidak mungkin membeberkan perasannya kepada ayah atau ibunya. Dia tidak ingin melihat mereka sedih. Dia sangat tahu semua orang tua di dunia ini menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Tak terasa senja sudah mulai datang. Burung-burung pun sudah berbondong-bondong kembali ke sarang. Namun, Rangga masih betah di sana sambil menikmati senja yang sangat indah. Dia enggan untuk beranjak. Tubuhnya seakan berat untuk digerakkan.
Akhirnya, dia memaksa untuk beranjak dari sana. Tubuhnya membeku dan merasakan sesuatu. Bayang wajah Aleena kembali hadir. Bibir Rangga pun melengkung dengan cukup sempurna.
"Apa kamu ada di sini, Sayang?"
Rangga mulai mencari ke segala arah. Berharap jika Aleena ada di sana. Akan tetapi, itu hanya sebuah bayang semu saja. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya jejeran pusara yang ada.
"Sebegitukah aku merindukan kamu, Sayang?".
Ada tubuh yang membeku ketika mendengar panggilan sayang tersebut. Ada mata yang berembun mendengar panggilan yang begitu enak didengar.
"Tuhan, hanya satu pintaku sekarang," ucap Rangga.
"Pertemukan aku dengan Aleena. Aku ingin melihat wajahnya dan memastikan dia baik-baik saja."
Air mata menetes begitu saja di pelupuk mata seorang wanita. Dia sekuat tenaga untuk tidak terisak. Hatinya sangat perih mendengar kalimat tersebut. Dia pun memilih untuk pergi dari sana karena dia tidak tega melihat pria yang masih berdiri di samping pusara
.
Aleena tidak bisa terpejam sama sekali. Bayang tubuh pria sudah masih memutari kepalanya. Terlihat tubuhnya sedikit kurus. Dia pikir enam bulan berlalu dia akan bisa melupakan pria itu. Ternyata tidak. Begitu juga dengan pria itu yang masih setia. memakai cincin yang kini dia pakai sebagai liontin..
Namun, dia kini melihat ke arah jari manisnya yang sudah melingkar cincin berlapiskan berlian. Cincin yang katanya dari pria yang sudah dijodohkan dengannya. Ingin rasanya dia mencopot cincin di jari manisnya itu. Akan tetapi, sang ayah sudah mengamanatkan jika dia harus terus memakai cincin itu sampai bertemu dengan calon suaminya.
Atas kejadian di Jogja Aleena kembali trauma. Psikisnya terguncang dan selama lima bulan dia tidak mau keluar rumah. Setiap dia bertemu dengan lelaki berpakaian serba hitam, memakai topi, juga bermasker dia merasa takut. Namun, ketakutan itu perlahan mulai menghilang. Aleena bisa melawan dan itu berkat bantuan Axel yang selalu membantu Aleena.
Tadi pun kali pertama dia pergi ke luar rumah selama dia kembali ke Sydney. Dia tidak menyangka jika dia bisa melihat lelaki yang pernah membuat hidupnya berwarna walau hanya sebentar. Jika, Aleena menuruti egonya sudah pasti dia akan menghampiri Rangga. Namun, dia tidak mau menyakiti Rangga dengan kenyataan jika dia sudah dijodohkan.
Alasan Aleena mau menerima perjodohan itu karena dia merasa tidak pantas untuk Rangga. Dia hanya pembawa sial untuk Rangga jika terus bersama. Lebih baik dia yang meninggalkan Rangga agar tidak selalu dilanda kesialan jika mereka terus bersama.
Ketukan pintu terdengar. Aleena sedikit terkejut dan dia mulai melihat ke arah jam dinding. Sudah jam satu pagi dan.dia tahu itu pasti Axel. Benar saja, ketika dia membuka pintu Axel sudah berdiri depannya dengan menggunakan piyama lengkap.
"Tidurlah! Udah malam."
Axel semakin ke sini seperti cenayang. Dia sangat peka dengan keadaan Aleena.
"Belum ngantuk, Bang."
__ADS_1
Axel mengusap lembut ujung kepada Aleena. Dia pun tersenyum sebelum membuka suara.
"Belum ngantuk apa masih keinget sama yang tadi?"
Candaan Axel membuat Aleena terdiam. Wajahnya berubah sendu. Axel dapat melihat itu.
"Ketika aku ingin melupakannya ... kenapa dia malah ada di hadapanku? Kenapa, Bang?"
"Itu sebuah kebetulan yang mungkin Tuhan berikan dengan sengaja."
...***To Be Continue***...
Tekan yang lama di paragraf ini, terus komen ya sebelum.baca yang bawahnya.
BAB 57 BAGIAN B. (PERPISAHAN DI PUSARA)
Di kala fajar belum muncul, Aleena sudah berada di pusara sang kakek. Dia sangat merindukan kakeknya. Merindukan bercerita dengannya ditemani suara deburan ombak yang syahdu dan hembusan angin yang semakin membuat suasana semakin nyaman.
"Opa, Kakak Na datang." Alina berkata dengan nada lirih.
Dia terdiam sejenak. Dia menatap pusara sang kakek dengan mata yang berembun. Ada kesedihan di sana. Ada kesakitan yang kini dia tunjukkan di depan orang yang selalu menyayanginya dengan penuh ketulusan.
"Maaf, Kakak Na baru bisa ke sini. Kakak Na hancur lagi Pipo. Masih orang yang sama yang menghancurkan mental dan psikis Kakak Na. Dia laki-laki ba jingan yang berusaha menodai Kakak Na." Tak ada kata sedih di sana.
Aleena sudah kuat sekarang karena terus ditempa oleh Axel. Lelaki yang menganggap Aleena seperti adiknya itu selalu menguatkan Aleena di saat Aleena terpuruk. Dia juga tak pernah sedikit pun meninggalkan Aleena. Setiap tangis Aleena dia tahu. Setiap aduan Aleena dia pasti mendengarkan dan setiap kali Aleena terjatuh, dia siap untuk mengulurkan tangan. Membantunya terbebas dari trauma yang sudah merubah dirinya.
"Dan Pipo tahu, bukan hanya Kakak Na yang terluka. Lelaki yang dekat dengan Kakak Na pun kena imbasnya. Bukankah dia sangat kejam, Pipo?" Kini, suara Aleena sudah bergetar. Setiap kali menyebut nama Rangga hatinya akan perih. Dia tidak ingin berpisah. Namun, sebuah keadaan yang memaksanya untuk melupakan.
Dia teringat akan kalimat yang diutarakan sang paman kepadanya. Kalimat yang membuatnya tersenyum sekaligus hancur.
"Na, tolong lupakan Rangga. Dia sudah Uncle jodohkan dengan seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya."
Di saat traumanya hilang dan psikisnya sembuh, ada sebuah kesakitan yang menghampirinya.
"Kamu juga sudah dijodohkan dengan lelaki lain 'kan. Malah ayah dari calon suami kamu sudah lebih dulu mengikat kamu dengan sebuah cincin."
Seketika mulut Aleena kelu. Dia tidak bisa berkata apapun. Hatinya langsung hancur berkeping mendengarnya. Ya, cincin pria lain memang sudah melingkar di jari manisnya. Namun, hatinya masih tertuju pada sosok laki-laki yang telah memberikan cincin yang kini menjadi liontin kalung yang dia gunakan.
Itulah ya g sedang Aleena rasakan. Memang sudah tidak ada air mata, tapi hatinya sakit tak terkira. Sudah tidak ada yang mendukung hubungannya dengan Rangga. Sudah tidak ada Restu untuk mereka berdua.
"Apakah ini bertanda jika aku memang harus melupakannya?"
Aleena menghela napas kasar. Dia mengusap lembut nisan bertuliskan nama sang kakek.
"Pipo, kenapa Pipo gak bilang dari awal jika Kakak Na sudah dijodohkan dengan lelaki lain? Kenapa ketika Kakak Na sudah mencintai orang lain, orang yang menyembuhkan trauma pertama Kakak Na Opa baru mengatakannya? Kenapa, Pipo? Apa Pipo tidak merestui hubungan Kakak Na dengan Rangga?"
Kepala Aleena pun tertunduk. Matanya sudah terasa panas dan tetesan bulir bening pun membasahi wajahnya.
"Tidak bolehkan Kakak Na mencintai Rangga?" Pelan sekali kalimatnya.
Tak ada suara lagi di sana. Hanya hembusan angin yang menusuk ke tulang karena hari masihlah gelap. Namun, Aleena memaksa untuk tetap ke pusara sang kakek.
Axel yang memperhatikan Aleena dari jarak sepuluh meter hanya dapat menghela napas kasar. Sudah pasti Aleena akan menangis jika datang ke tempat ini. Apalagi semalam Aleena berkata dengan mata yang berkaca.
"Sekarang, Kakak Na sudah pasrah Pipo. Baik Uncle, Baba juga Pipo sudah tidak memberikan restu untuk hubungan Kakak Na dan Rangga. Kakak Na menyerah. Kakak Na akan mengikuti semua keinginan kalian. Kakak Na sudah lelah menangis dan sedih. Semoga pilihan Pipo tidak salah dan tidak membuat Kakak Na kecewa."
Cukup lama Aleena duduk di samping pusara sang kakek. Dia hanya menatap.lurus ke depan di mana lautan luas membentang. Menanti fajar datang yang mengeluarkan cahaya indah.
Satu per satu burung mulai keluar dari sarang. Aleena tersenyum dan menatap ke arah awan yang perlahan diterangi cahaya fajar. Suara pesawat terdengar dan hatinya mencelos..
"Apa kamu di sana, Ngga?"
Dia menatap ke arah pesawat yang terbang di langit. Matanya mulai nanar dan air matanya ingin terjatuh. Dia pun memejamkan mata untuk sejenak. Tak dia sangka air mata menetes membasahi wajahnya.
"Aku janji, ini air mata terkahir untuk kamu, Ngga. Aku akan melupakan kamu. Walaupun itu sulit untuk aku."
Aleena mulai bangkit dari samping pusara sang kakek. Dia kembali mengusap nisan bernama Giondra dan berkata, "Kakak Na pulang dulu ya, Opa. Makasih sudah mendengarkan cerita Kakak Na pagi ini."
__ADS_1
Ketika dia membalikkan tubuhnya, seseorang yang dia kenal sudah berada di belakangnya. Memakai pakaian serba hitam dengan topi yang ada di kepala. Tubuh Aleena menegang dan matanya kembali berembun. Mereka berdua hanya saling pandang dengan sorot mata penuh kerinduan. Hingga bulir bening menetes membuat lelaki itu segera berhambur memeluk tubuh Aleena.
"Mas merindukan kamu, Sayang."
Kalimat yang membuat tangis Aleena semakin pecah. Kalimat yang membuat air mata Aleena semaki deras. Ingin rasanya dia menolak pelukan dari Rangga. Akan tetapi, kehangatan yang Rangga berikan menginginkannya untuk tetap berada di dalam dekapannya.
"Akhirnya, kita bisa bertemu." Rangga hendak mencium ujung kepala Aleena, tapi segera Aleena mendorong tubuh Rangga dengan air mata yang berlinang.
"Maaf, Ngga. Tolong jangan lakukan itu."
Suara yang Rangga rindukan kini terdengar. Dia mengerutkan dahi ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aleena.
"Ada hati yang harus aku jaga."
Deg.
Aleena mengingatkannya pada perjodohan siyalan. Perjodohan yang membuat Restu sudah di tangan kini hilang dan menjadi angan.
"Tolong lepaskan aku, Ngga."
Rangga menggeleng dengan cepat. Dia tidak bisa berkata, tapi dia tetap memandangi wajah Aleena yang penuh dengan air mata.
"Aku sudah dipinang oleh orang lain. Aku sudah dijodohkan oleh Pipo."
"Persetan dengan perjodohan itu!"
Baru kali ini Aleena mendengar kalimat umpatan dari seorang Rangga. Aleena tercengang.
"Kenapa harus ada perjodohan di saat aku dan kamu sedang berbahagia? Kenapa kamu menghilang di saat aku membutuhkan sokongan dari kamu? Kenapa, Na?"
.Mimik wajah Rangga sudah berubah. Ada keingintahuan yang mendalam dari sorot matanya katakan.
"Jawab aku, Na! Jawab!"
Hati Aleena sangat sakit ketika mendengar bentakan kecil dari Rangga. Namun, sekuat tenaga dia harus kuat dan tidak terbawa emosi.
"Tuhan sayang kepada kita. Tuhan tidak ingin melihat kamu terus terluka jika bersama aku karena Tuhan tahu aku ini bukan yang terbaik untuk kamu. Aku hanyalah malapetaka untuk kamu."
Rangga pun menggeleng. Sedangkan Aleena sudah melengkungkan senyum kecil dan mampu Rangga lihat.
"Ada luka yang membuat aku menghilang. Ada trauma yang membuat aku harus menjauh dari kamu. Ada sakit yang aku tahan ketika aku menjauhi kamu. Aku juga butuh dukungan kamu pada saat itu, tapi ketika semesta sudah tak berpihak kepada kita ... apa aku harus tetap memaksa?"
Tangan yang melingkar di pinggang Aleena pun mulai terlepas. Kalimat yang Aleena katakan sangat menyentil.hati Rangga. Aleena memang sangat lancar menjawab itu, tapi raut wajahnya tidak bisa berdusta. Ada sedih yang dia tahan. Ada sakit yang dia pendam dan ada air mata yang sekuat tenaga dia bendung.
"Tolong, lupakan aku. Aku menghargai orang ini." Aleena menunjukkan cincin di jari manisnya. Rangga melebarkan mata ketika melihat bukan cincin pemberian darinya lah yang Aleena pakai Sedangkan cincin yang ada di jari manis Rangga adalah cincin pasangan yang dia beli sebelum mereka terbang ke Jakarta enam bulan yang lalu.
"Apa semudah itu kamu melepaskan cincin yang aku berikan. Apa semudah itu kamu melupakan aku? Sedangkan aku sangat susah untuk melupakan kamu."
Aleena terdiam. Dia menatap dalam wajah Rangga. Mulutnya kelu dan tidak sanggup untuk berkata lagi. Melihat Rangga yang seperti ini membuat Aleena tidak tega. Dia sangat melihat jika Rangga sangat terluka.
Tangan Aleena sudah menangkup pipi Rangga. Dia tersenyum dengan mata yang sudah menahan tangis.
"Lupakan aku dan letakkan perasaan kamu. Kamu berhak bahagia."
"Aku inginnya kamu, Na." Tangan Rangga sudah menyentuh punggung tangan Aleena yang ada di pipinya.
"Jangan pernah memaksa untuk bersama ketika semesta sudah tak memihak. Aku tidak ingin semesta murka dan merusak kebahagiaan yang harusnya kita raih." Aleena berkata dengan sangat lembut.
"Sekarang, tolong lupakan aku. Kita cari kebahagiaan kita masing-masing Karena kita ditakdirkan untuk tidak bersama."
Sorot mata mereka berdua menyiratkan kesedihan yang mendalam. Aleena memberanikan diri untuk mencium kening Rangga dengan sangat dalam. Hingga Rangga memejamkan matanya.
"Aku pergi ya, Ngga. Tolong lupakan aku." Senyum perpisahan Aleena tunjukkan. Rangga ingin melarang Aleena untuk pergi, tapi tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan. Aleena pun semakin menjauh.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKAN KAMU, NA. KAMU AKAN TETAP MENJADI SATU-SATUNYA PEREMPUAN DI HATI AKU. DAN AKU TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MENCINTAI KAMU SEBELUM AKU MELIHAT LANGSUNG PRIA YANG AKAN MENJADI SUAMI KAMU."
Aleena mendengar kalimat itu dan tak terasa air mata sudah mengalir deras dengan langkah yang semakin menjauhi Rangga yang masih berada di pusara sang kakek..
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...